Di bawah sinar bulan purnama

20130328-122813.jpg

melaju di atas dua roda….
menapaki ruas-ruas yang pernah terlalui..
mengungkap kenangan yang masih terekam di ingatan..
tertawa…
saat bersama, kita merasa kembali muda…

20130328-122826.jpg

di sudut itu dulu aku …
di tempat itu biasanya kamu..
dulu daerah ini tak begini…
semua yang telah berubah..
tetapi kamu..masih tetap sama..seperti sebelumnya…

20130328-122839.jpg

bulannya indah, katamu..
dia memberi restu untuk kita mengulang cerita lalu…

20130328-122854.jpg
terima kasih kamu..
yang tak pernah jemu menampung ceritaku..
tanpa banyak bertanya..
hanya setia…

Pelarian?

senja di pelarian

Saat jenuh datang, berlari melepas pikiran dan perasaan ke perairan tak jauh dari asrama sering kali kulakukan. Kadang berlari dalam makna sesungguhnya, kadang juga bersepeda. Daerahnya memang sepi, di ujung jalan belakang asrama yang terhenti sebelum berganti jalan bebatuan. Kadang hanya duduk bermain air, menyulam, atau memotret pantulan cahaya di air. Yang penting berlari dari rutinitas.

#hampir saja lupa submit foto untuk Turnamen Foto Perjalanan Ronde ke-16 di blog mas Febry.

[Jepang: kilasbalik] Semua berawal dari sini..

Ada yang bertanya: gimana ceritanya bisa sampai ke Jepang? Setiap ditanya begitu, saya hanya bisa menjawab: “semua karna anugerah-Nya”. Iya, semua semata-mata karna anugerah-Nya. Saya tidak pandai, juga bukan pencari beasiswa yang getol mencari ke sana-sini. Memang saya punya cita-cita study lanjut, kalau bisa ke luar negeri. Meskipun saya sempat ragu-ragu juga mengingat usia Bapak yang sudah sepuh, saya takut ninggalin Bapak lama-lama & jauh pula. Tetapi ketika Bapak dengar keinginan saya (entah dari siapa beliau dengar, mungkin dari kakak), ternyata Bapak sangat mendukung. Saya waktu itu memang sedang rajin les bahasa Inggris & bolak-balik nyoba tes TOEFL supaya nyampai untuk apply beasiswa ke selatan atau ke barat (see?! betapa tidak pandainya saya :D). Pengennya sebenernya yang ke barat, karna waktu S1 skripsi saya tentang metode pembelajaran yang dikembangkan di barat sana. Jadi pengen lanjut mempelajari itu. Tapi karna yang di barat syaratnya lebih berat (menurut saya), coba yang selatan saja lah. Begitu pikir saya waktu itu.

Sekitar bulan Juni 2010, ketika saya sedang rajin-rajinnya mengumpulkan syarat mendaftar beasiswa ke selatan, saya dipanggil Kasubbag Kepegawaian. Ternyata saya dipilih oleh kantor untuk mendapat beasiswa study lanjut dari kantor. Puji Tuhan, ini semua anugerah-Mu, Tuhan. Mendapat beasiswa dari kantor artinya study lanjut di dalam negeri. Dan kantor merekomendasikan untuk mengambil di UNY karna dekat dengan kantor. Sewaktu-waktu kantor membutuhkan saya, saya bisa dihubungi dengan mudah. Saya terima dengan bahagia. Lalu mencari informasi pendaftaran S2 di UNY. Ternyata sudah tutup pendaftarannya. Saya beralih ke UNS Solo, masih sama dekatnya kan? Masih buka pendaftarannya. TAPI, kantor tetap menginginkan saya di Jogja, bukan di Solo 😀 . Waktu itu hari Jumat pagi, bos saya masih berusaha melobi kampus supaya mengizinkan saya mendaftar, kalau gagal baru besok Senin saya boleh ke Solo di mana hari Selasa atau Rabunya (lupa saya pokoknya sudah mepet) adalah pendaftaran terakhir di UNS. Sampai waktu pulang kantor belum juga ada kabar. Akhirnya saya pulang.

Sepulang dari kantor setelah beristirahat, saya pergi ke toko elektronik. Sebentar lagi bulan puasa datang. Anak kost geger minta kakak tertua beli lemari es untuk menyimpan sayuran dkk untuk sahur dan berbuka. Sebagai kakak yang baik, saya iyakan saja. Jadilah sore hari saya ke toko elektronik. Sedang melihat-lihat dan bertanya-tanya pada pelayan, HP berdering. Bu bos. Ah, ada kabar tentang usahanya melobi nih, pikir saya. Ternyata tidak. Bu bos malah mengabarkan ada beasiswa dari Jepang melalui JICA yang ditawarkan ke kantor dan beliau ingin saya mengambil kesempatan itu. Hah??!! Shock saya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya daerah utara ini. Bu bos ingin jawaban dari saya saat itu juga. Karna kalau saya mau mengambil kesempatan itu berarti saya harus melepas beasiswa dari kantor dan kantor harus segera mencari kandidat lain karna pendaftaran mahasiswa baru di Solo pun akan segera berakhir. Duh, bagaimana ini? Saya minta waktu untuk berpikir. Di toko elektronik saya duduk lemas. Sahabat saya yang pergi bersama saya bertanya-tanya. Lalu saya ceritakan telpon barusan dan dia meyakinkan saya untuk mengambil kesempatan itu. Tapi kalau nanti aku gak lulus seleksi, hilang semua donk beasiswanya, kata saya. Pasti bisa! Kamu pasti bisa! katanya. Lagipula kalau tidak dapat beasiswa dari kantor, kamu juga coba apply ke barat & selatan kan? Hmm..iya juga ya. Saya memantapkan hati. Dalam nama Tuhan Yesus. Dengan gemetar saya kirim sms ke Bu Bos: “nggih Bu, saya ambil”. Sent. Delivered.

Mood membeli lemari es lenyap sudah. Pulang yuk, mampir depan TVRI beli duren ya..! Dan saat sahabat saya milih duren, saya menelepon rumah minta pendapat (telat ya, udah kadung kirim sms ke bu bos. Hehe..). Puji Tuhan Bapak & keluarga yang lain pun mendukung. Lega…..banget rasanya. Saya pun menikmati duren. Dan duren malam itu menjadi terasa sangat-sangat nikmat……

[bersambung]

[Jepang: serba-serbi] Toleransi

[1] Tadi dapat email dari pemberi beasiswa. Besok adl waktu presentasi terakhir di sana, sekaligus pesta perpisahan. Dan karna saya dari Indonesia, mungkin mereka pikir saya muslim, mereka pun bertanya: “Titik, makanan apa yg perlu kami siapkan untukmu? Kamu tidak makan daging babi bukan? Sushi, sashimi, atau makanan Jepang tidak papa?”. Dan ini bukan kali pertama tapi seringkali terjadi setiap diundang party/makan siang/makan malam oleh orang Jepang.

[2] Saya sering makan siang di warung makan depan kampus. Warung itu menjual ikan dimasak beraneka masakan. Disajikan satu set dengan sayur, miso sup, dan semacam acar. Suatu hari saya pergi dengan kawan saya yang mengenakan jilbab. Ternyata ikan kami tertukar (kami pesan jenis masakan ikan yang berbeda). Lalu saya ingin menukar nampan saya dengan nampannya. Tetapi oleh pelayan dilarang dan dia hanya menukar piring ikan kami. Ah ya..kami pikir itu memang lebih mudah ketimbang menukar satu set. Lalu ketika makan, saya dapati di mangkuk sayur ada campuran dagingnya. Lalu saya bilang ke teman saya: “eh, sayurnya ada dagingnya lho”. Dia pun mengaduk-aduk sayurnya, mengecek apa benar ada dagingnya atau tidak. Dan ternyata di mangkuk sayurnya tidak ada dagingnya sama sekali. Kami lalu mengerti kenapa pelayan tadi tidak mengizinkan kami menukar satu set nampan, karna dia telah membedakan menu yang untuk saya dan menu yang untuk kawan saya yang berjilbab tadi.

Puji Tuhan, orang Jepang memberi toleransi yang begitu besar kepada pemeluk agama yang berbeda.