Tentang Gigi

Ini bukan kali pertama saya menulis tentang gigi, cerita tentang gigi saya sendiri tentunya dan bukan tentang teori kedokteran gigi atau semacamnya. Hehe.. Saya pernah bercerita tentang riwayat gigi saya di postingan Ngemut Vespa, 3 tahun silam. Saat itu saya cerita tentang pemasangan kawat gigi saya. Lalu bagaimana hasil dari kisah itu? Hoho…hasilnya gigi saya rapi sementara. Loh kok sementara? Jadi begini ceritanya….

Setelah memakai kawat gigi cekat itu, gigi saya sudah tampak rapi. Lalu dikarenakan saya harus berangkat ke Jepang, saya bertanya pada dokter gigi yang merawat saya, apakah kawat bisa dilepas karena saya takut akan sulit perawatannya ketika di Jepang nanti (plus takut mahal juga 😀 ). Akhirnya dokter melepas kawat gigi saya dan mengikat gigi yang bermasalah itu dengan gigi-gigi sebelahnya menggunakan lem khusus (tanyalah dokter gigi apa namanya). Berangkatlah saya ke Jepang. Beberapa waktu di Jepang, tidak ada masalah dengan gigi saya. Tiba-tiba pada suatu hari ketika saya menggigit potongan apel, saya merasa ada yang ‘retak’. Saya ‘raba’ dengan lidah, ada yang aneh dengan gigi depan saya. Lalu saya bertanya pada cermin. Dan ternyata, lem pengikat gigi saya lepas. Oh… Saya pasrah akan kelanjutan nasib gigi seri saya ini, mengingat dulu setelah lepas kawat gigi yang pertama, gigi inipun bergerak maju. Dan ya, tanpa perlu menunggu lama, gigi saya sudah kembali ke posisi dulu, maju.

Saya kemudian menjalani hari-hari dengan tidak begitu merisaukan akan ‘kemajuan’ gigi saya. Tetapi kemudian saat beberapa teman menanyakan ‘kenapa gigimu maju lagi?’ dan seorang sahabat menyarankan ‘mbok diperiksakan itu gigimu’, saya jadi berpikir ‘apa mereka sudah ‘terganggu’ dengan keadaan gigiku ya? Apa mereka merasa tidak nyaman melihatku begini atau bagaimana ya?’. Akhirnya tadi saya menyempatkan datang ke dokter gigi. Oleh dokter dilakukan pemeriksaan, dihitung jumlah giginya, dilihat keadaannya, dan sebagainya. Lalu ditanyakan tentang gigi depan saya ini. Dilakukan x-ray dan dijelaskan oleh dokternya bahwa gigiku ini sudah turun dan tidak ada gusi yang menahannya sehingga majulah ia (kira-kira begitu). Dengan bahasa Jepang campur Inggris, dokter menjelaskan tindakan yang akan dilakukan yaitu extraction –> bridge or removable partial denture (RPD). Gigi saya dicabut, lalu dipasang gigi palsu dengan salah satu dari 2 cara itu. Ada untung ruginya dari kedua cara itu, tapi karna keterbatasan saya memahami bahasa Jepang jadi dokter tidak menjelaskan saat itu.

Setelah keluar dari ruang pemeriksaan, saya buru-buru nyari tau tentang apa itu bridge & RPD. Secara gampangnya otak saya menerima, bridge itu pengisian ruang kosong pada rahang (bekas gigi dicabut dsb) dengan gigi palsu yang sifatnya permanen. Gigi palsu tersebut dipasang kemudian direkatkan dengan gigi-gigi di sampingnya. Sedangkan RPD sifatnya semi permanen. Gigi palsu bisa dilepas dan dipasang kembali oleh yang bersangkutan.

Ah..hati saya gamang. Saya sebenarnya tidak mau gigi saya dicabut, karena -menurut saya- gigi saya ini sehat. Lagipula, saya merasa baik-baik saja, cuma satu gigi ini. Tetapi dari hasil konsultasi dengan dokter gigi yang lain, orang Indonesia yang juga ibundo saya, saya jadi mempertimbangkan lagi untuk melakukan apa yang disarankan dokter di sini. Yah..apapun akhirnya nanti, semoga menjadikan saya lebih sehat. Saya bukan mengejar kecantikan dengan melakukan ini dan itu. Tetapi ini demi kenyamanan semuanya, saya dan juga orang-orang di sekitar saya. Toh saya tidak malu dengan gigi saya ini, saya masih tersenyum tanpa ragu. Gk percaya? Ini buktinya:

Selain Om NH, apakah ada di antara teman-teman yang juga punya permasalahan gigi seperti saya? Yang sabar ya… Yuk senyum… 🙂

#Salam dari negeri yang sakuranya tengah bermekaran… ^^