[Jepang: serba-serbi] Toleransi

[1] Tadi dapat email dari pemberi beasiswa. Besok adl waktu presentasi terakhir di sana, sekaligus pesta perpisahan. Dan karna saya dari Indonesia, mungkin mereka pikir saya muslim, mereka pun bertanya: “Titik, makanan apa yg perlu kami siapkan untukmu? Kamu tidak makan daging babi bukan? Sushi, sashimi, atau makanan Jepang tidak papa?”. Dan ini bukan kali pertama tapi seringkali terjadi setiap diundang party/makan siang/makan malam oleh orang Jepang.

[2] Saya sering makan siang di warung makan depan kampus. Warung itu menjual ikan dimasak beraneka masakan. Disajikan satu set dengan sayur, miso sup, dan semacam acar. Suatu hari saya pergi dengan kawan saya yang mengenakan jilbab. Ternyata ikan kami tertukar (kami pesan jenis masakan ikan yang berbeda). Lalu saya ingin menukar nampan saya dengan nampannya. Tetapi oleh pelayan dilarang dan dia hanya menukar piring ikan kami. Ah ya..kami pikir itu memang lebih mudah ketimbang menukar satu set. Lalu ketika makan, saya dapati di mangkuk sayur ada campuran dagingnya. Lalu saya bilang ke teman saya: “eh, sayurnya ada dagingnya lho”. Dia pun mengaduk-aduk sayurnya, mengecek apa benar ada dagingnya atau tidak. Dan ternyata di mangkuk sayurnya tidak ada dagingnya sama sekali. Kami lalu mengerti kenapa pelayan tadi tidak mengizinkan kami menukar satu set nampan, karna dia telah membedakan menu yang untuk saya dan menu yang untuk kawan saya yang berjilbab tadi.

Puji Tuhan, orang Jepang memberi toleransi yang begitu besar kepada pemeluk agama yang berbeda.