Flash mob

Ada yang suka nonton video di youtube? Pernah nonton flash mob? Eh, apa itu flash mob, Tik? Lho, ndak tau juga? Sama donk kaya saya #nyengir :mrgreen: . Tapi jaman canggih gini, apa sih yang ndak bisa dicari di gugel? Jodooooh!! Eits, nyamber aja si ni tetangga. OK..OK..saya pun nyari definisi flash mob itu di wiki, kamus yang ada di laptop, dan kamus yang ada di ponsel saya. Niat banget ya? Biarin… 😀

Menurut wikipedia, flash mob itu… kukutip sesuai aslinya ya.. kopas maksudnya :mrgreen:

A flash mob (or flashmob) is a group of people who assemble suddenly in a place, perform an unusual and seemingly pointless act for a brief time, then disperse, often for the purposes of entertainment, satire, and artistic expression. Flash mobs are organized via telecommunications, social media, or viral emails.

Menurut kamus CALD3 di laptop saya:

flash-mob , flash mob /ˈflæʃ.mɒb/ /-mɑːb/ noun [ C ]
a group of people who agree to come together suddenly in a place and do something funny or silly and then move away.

Menurut kamus di ponsel saya:

a sudden mass gathering, unanticipated except by participants who communicate electronically.

Sudah ada tiga definisi dari sumber yang berbeda. Jadi sudah jelas kan ya? He’em, flash mob itu sekumpulan orang yang suddenly/tiba-tiba/ujug-ujug/mak bedunduk melakukan pertunjukan tertentu di suatu tempat secara bersama-sama (seringkali bikin orang di sekitarnya terbengong-bengong, bingung, takjub, atau bilang ‘wow’ 😮 ), lalu selesai dengan sendirinya dan bubar sendiri-sendiri. Yah, begitulah kira-kira. Buat apa si flash mob itu? Ya macam-macam, bisa buat iseng aja, buat demo, atau malah buat kampanye.

Baiklah, daripada ngomong panjang-panjang tanpa action (ini gaya bicaranya teman saya di sini 😀 ) lebih baik langsung saya kasih contoh flash mob dari youtube berikut ini.

Ini flash mob ‘gangnam style’ yang dilakuin sama 5 pemuda untuk memenuhi janjinya mandi di bundaran HI kalau video pertama mereka mencapai 100.000 pengunjung. Karna tidak mudah ‘mengacau’ di bundaran HI dengan mandi di sana, akhirnya mereka bikin flash mob ‘gangnam style’ yang lagi ngetren di Indonesia itu di bundaran HI. Tadinya waktu dikasih link video ‘gangnam style’, saya ndak mudeng, ini apanya si yang bagus? Ternyata setelah lihat video ini, baru saya mudeng. Ooo…dance-nya to? :tepokjidat:

Mau contoh lain lagi? Ini flash mob yang baru saja terjadi kemarin, 16 September 2012. Dilakukan oleh 2.500 orang, Saudara. Wow….keren pisan. Tonton deh!

Gimana?? Keren kan?? 😉

Titiiiiik!!! Ini masa tenang!! Malah kampanye!

Lho, saya ini ngomongin flash mob. :mrgreen:

Bahasa Binatang

Masa kecil saya dulu dihabiskan di rumah simbah yang berada di daerah pedesaan. Rumah berbentuk joglo yang sebagian besarnya berlantai tanah, hanya pendopo saja yang sudah diplester. Memiliki halaman depan dan belakang yang luas. Kalau nyapu pegel Saudara :D. Untung waktu itu saya masih kecil, jadi tugas menyapu saya cuma sedikit, misalnya nyapu dapur saja. Tapi dapurnya orang dulu hampir satu rumah sendiri. Luas.

Di daerah pedesaan, pada umumnya setiap rumah mempunyai peliharaan unggas: ayam kah, bebek kah, menthok kah. Ada juga yang punya kambing bahkan sapi. Di rumah saya, (almh) Ibu memelihara unggas: ayam dan menthok. Pernah juga mempunyai bebek. Di dalam rumah juga ada kucing. Nah kalau waktunya kasih makan, Ibu memanggil unggas-unggas itu dengan panggilan yang berbeda.

“Kur…kur…kur..kur…kur…” maka ayam-ayam akan berkumpul dan menyerbu bubur dedak buatan Ibu.

“Ri..ri..ri..ri..ri..ri…” nah, kalau yang ini panggilan untuk bebek-bebek.

Kalau menthok gimana? “Thi…thi…thi…thi…”

Ternyata binatang punya bahasanya sendiri-sendiri ya. Setelah saya perhatikan, panggilan untuk bebek dan menthok itu sama dengan nama anak-anak mereka. Di Jawa, anak binatang ada nama-namanya sendiri. Anak bebek disebut ‘meri’, anak menthok disebut ‘minthi’. Tetapi untuk ayam, sepertinya bukan dari nama anak ayam (karna nama anak ayam adalah ‘kuthuk’), tetapi dari suara induk ayam ketika memanggil anak-anaknya. Kurang lebih bunyinya ya ‘krr..krr…krrr..krrr….’ gitu lah. 😀

Di rumah, kami juga punya kucing. Dan karna di kampung, kami tidak biasa menamai kucing kami. Jadi kami panggil saja dengan ‘Manis’. Kalau ngasih makan, kita panggil ‘nis..nis..nis..nis…’ dan si kucing pun akan mendekat. Ketika pindah ke rumah Bapak sendiri (rumah simbah kemudian ditempati oleh Om adiknya Ibu) yang sedikit lebih kota, baru saya tahu kalau kucing juga dipanggil dengan sebutan ‘Ipus’. Dan waktu kecil itu, menyebut kucing dengan Ipus rasanya lebih keren daripada menyebutnya Manis. Hihihi…dasar perasaan yang aneh :mrgreen: . Kalau sekarang, kucing seperti juga anjing, sudah banyak diberi nama, sehingga memanggilnya tinggal memanggil namanya saja.

Eh…btw, kenapa tiba-tiba saya nulis ini? Karena… Kejadiannya waktu saya jalan-jalan ke botanical garden di pulau Awaji (pulau kecil di antara Shikoku dan Honshu). Saya bersama sensei & 2 teman naik boat bebek yang dikayuh itu sambil membawa makanan ikan. Ternyata kami dibuntuti bebek-bebek yang juga berebut makanan yang kami sebar. Setelah selesai berputar, ternyata makanan ikan di tangan saya masih ada. Lalu reflek mulut saya memanggil bebek-bebek itu “ri..ri..ri..ri…” dan saya taburkan sisa makanan itu ke mereka. Saya surprise sendiri, eh…panggilan itu…entah sudah berapa belas tahun saya tidak menggunakannya ternyata masih tersimpan dalam chip memori di kepala saya.

Nah, kalau pengalaman teman-teman dengan panggilan kepada binatang peliharaan bagimana? Apakah sama dengan pengalaman saya? Apa di daerah teman-teman cara memanggil unggas, kucing, dan binatang lain juga sama dengan cara saya tadi? Share yuk… 🙂

Salam saya,
Titik ^_^

Penari

by: Dewi Gita

Gemulai gerakanmu itu
menarik semua mata..
Lentiknya jemarimu indah
hadirkan kemesraan…

Penari kau yang terlahir sebagai penghibur..
Seakan kau tak mau peduli banyak yang mengganggu…

Pernahkah engkau terima kenyataan hidup?
Pernahkah kau coba mengerti cintamu semu?

This slideshow requires JavaScript.

Dia yang datang tak hanya untukmu..
Di mana slalu kau yang kan menunggu..
Apakah engkau masih mencari
keinginan gemerlapnya dunia?

Penari…..


klik play untuk mendengarkan

——————————————-

Yang di slideshow itu contoh penari amatiran ^_^

Weekly Photo Challenge: Near and Far

My Dad and I, talked on skype

This is my old picture, taken last year on the Eid al Fitr 2011. Actually we are far away, i’m in Japan and my Dad is in Indonesia. But through Skype, i feel like he is so near, sit in front of me and talk with me while we watch TV. Yeah….this is the advantage of technology: cutting the distance ^_^.

Maaf ya nampilin foto lama. Habis kaya’nya cocok banget sama tema :D. Jadi ingat apa yang diingat sist Choco tentang saya di postingan Om Nh tentang mengenal blogger lain, yaitu: langit, senja, dan Bapak. Hihi…dan lagi-lagi saya menulis/memajang foto Bapak :).

Serba-Serbi Cerita Lalu part III: Idul Fitri di Negeri Sakura

Hai teman-teman semua. Bagaimana kabarnya? Semoga selalu dalam keadaan sehat serta dalam lindungan-Nya. Amin.

Ternyata lama tidak menulis di blog itu membuat semangat untuk menulis menghilang entah ke mana. Apalagi cerita yang sebelumnya ingin saya ceritakan sudah bertumpuk-tumpuk dengan cerita-cerita lainnya. Rasanya mau menuliskan cerita yang lama kok sudah basi. Tapi saya juga ingin menceritakannya. Selain menjadi catatan pribadi saya, juga barangkali bisa dibagi dengan teman-teman semua. Maka malam ini saya paksa untuk menulis. Hehe…. 😀

Melanjutkan cerita saya di sini, hari itu, Sabtu 18 Agustus (kyaaa…sudah berminggu-minggu yang lalu), saya pulang dari camping dengan siswa-siswa SMU se-Shikoku. Tiba di stasiun Tokushima sekitar pukul 1 siang. Saya telepon teman yang kemudian menjemput saya ke stasiun. Kami mau menginap di rumahnya lagi karena mau merayakan Idul Fitri bersama keluarga Indonesia di Tokushima. Kami mampir dulu ke swalayan untuk belanja yang kami perlukan untuk memasak nanti sore (berbuka) dan besok pagi (lebaran). Kami sudah yakin kalau Idul Fitri bakal jatuh hari Minggu, 19 Agustus. Apalagi teman saya, karna dia mulai puasanya 1 hari lebih dulu dari yang lainnya, jadi dia “harus” berlebaran tanggal 19 karna kalau tidak, dia bakal berpuasa 31 hari :D.

Sampai rumah, istirahat sebentar, tidur. Bagaimanapun juga saya capek Saudara… Camping 3 hari plus perjalanan sekitar 2 jam. Yang tadinya mau mulai masak pukul 3 jadi molor sampai pukul 4.30 sore :D. Teman saya yang bawa ayam halal pun baru datang sekitar jam segitu. Yak, akhirnya kita mulai memasak. Di tengah memasak tiba-tiba kepikiran: gimana kalau kita undang teman-teman yang lain dan kita adain buka puasa bersama, sambil menunggu keputusan Islamic center Jepang tentang kapan Idul Fitrinya. Kalau Idul Fitrinya besok, kita bisa takbiran bersama. Begitulah akhirnya ditelpon satu-satu dan kita pun berbuka puasa bersama. Untung masaknya banyak :D.

menu buber yang sederhana

Setelah kami selesai buber, satu keluarga kawan datang membawa kembang api. Maklum anak kecil-kecilnya banyak, jadi mainan kembang api pasti menyenangkan buat mereka (dan juga saya 😀 ). Sambil Otoosan-Ibu makan, kami mainan kembang api di luar. Ibu juga memantau di internet untuk informasi jatuhnya 1 syawal. Yang lainnya juga streaming tv Indonesia dan menyaksikan sidang isbat yang disiarkan langsung oleh salah satu tv swasta. Saya juga sudah dapat pesan dari rumah kalau kemungkinan besar lebaran tahun ini bersamaan karena kemarin awal puasanya selisih 1 hari. Dan benar saja. Saya yang keluar masuk ganti kamera (maksudnya kameraku habis batre jadi ganti pakai HP, eh..HP ikut habis batre jadi ambil kamera orang yang tergeletak di meja), dikasih tahu Ibu kalau sudah ada info jatuhnya 1 syawal 1433H dari Islamic center Jepang, yaitu Minggu, 19 Agustus 2012. Saya pun keluar membawa kabar tersebut ke tempat kawan2 yang masih bermain kembang api bersama anak-anak. Mereka pun bersuka ria, mengucapkan hamdallah dan mulai bertakbir lirih (karna takut mengganggu tetangga. Main kembang apinya aja volume-nya maksimal 2 :D).

anak-anak nyalain kembang api. Saya ndak tau ngapain itu….

Jaa…berarti malam ini semua bersiap untuk Idul Fitri. Cek kepastian jadwal sholat Ied di masjid Tokushima. Teman-teman muslim di Tokushima termasuk yang beruntung memiliki masjid di kotanya sendiri, karna tidak banyak masjid di Jepang ini. Sesama orang Indonesia, saya ikut bersyukur dengan adanya masjid di Tokushima.

Saya dan teman-teman mulai memasak ketupat untuk sarapan esok hari. Opornya sudah masak tadi untuk buka bersama, jadi besok pagi tinggal ngangetin sama nambah ayam aja (hehe…). Berhubung tidak ada selongsong ketupat dari daun kelapa, jadi kami improvisasi menggunakan plastik. Yang penting judulnya sama: ketupat :D. Pokoknya kami mau bikin suasananya termasuk makanannya menjadi se-Indonesia mungkin, supaya kami tidak homesick :D. Dan malam itu kami tidur cukup larut dan bangun cukup pagi karna lanjut memasak untuk acara syawalan dengan keluarga Indonesia di Tokushima. Saya kejatah bikin snack-nya dan teman saya kejatah bikin supnya, teman yang satu lagi bikin es buahnya. Saya bikin lumpia, teman bikin sup merah, dan teman satu lagi bantu kami berdua, karna bikin es buah cuma tinggal buka kaleng, tambah sirup, dan es batu 😀

Ketika semua sudah membuka mata, para pria sudah bangun sudah mandi dan bersiap sholat Ied, wah…suasana lebaran sudah hadir. Yang punya baju lebaran, ayo dikeluarkan lalu diseterika. Yang gk punya, bajunya juga diseterika dulu supaya rapih. Sebelum berangkat sholat, sarapan dulu bersama-sama. Dan berangkatlah kami menuju masjid dan nanti bablas ke rumah ketua PPI untuk syawalan.

Sampai di masjid, saya bingung mau ngapain. Mau masuk gk enak, akhirnya nunggu di luar sambil foto-foto :D. Setelah selesai sholat Ied, jemaat keluar, dan wow….ternyata sebagian besar jemaat masjid adalah orang Indonesia. Salam-salaman dulu dengan semua. Lalu berfoto bersama.

Tokushima Masjid

berfoto di depan masjid

Selanjutnya kami mengikuti syawalan di rumah ketua PPI kami. Mungkin sering saya singgung bahwa keluarga Indonesia di Tokushima cukup banyak. Kalau mahasiswanya sih cuma 13 orang, tetapi di sini banyak perawat lansia, juga warga Indonesia yang menikah dengan warga Jepang sehingga sudah menjadi penduduk sini.  Momen seperti lebaran, turnamen, acara budaya, adalah ajang berkumpulnya kita semua, silaturahim masyarakat Indonesia di Tokushima. Jika sudah berkumpul begini, rasanya tidak sedang di mana-mana tetapi ya di Indonesia 🙂 . Syukur kepada Tuhan untuk karunia keluarga yang Ia beri, baik di negeri sendiri maupun ketika di negeri orang.

Begitulah sekelumit cerita Idul Fitri tahun ini. Selamat hari raya Idul Fitri teman-teman semua. Mohon maaf lahir bathin yaa… Biar udah lama lebarannya, tapi boleh donk ngucapin lagi…. 😀

Salam saya,
Titik