In memoriam: Boci (danBO keCIL)

Belum sempat kukenalkan pada teman-teman blog, Boci, boneka revoltech saya, sudah menghilang. ๐Ÿ˜ฆ

Emak dan Boca (danBO beCAr) kangen sama kamu Nak..

Sore itu Boci dan Boca jalan-jalan berdua. Boci tampak sedikit murung. Boca tak tau kenapa. Sampai akhirnya Boci mengungkapkan keinginannya untuk berpisah dari Boca. Boca yang tidak tahu menahu permasalahannya pun terkejut.

“Boci, maksudmu apa???”

“Tidak ada masalah apa-apa di antara kita, Boca. Tapi aku harus pergi.”

“Tapi kenapa?”

“eMak akan pulang ke Indonesia. Aku akan ikut dengannya. Kita akan terpisah ribuan mil jauhnya Boca!”

“Tapi kamu kan bisa kembali lagi ke sini. Dan kita akan bersama-sama lagi Boci!”

“Entahlah Boca. Perasaanku mengatakan kita tak bisa bersama lagi…… Izinkan aku pergi Boca…”

Boci pun memeluk Boca lalu berjalan lurus memunggungi Boca yang tertunduk menahan sedih dan tanda tanya..

10 Juli 2012

Emak sedang menunggu pesawat yang akan terbang pukul 00.30 dini hari ketika membuka tas punggungnya dan mendapati Boci ada di dalam tas. Emak terkejut.

“Lho, Boci! Kamu kenapa ada di sini?”

“Boci mau ikut eMak ke Indonesia.. Boci pengen tahu tempat kelahiran eMak..”

“Weh…lha trus Boca gimana kamu tinggalin?”

“Boci udah pamitan kok Mak..”

“Oh..ya udah, diam-diamlah kamu di tas ya…!”

“Iya, Mak…”

20120730-233128.jpg
Waktu transit di Bangkok, Boci sempat heran sama bentuk atap sebuah gapura di bandara yang mirip sama rumah makan Padang.ย 

20120730-233455.jpgBoci juga sempat berfoto dengan sekawanan gajah. Katanya dipaksa Emak. Padahal sih Boci juga suka… Hihi…

20120730-233528.jpg
Waktu sudah di Indonesia, Boci diajaki Emak kumpul-kumpul sama teman ngeblognya. Wah…Boci jadi idola saat itu. Sampai-sampai eMak kikuk sendiri. Hehe….

Tuh kan, semua sayang Boci. Semua pengen punya Boci. Boci jadi tersanjung.

Boci pun ikut emak pulang ke Purworejo kampung halamannya dengan kereta. Tetapi entah di mana Boci menghilang. Ketika sampai di rumah, Emak tak bisa menemukan Boci di tasnya maupun di tas tangannya. Emak langsung lemas. Emak pun mencintai Boci seperti Boca mencintai Boci. Dan kini eMak dan Boca kehilangan. Hiks… ๐Ÿ˜ฅ

20120730-233937.jpg
Lihatlah bagaimana Boca kehilangan Boci. Sampai-sampai Boca bilang akan tetap mencintai Boci bila esok tiba. Ah Boca….kamu seperti emak saja… (ups!)

20120730-234016.jpg
Boca menerbangkan rindunya bersama angin. Berharap sampai pada Boci. Boca berharap, siapapun kini yang merawat Boci akan mencintainya seperti emak dan Boca mencintai Boci.

Boci…kami merindukanmu. Baik-baiklah selalu yaa….. Semoga suatu saat kita bisa berjumpa lagi…

One Day Trip and Kopdar Bandung

Warning: akan jadi postingan yang panjang dan banyak foto! ๐Ÿ˜€

Postingan ini masih lanjutan dari postingan kemarin. Pagi itu, Minggu, 15 Juli 2012 pukul 5 pagi, saya mengantar Sensei dan teman-teman sampai depan hotel, berpelukan lalu sayonara-sayonara. Lho, kok pakai sayonara? Emangnya Tt gk ikut balik ke Jepang?! Puji Tuhan oleh Sensei dikasih waktu beberapa hari untuk menengok rumah. Sepertinya Sensei ingat pengalaman tahun lalu ketika juga ada konferensi di Jawa Timur. Karna tidak ada kesempatan untuk pulang, akhirnya Bapak yang ngalahi ngunjungi anaknya ini ke Jawa Timur. Jauh bo’! Meskipun Bapak senang juga bisa sekalian jalan-jalan & bertemu Sensei. Hihi… Dan akhirnya, kali ini dikasihlah waktu beberapa hari untukku pulang. Puji Tuhan ๐Ÿ™‚

Oke, lanjut lagi.. Setelah mobil travel mereka bergerak pergi, saya kembali masuk kamar hotel dan…tidur lagi (doh!). E..ndak pakai lama kok, saya bangun lagi dan packing. Lalu ada pesan masuk dari Teh Nchie yang bilang akan datang sekitar pukul 10 bersama Olive. Wuih, dalam bayangan saya, melihat foto-foto di blog & FB Teh Nchie, si Olive tu kaya udah gede. Jadi waktu bilang akan datang dengan Olive, sempat nanya juga: nanti bisa boncengan bertiga kah? Hihi…. Akhirnya sebelum pukul 10 saya sudah turun dan check out dari hotel lalu menitipkan barang-barang saya di hotel. Menunggu Teh Nchie dan Olive beberapa saat sambil ngenet di lobi. Sempat ada mbak-mbak cantik juga duduk di lobi, kupikir Teh Nchie, tapi kok rambutnya ikal, ah bukan.. Nunggu lagi. Lalu ada pesan masuk dari Teh Nchie tapi gk ada isinya. Hehe.. Baru mau balas, sudah terlihat sosok Teh Nchie n Olive masuk ke hotel. Hai…hai…..akhirnya ketemu juga… Hihihi…senangnyaa….. Dan ternyata, pas ketemu Olive, Olive masih bisa diajak bonceng bertiga.. Sip deh… Bersama duo cantik ini one day trip in Bandung dimulai…

1. Cihampelas Walk

Seperti diceritakan Teh Nchie di sini, saya mau diajaki makan nasi timbel di Punclut sambil menikmati panorama kota Bandung. Seneng banget lah. Dengan motor matic oren kami melaju menuju Punclut. Tetapi di pertigaan kami dibelokkan karena katanya di depan macet. Teh Nchie pun nurut. Eh…ternyata di jalan alternatif pun macet parah. Duh! Akhirnya memutar balik dan menuju Cihampelas Walk. Jalan-jalan dulu sebelum cari makan, di sana melihat-lihat souvenir khas Bandung. Ada magnet bergambar jembatan dan tulisan Bandung. Kutanya Olive: ini jembatan apa Ol? Jembatan Pasopati, kata Olive. OK, ambil deh buat oleh-oleh. Kami akhirnya makan di sebuah resto di Ciwalk. Banyak makanan tradisional di sana. Tapi waktu lihat stan mie kocok, pilihan saya langsung jatuh padanya :D. Sementara Teh Nchie dan Olive memilih menu yang sama: lontong kare.

Mama Olive & Kaka Olive yang kompak.

Bersama Teh Nchie yang kehilangan kakinya.
“Lho, kaki Mama mana Ol?” dan Olive pun tertawa ๐Ÿ˜€

Selesai makan, kami jalan-jalan lagi. Dan saya nemu kaos lucu bertuliskan Bandung dengan aksara Jawa Sunda, Arab, Jepang kanji, dan Romaji (alfabet). Wah…lucu nih untuk oleh-oleh Sensei yang gaul & teman dari Jepang. Hihi…

2. Jembatan Pasopati

Selanjutnya kami akan menuju Gedung Merdeka. Dan oleh Teh Nchie saya dilewatkan jembatan Pasopati, salah satu icon Bandung yang saat itu sedang dalam perbaikan. Ternyata ini yang dibilang teman-teman mirip dengan jembatan di Naruto yang saya post di facebook. Dan ini yang tadi Olive bilang ada di magnet yang saya beli. Kami pun berhenti sebentar untuk mengabadikan jembatan ini dalam foto.

Jembatan Pasopati vs Naruto no hashi

bukti saya pernah lewat jembatan Pasopati

 

3. Gedung Merdeka

Selanjutnya kami menuju Gedung Merdeka di Jl. Asia Afrika. Gedung Merdeka merupakan gedung bersejarah tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika pertama yang merupakan cikal bakal terbentuknya Gerakan Non Blok yang juga mendasari kerjasama internasional (international cooperation) hingga saat ini. Selanjutnya, gedung ini menjadi tempat berbagai pengalaman sejarah bangsa Indonesia, dari gedung MPRS sampai tempat tahanan para tapol G30S.

Gedung Merdeka (picture by Bapaknya Fauzan)

Di sini kami bertemu Teh Dey bersama Fauzan dan Bapaknya. Sedang narsis-narsisan, tiba-tiba ada yang teriak: “ikutan donk”. Dan begitu motor berhenti, langsung deh mengenali: Teh Dey iniiii…. Hihi… Dan seperti tumbu oleh tutup, Teh Dey yang bawa kamera SLR plus fotografernya (ups!) semakin menguatkan hasrat narsis kita ๐Ÿ˜€

Trio Emak Cantik di Gedung Merdeka

 

4. Jalan Braga

Selanjutnya kami mampir ke Jalan Braga karna saya penasaran sama setting flash fiction Sepanjang Jalan Braga yang saya ikuti beberapa waktu lalu. Betul tidak ya intepretasi saya tentang Jalan Braga berdasarkan pencarian di google? Akhirnya kami menuju ke sana sebentar. Sebentar saja karna sudah ditunggu Bang Edu di cafe NgopDul untuk kopdar.

Kinar di Jalan Braga
Tak lupa mengirim pesan pada Barra: “Mas Barra, aku sudah di depan Braga Huis Beer… Daaaaan…di sampingku ada yg lagi foto prewed. Alamak…mupeng akunya mas… :P”

 

5. Kopdar Bandung

Selesai foto-foto di Jalan Braga, kami menuju cafe Ngopi Doeloe di Teuku Umar. Di sana sudah ada Bang Edu, Bang Argun, dan mb Yuli yang katanya sudah membatu menunggu kami. Hehe…maaf ya teman2.. :P. Salim-salim memperkenalkan diri dan pesan-pesan makanan. Selanjutnya datang mb Ika dan Bang Ade Truna. Dan yang terakhir adalah Teh Erry yang tadinya pamit gak bisa datang, eh ternyata akhirnya datang. Senangnyaaa. Bang Argun sang Dewa SEO berbagi ilmu SEO di kopdar kami. Sementara saya malah ndak banyak bicara. Hehe..sungguh, saya ini pendiam, kalau tidak ditanya saya bingung mau cerita apa. Makanya waktu disuruh cerita, saya minta mereka tanya aja nanti saya jawab :P.

bersama semua peserta kopdar…senyum ceria… ๐Ÿ˜€

Boci (danbo kecil) yang jadi real guest star di Kopdar, kini tinggal kenangan…
Nak, di manapun kamu, semoga yang menemukanmu merawatmu dengan baik ya.. eMak & Boca merindukanmu… ๐Ÿ˜ฆ

Terimakasih blogger Bandung untuk kebersamaan yang indah ini.. [v]

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Saya harus segera kembali ke hotel, mengambil barang-barang, lalu menuju stasiun untuk pulang ke Purworejo. Tetapi oleh Teh Nchie saya dilewatkan lagi ke Gedung Sate. Hihi…biar kumplit ya Teh ๐Ÿ˜›

6. Gedung Sate

Suatu senja di Gedung Sate

 

Akhirnya saat perpisahan dengan Bandung pun tiba. Teh Nchie mengantarkanku sampai ke batas akhir pertemuan hari itu: stasiun. Hiks… ๐Ÿ˜ฆ . Begitu memasuki stasiun, rasanya hati sudah rindu lagi dengan Teh Nchie, Olive, teman-teman blogger Bandung dan keluarganya, plus Bandung itu sendiri. Terimakasih Teh Nchie & Olive, udah ngajakin keliling Bandung seharian. Terimakasih teman-teman di Bandung untuk hari yang indah itu. Terimakasih sekali. Lain waktu, ingin sekali berkunjung ke Bandung dan mengunjungi rumah teman-teman supaya lebih mengenal dan lebih akrab. Sekali lagi terima kasih banyak. Bandung tempat yang nyaman, dingin, dengan penduduknya yang ramah. Suatu saat aku akan datang lagi mengunjungimu…

O iya, salam buat Ariel ya. Selamat sudah keluar dari penjara. Jangan nakal lagi ya… ๐Ÿ™‚

.

.

Salam saya,
Titik

Hallo Hallo Bandung

Hallo teman-teman… Wii..lama sekali rasanya tidak kemari, meski kemarin sempat posting singkat di sela-sela transit. Beberapa waktu yang lalu ada kesibukan yang membuat saya tidak sempat menulis dan membaca-baca tulisan teman-teman di blog. Puji Tuhan, saya dapat kesempatan mudik ke Bandung sekalian konferensi. Waaa…senang sekali. Puji Tuhan, anugerahNya tak terkira dan tak terduga.

Minggu lalu perjalanan itu dimulai. Saya sampai Bandung Rabu sore, 11 Juli 2012, bersama seorang Sensei yang menjadi keynote speaker di konferensi, seorang Sensei yang menjadi science expert di workshop, salah satu teman dari Jepang yang menjadi guru model di workshop, saya, dan tiga orang mahasiswa Sensei yang membantu dokumentasi dan lain-lain. Yah, serombongan dari Naruto University. Jadwal di Bandung hanya 3 hari: Kamis-Sabtu. Kamis kami mengunjungi sekolah di Lembang tempat diselenggarakannya workshop di hari Sabtu. Kami menyiapkan segala sesuatunya untuk kegiatan di hari Sabtu karena salah satu teman akan menjadi guru model dan mengajar siswa kelas 8 sekolah tersebut. Mereka memang benar-benar detil mempersiapkannya.

Sepulang dari sekolah, kami mampir di rumah batik di kota Lembang. Sensei dan teman-teman memborong batik karna di sana harganya cukup murah. Di rumah batik tersebut kami juga bisa menyaksikan langsung proses pembuatan batik baik batik tulis maupun batik cap. Dengan sok guide saya jelaskan setiap prosesnya pada mereka (meski terbata-bata ๐Ÿ˜€ ).

membatik

Jumat adalah kegiatan seminarnya. Sensei menjadi narasumber di sesi pleno, kemudian setelah istirahat makan siang kami berdua memaparkan hasil riset kami di sesi paralel. Setelah hari Jumat saya dan Sensei lumayan lega, tinggal workshop besok di mana yang menjadi aktornya adalah teman saya dan Sensei yang lain. Hihi..meski begitu, kami tetap nervous juga di hari Sabtu waktu teman saya melakukan pembelajaran di kelas 8 SMP 1 Lembang. ๐Ÿ˜›

Singkat cerita, rangkaian kegiatan seminar dan workshop selesai sudah. Sabtu malamnya kami makan malam bersama di Restoran Sari Sunda. Sampai malam. Kami tidak punya waktu sama sekali untuk sekedar jalan-jalan menikmati Bandung dan mencari oleh-oleh karna Minggu pagi pukul 5 kami sudah dijemput travel yang membawa ke bandara Soekarno Hatta. Kasihan sebenarnya sama teman-teman. Tetapi mudah-mudahan mereka senang menikmati Bandung beberapa hari, setidaknya sekolahnya, jalanannya, dan universitas pendidikannya.

Indonesia University of Education ~ Universitas Pendidikan Indonesia

Minggu pagi saya mengantar Sensei dan teman-teman sampai depan hotel. Berpelukan dan sayonara sayonara… Sampai bertemu di Naruto lagi, kata mereka…. Sampai jumpa lagi Sensei dan teman-teman….

sayonaraaa

.

.

.

#Sengaja tidak memuat foto-foto kegiatan ๐Ÿ˜€
Selamat menunaikan ibadah puasa, teman-teman… ^_^
O iya, saya sudah sampai Naruto lagi…. ๐Ÿ™‚

Jumpa Lagi

Saya mengucapkan “Selamat menunaikan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan bathin”.

Semoga segala sakit hati dan kebencian terlebih dahulu dihapus sebelum menunaikan ibadah puasa. Semoga segala amalan diterima Yang Maha Kuasa. Amin.

Salam saya,
Titik

Cobalah Mengerti

Sudah tahu kan kalau saya penggemar Peterpan? Kalau belum tahu, saya kasih tau: “Saya penggemar Peterpan”. Nah, di Result Show Indonesian Idol, finalis menyanyikan lagu Peterpan. Sean menyanyikan lagu “Cobalah Mengerti” dengan penuh penghayatan. Baru kali ini saya dengar lagu ini sampai mau nangis. Sean pinter banget bawainnya. Lirik di bawah ini jadi terasa dalem.

Aku tak kan pernah berhenti, akan terus memahami. Masih terus berpikir bila harus memaksa atau berdarah untukmu. Apapun itu asal kau mencoba menerimaku.

Dan kamu hanya perlu terima, dan tak harus memahami, dan tak harus berpikir, hanya perlu mengerti aku bernafas untukmu. Jadi tetaplah di sini dan mulai menerimaku.

Cobalah mengerti semua ini mencari arti. Selamanya tak kan berhenti. Inginkan, rasakan, rindu ini menjadi satu. Biar waktu yang memisahkan.ย 

Katakan saya lebay. Nanti kalau youtube-nya udah keluar, kupasang di sini dan kita melebay bersama yaa…

Update: ini sudah ada videonya di youtube indonesian idol 2012. Mari menggalau! ๐Ÿ˜€

Cerita di Balik Layar

Masih melanjutkan tulisan saya yang kemarin, kali ini saya mau menceritakan cerita di balik layar sebelum pentas tari di international party tersebut. Saya bagi 3 segmen biar runtut dan mudah dibaca (ikut gaya Om Nh).

1. Pemilihan tarian

Di Naruto University ada 3 mahasiswa Indonesia yang melanjutkan sekolah di sini. Setelah pengumuman penyelenggaraan international party, kami berdiskusi akan menampilkan apa di acara tersebut. Awalnya mereka berdua menyuruh saya saja yang menari mewakili Indonesia. Saya tidak mau, saya ingin semua ikut berpartisipasi di acara tersebut. Saya bisa menambahkan satu tarian yang saya tarikan sendiri, tetapi harus ada yang dipentaskan bersama-sama. Mereka pun setuju. Akhirnya kami bertiga mencari di youtube tari-tarian dari daerah Sumatera untuk dipentaskan bersama-sama (karena tarian dari Jawa sudah akan saya tarikan). Beberapa usulan tarian muncul: Tari Saman, Tari Piring, dan Tari Tor-Tor. Setelah ditonton, diperhatikan gerakan kaki dan tangan, dicoba, ternyata ketiga tarian tersebut sulit, Saudara-Saudara. Untuk Tari Saman, karna kami cuma bertiga rasanya kok kurang bagus. Untuk Tari Piring, selain gerakannya yang rumit, kami juga takut piring yang kami bawa meleset (berhubung kami semua belum pernah menari piring). Untuk Tari Tor-Tor, sebenarnya saya sudah dapat sedikit-sedikit gerakannya, tetapi kemudian salah seorang kawan mengusulkan tari Selayang Pandang yang ditemukannya di youtube. Dan setelah saya cek dan perhatikan, sepertinya gerakannya tidak begitu rumit. Kami bertiga pun menyetujuinya.

Sudah terpilih tarian yang akan ditarikan kami bertiga. Kini giliran memilih tari tunggal yang akan saya tarikan. Beberapa bulan yang lalu kakak saya mengirimkan kostum tari 2 macam: kostum tari Golek dan kostum Tari Gambyong. Untuk kostum tari gambyong berupa kemben yang juga bisa dipakai untuk tari Bondan. Sebenarnya tari Gambyong/Bondan lebih saya ingat ketimbang tari Golek karna dulu tari Gambyong & Bondan lebih laris ditarikan di acara pernikahan ketimbang tari Golek (kecil-kecil dulu udah dapat uang dari nari di pernikahan, hihi… ๐Ÿ˜€ ). Tetapi mengingat kostumnya yang berupa kemben, sayanya tidak PD (hehe…) plus tata rambutnya harus disanggul dan saya tidak bisa nyanggul rambut sendiri. Jadi akhirnya saya pilih tari Golek meskipun harus berlatih lagi dengan bantuan youtube.

Deal, jadi terpilihlah tari Selayang Pandang dan tari Golek (Tirtakencana).

2. Latihan

Seperti tahun lalu, latihan kami pun mengandalkan bantuan youtube. Kami putar, perhatikan gerakannya dan dicoba. Sedikit demi sedikit kami temukan gerakannya. Karna kesibukan masing-masing kami, kami hanya berlatih 4 kali. Tetapi puji Tuhan semua gerakan bisa dikuasai dengan baik. Salut untuk teman-teman yang dalam 4 hari bisa menghafal gerakan tari dari awal sampai akhir padahal (menurut mereka) mereka tidak punya basic menari. O iya, contoh tarian Selayang Pandang yang kami gunakan, kami ambil dari sini.

Untuk tari Golek, saya sendiri sudah lupa dulu saya menari golek jenis apa. Akhirnya saya cari di youtube dan sepertinya Golek Tirtakencana-lah yang dulu pernah saya pelajari. Akhirnya saya berlatih dengan guru tari Mrs. Youtube. ๐Ÿ˜›

3. Kostum dan tata rias

Pentas tari tentu tidak luput dari kostum dan tata rias. Untuk tari Selayang Pandang terjadi diskusi yang panjang, baik dari jenis baju maupun warna baju. Sampai-sampai kedua teman saya itu membawa baju-bajunya ke kamar saya untuk dicocokkan keserasiannya. Hahaha…. Kamar saya memang base camp selama latihan tari, jadilah apa-apa dilakukan di kamar saya (yang sempit itu) sampai ke urusan mencocokkan kostum. Setelah tidak menemukan kecocokan dari baju-baju yang dimiliki, akhirnya kami menyepakati untuk memakai kebaya saja, berbeda warna tidak apa. Dan untuk saya sebagai pemeran pria, memakai atasan baju bodo Sulawesi yang dibawa teman dan mengenakan topi ala Sumatera supaya kelihatan Sumateranya (nama topinya apa ya itu?). Untuk kostum Golek saya sudah tidak ada masalah karna dikirim lengkap oleh kakak saya termasuk perhiasan-perhiasannya.

Nah, urusan tata rias ini menjadi masalah tersendiri buat saya. Untuk tari Selayang Pandang, karna saya memerankan laki-laki, saya tenang saja tidak perlu berdandan. Tapi untuk tari Golek? Lah, saya ini tidak bisa berdandan. Setiap hari hanya memakai pelembab yang mengandung alas bedak (semacam P*nds), bedakan, dan lipstik tipis. Padahal untuk menari kan perlu tata rias panggung yang notabene lengkap dengan eye shadow, blush on, maskara, dan sebagainya. Alamak…biasanya ada kakak saya yang melakukan tata rias wajah dan rambut. Kali ini harus dilakukan sendiri. Lagi-lagi belajar dari youtube bagaimana memulaskan eye shadow di kelopak mata. Dan beruntungnya salah satu teman saya punya perlengkapan make up itu meski dia mengaku tidak bisa dandan. Hihihi… Dan beginilah wajah-wajah kami sebelum pentas (maaf kalau blur ๐Ÿ˜› )

2 perempuan berkebaya & saya mencoba berbusana ala Sumatera

kostum tari Golek & itu saya sudah dandan lho…

Ada yang membuat saya getun/gela kemarin itu. Apa pasal? Pas pentas tari Selayang Pandang yang saya tidak dandan, saya tidak lupa melepas kaca mata. Eh…giliran pentas tari Golek yang berdandan dengan latihan sehari semalam, saya malah lupa melepas kaca mata. Yah, gk kelihatan deh eye shadow-nya. Hihihi…. ๐Ÿ˜€

Tarian Tradisional Indonesia di Panggung Internasional

Ups! Judulnya gaya ya? Tetapi begitulah kenyataannya. Tarian tradisional Indonesia banyak ditampilkan oleh pemuda-pemudi Indonesia di dunia international. Juga banyak dipelajari oleh mahasiswa-mahasiswa dari negara asing yang menimba ilmu di Indonesia. Saya adalah lulusan Universitas Negeri Yogyakarta yang memiliki fakultas Bahasa dan Seni di mana salah satu jurusannya adalah jurusan Tari & Karawitan. Banyak mahasiswa asing yang mengikuti perkuliahan di jurusan tersebut dan seringkali saya lihat mereka sedang berlatih tari Jawa di pendapa Tejakusuma UNY. Seringkali saya merasa bangga sekaligus miris menyaksikan fenomena itu. Mereka orang-orang asing justru tertarik untuk mempelajari budaya kita, sedangkan kita seringkali mengabaikan budaya kita (dan baru merasa handarbeni ketika ada pihak lain yang mengklaim budaya yang tidak kita beri perhatian itu sebagai miliknya).

Puji Tuhan saya diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk mencari ilmu di negara lain. Sewaktu di Indonesia, ketika ditanya: ‘kamu asli mana’, maka saya akan menjawab ‘Purworejo, Jawa Tengah’. Dan oleh karenanya, saya membawa nama Jawa Tengah atau Yogyakarta dalam tindak tanduk saya. Tetapi ketika di sini, saya adalah orang Indonesia yang mewakili Indonesia sehingga saya pun harus merepresentasikan Indonesia dalam tindak tanduk saya, dan dalam pengenalan budaya, saya bukan hanya menjadi ‘orang Jawa’ tetapi ‘orang Indonesia’ dengan budaya yang beraneka ragam itu. Dan salah satu yang bisa saya lakukan untuk mengenalkan Indonesia dan budayanya di mata international adalah melalui tarian dan busana.

Di kampus saya, setiap tahun diselengarakan dua kali international party. IP yang pertama diadakan pada bulan Juli. Di IP ini masing-masing negara diperbolehkan menampilkan budayanya entah dalam bentuk tari, permainan, maupun performance lainnya. Tahun lalu, saya dan teman-teman sesama pelajar Indonesia di sini menampilkan tari Sajojo seperti pernah saya tulis di sini. Sedangkan tahun ini kami menampilkan Tari Golek Tirtakencana dari Jawa dan Tari Selayang Pandang dari Sumatera. Jadi kami mengambil tarian dari tiga kawasan Indonesia. Kawasan timur Indonesia dengan Sajojo, kawasan tengah Indonesia dengan tari Golek dan kawasan barat Indonesia dengan tari Selayang Pandang. IP kedua diadakan bulan November. Di IP ini kita menampilkan busana tradisional dari negara kita masing-masing. Tahun lalu saya tidak bisa mengikuti fashion show busana tradisional karna bertepatan dengan konferensi yang saya ikuti. Sayang sekali.

Tari Sajojo dari daerah Papua, berdasarkan informasi dari Kompas dot com, lirik lagunya bercerita tentang seorang gadis cantik yang diidolakan oleh pemuda-pemuda di kampungnya. Saya benar-benar ingin tahu arti lagu sajojo itu dalam bahasa Indonesia. Saya coba cari di mesin pencari tetapi belum menemukan. Jika ada teman dari Papua yang membaca tulisan ini, saya berharap untuk bisa berbagi arti lagu sajojo di kolom komentar. Terimakasih.

Lagu Selayang Pandang adalah lagu Melayu yang berisi pantun-pantun di tiap baitnya. Jadi ada banyak sekali versi lirik lagu Selayang Pandang. Sedangkan tarian yang mengiringi lagu ini adalah tarian kreasi baru, sehingga bisa kita modifikasi sendiri.

Menari Selayang Pandang
Saya berperan sebagai laki-laki.

Pada international party kemarin, kami juga menampilkan tari Golek Tirtakencana, tarian traditional dari daerah Jawa Tengah & Yogyakarta. Tari Golek berkisah tentang gadis remaja yang sedang bersolek, maka gerakan-gerakan dalam tari golek pun serupa gerakan bersolek seperti bersisir, memakai alis, memakai sanggul, dan berkaca. Tari Golek memiliki bermacam variasi yang penamaannya biasanya didasarkan pada iringan gamelannya. Misalnya Golek Tirtakencana yang diiringi ladrang Tirtakencana, Golek Asmarandhana dengan iringan gending Asmarandhana, Golek Surundayung dengan iringan Ladrang Surundayung, dan sebagainya. Makna Tari Golek, berdasarkan asal katanya ‘golek’ dalam bahasa Jawa yang berarti mencari, maka tarian Golek memiliki makna pencarian jati diri si gadis remaja tadi. Jika boleh saya kait-kaitkan, masa remaja memang sedang masa-masa pencarian jati diri seseorang, masa menemukan eksistensi diri, masa puber sehingga dia pun mulai belajar berdandan.

Tari Golek Tirtakencana
(penghormatan)

Tari Golek Tirtakencana
(Gerakan bersolek)

Tari Golek Tirtakencana
(mencari jati diri)

Jujur, saya sudah lama sekali tidak menari Jawa. Mungkin terakhir kali saat SMP. Memang sejak kecil sudah dileskan tari di tetangga yang kebetulan pandai menari dan kenal baik dengan Ibu. Jadi setiap Minggu sepulang sekolah minggu saya belajar menari. Waktu itu saya sempat iri dengan kakak yang dileskan menari di Pendapa Kabupaten. Tetapi ternyata tak jadi masalah belajar menari di mana saja. Ketika masuk SMP, saya pun mengikuti ekstrakurikuler tari dan melanjutkan latihan tari saya di sekolah. Di SMA, saya sudah jarang menari. Untuk tampil di panggung 17-an, saya sudah malu wong sudah besar, begitu pikir saya waktu itu. Untuk tampil di acara pernikahan, sudah mulai ditinggalkan dan berganti organ tunggal. Ya, praktis aktivitas menari Jawa saya terhenti sejak SMA. Ketika kemarin memutuskan untuk menari Golek, saya mencari panduan dari youtube untuk kemudian belajar lagi. Puji Tuhan dulu pernah berlatih sehingga bisa mengingat kembali gerakan-gerakan yang dulu dipelajari. Sedangkan untuk tari Selayang Pandang, kami juga mencari di youtube dan dipelajari bersama-sama. Puji Tuhan lancar.

Beberapa video tari tradisional Indonesia di youtube ditarikan oleh penari dari luar negeri. Saya harus bangga bahwa mereka mencintai tarian dan budaya kita. TETAPI jangan sampai kita sendiri tidak mencintai budaya kita sendiri, kalah dengan mereka-mereka yang dari luar negeri. Jangan sampai kita mendadak mencintai tari-tarian Indonesia ketika orang lain/bangsa lain lebih peduli dan lebih menghargai kekayaan budaya kita. Para pendahulu kita telah menciptakan karya sebagai hasil kreativitas olah pikir mereka yang memiliki makna filosofis yang tinggi. Kita, generasi muda lah yang wajib nguri-nguri, melestarikan budaya kita supaya tidak hilang atau diakui sebagai milik orang lain yang ‘menemukan’ harta kita yang hilang karena tak teperhatikan.

Artikel ini diikutsertakan dalam Jambore On the Blog 2012 Edisi Khusus bertajuk Lestarikan Budaya Indonesia.

——————————-

Update: Postingan ini memang sempat mengalami ‘pause‘ tetapi setelah tekan playย lagi akhirnya selesai juga.