Kupu atau Kupu-Kupu?

Teringat perjalanan bersama si Han -iya, sahabat saya di kisah lucu dulu itu- ketika melewati lembah UGM. Di sana terdapat taman kupu-kupu, tetapi di papan namanya tertulis “Taman Kupu”. Lalu si Han pun menjadikannya bahan pembicaraan. Dia bertanya sebenarnya yang benar itu ‘kupu’ atau ‘kupu-kupu’. Karna setahu saya ‘kupu-kupu’, jadi saya jawab yang benar adalah kupu-kupu. Lalu dilanjutkannya: berarti kalau bentuk jamaknya jadi kupu-kupu – kupu-kupu? Hadeh…! Bilang saja ‘banyak kupu-kupu’ atau ‘para kupu-kupu’, kata saya waktu itu. Saya sandingkan dengan nama binatang lain yaitu laba-laba. Menurut pengetahuan saya nama laba-laba itu satu kata, bukan bentuk jamak dari kata laba. Karna si Han belum puas dengan jawaban saya, akhirnya saya janjikan untuk menengok di KBBI setiba di rumah.

Jika kita melakukan pencarian di KBBI online dengan kata kunci ‘kupu’, maka kita akan diarahkan untuk merujuk pada kata ‘kufu’ yang berarti kesamaan derajat (martabat). Sedangkan jika kita memasukkan kata kunci ‘kupu-kupu’ maka kita akan dapatkan dua makna yang salah satunya adalah:

1ku·pu-ku·pu n serangga bersayap lebar, umumnya berwarna cerah, berasal dr kepompong ulat, dapat terbang, biasanya sering hinggap di bunga untuk mengisap madu; Lepidoptera; rama-rama;

Jadi, jika kita bermaksud menunjuk serangga yang indah itu, namanya bukan kupu tetapi kupu-kupu.

Begitu ya Han 😉

Jika ada kesalahan dari yang saya tulis di atas, mohon diluruskan ya teman-teman. Terimakasih.

Untuk melengkapi tulisan ini, bolehlah saya lampirkan foto kupu-kupu yang saya ambil beberapa waktu lalu. Ketika itu saya melihat kupu-kupu di bunga-bunga pink ungu. Jika dulu lagu kebangsaan kami adalah “Mengejar Matahari”, kali ini saya rubah menjadi “Mengejar Kupu-Kupu” (satu album sama “Berburu Kupu” :D).

hasil pengejaran pertama

hasil pengejaran kedua (sayang fokusnya malah di bunga #sad )

hasil pengejaran ketiga (dan setelah itu kupu-kupunya terbang, ganti lebah yang jadi sasaran #grin )

#catatan: menggunakan kamera saku mode auto. Fokusnya meleset ke mana-mana. 😀

Carang Gesing Modifikasi

Hari ini di fakultas diadakan welcome party untuk mahasiswa baru tahun ini. Dan seperti biasanya, party yang diadakan adalah potluck party. Jadi kami bawa makanan untuk kemudian di-share ke teman-teman semua. Hari ini bikin apa, Tik? Taraaa…hari ini saya bikin carang gesing dan mie goreng. Hehehe… Tetapi karna keterbatasan banyak hal, jadi carang gesingnya penuh modifikasi :D. O iya, ada teman-teman yang belum tau makanan carang gesing? Kalau belum tau, carang gesing itu makanan tradisional kita. Terbuat dari pisang, santan kental, telur, dan gula, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus. Nah, karena di sini tidak ada daun pisang, jadi saya modifikasi dengan menggunakan cup paper . Karna saya tidak punya panci pengukus, jadi saya menggunakan microwave. Trus gimana Tik cara bikinnya? Baiklah, kubagi caraku tadi ya…

Tadi saya menggunakan:

  • 5 buah pisang Ambon (pisang Philippine sih, tapi bentuk & rasanya mirip pisang Ambon)
  • 300 ml santan kental
  • 2 butir telur
  • gula pasir secukupnya
  • 1 lembar daun pandan

Cara membuatnya:

  • Campurkan santan, gula, dan kocokan telur (telurnya dikocok di tempat terpisah).
  • Masukkan daun pandan dan pisang. Aduk-aduk.
  • Panaskan dalam microwave dengan suhu 300W selama 12 menit (3×4 menit).
  • Setelah mengental, tiriskan airnya dan sajikan dalam cup paper .
  • Sajikan hangat atau bisa disimpan di lemari es dulu.

Dan inilah hasilnya…

Bentuk asli carang gesing seperti ini:

gambar dari sini

Satu lagi, saya bikin mie goreng, karna pas party beberapa waktu lalu, sensei saya pernah menanyakan tentang mie goreng. Jadilah saya bikinin mie goreng malam ini. Begini penampakan mie goreng buatan saya:

Sensei dan teman-teman bilang ‘Titik san, kore oishii‘ (Titik, enak ni..). Hehehe….saya bilang terimakasih sambil senyum-senyum. Dalam hati bilang: “bukan saya yang bumbuin, kalau enak itu bukan karna saya”. Saya pakai bumbu instan :D. Beberapa waktu lalu saat belanja, saya menemukan bumbu mie goreng dan nasi goreng di salah satu supermarket di sini. Senangnya. Saya beli bumbu mie gorengnya karna bumbu nasi goreng sudah dibawain banyak oleh teman saya. Beruntunglah, bisa dipakai buat bikinin sensei mie goreng.

Selesai party, saya dan teman-teman lanjut ngobrol di sea wall di belakang asrama. Mungkin karna kelamaan di luar, kayanya saya masuk angin nih. Perut muter-muter gk karuan. Bukan…bukan karna makanan tadi, makanannya gk aneh-aneh kok. Sepertinya memang masuk angin. Jadi sekarang saya mau elus-elus perut dulu pakai minyak kayu putih biar hangat dan anginnya keluar trus tidur. Sudah dulu ya teman-teman. Terimakasih sudah membaca. Ini ceritaku, mana ceritamu? 😉

Bukit Berbunga

.

“hari ini penuh bunga…hari ini bahagia…”

.

Begitu bunyi status YM! saya hari Minggu kemarin (eh, belum kuganti sampai hari ini 😛). Dan beberapa pesan dari sahabat masuk ke YM! saya.

Mb R    : “bahagia kenapa, Say?”
Titik     : “karna banyak bunga, Mb.”
Mb R    : “walaaah…kirain!”
Titik     : “emang ngirain apa mb?”
Mb R    : “kau tau lah apa maksudku… 😉 ”

Hihihi…mb R terlalu banyak berharap 😛

Mz O    : “lagi berbunga-bunga ya?”
Titik    : “iya 🙂 ”
Mz O    : “apane sik berbunga-bunga?”
Titik    : “jalan-jalan, taman-taman, semua tempat sedang berbunga-bunga. Indah deh.”
Mz O   : “walah….takkira hatimu sik berbunga-bunga!”

Hihihi….hatiku juga jadi ikutan berbunga melihat indahnya bunga-bunga itu. 🙂

Minggu kemarin kami ke gereja. Kebetulan ada salah satu kawan Jepang yang ikut kami ke gereja. Puji Tuhan. Ini pertama kalinya dia ke gereja. Mudah-mudahan minggu-minggu berikutnya bisa ikut bersekutu lagi ya teman :). Sepulang dari gereja, saya tidak langsung pulang, tetapi minum teh dulu bersama para jemaat dan dilanjut memotret bunga-bunga yang ada di halaman gereja. Di depan gereja ada 2 pohon sakura. Saat ini memang bunga sakura sudah berguguran. Rasanya sayang, tapi tidak perlu sedih karna memang sudah seperti itu siklusnya. Justru si bunga sakura sudah menuntaskan perannya di dunia, menyempurnakan dharmanya, memberi waktu untuk daun-daun bermunculan setelah dia berguguran.

Lihat, sakura hanya tinggal kelopaknya saja, mahkotanya sudah berguguran. Daun-daun mulai bermunculan. Kata teman saya tadi, ini namanya hazakura , ha artinya daun, jadi saat daun-daun mulai bermunculan mereka menyebutnya hazakura. Guguran mahkota bunga sakuranya menyerupai permadani atau carpet. Kalau biasanya kita familiar dengan istilah red carpet, kini saya dapat kosakata baru pink carpet eh sakura carpet.

sakura carpet

Di halaman gereja banyak tanaman-tanaman bunga yang berwarna-warni, indah sekali. Saya sendiri heran, kenapa saya jadi suka bunga begini. Hehe…. Ada yang berwarna ungu, namanya sakurasou karna bentuknya mirip sakura tapi kecil-kecil. Di jalan pulang, bertemu tulip, margaret, nanohana, murasaki katabami, dll. Hehe, semua nama itu saya dapat dari kawan saya tadi. Senang sekali saya bisa mengetahui nama-nama bunga itu.

sakurasou (さくらそう)

margaret

murasaki katabami (Oxalis Corymbosa)

tulip

hijau-putih-ungu-kuning
how beautiful they are...

Bayangkan teman-teman, melihat bunga-bunga yang indah itu, bagaimana hatiku tidak berbunga-bunga, dan bagaimana bisa aku tidak bahagia? Duh Gusti, luar biasa sekali karya-Mu. Tiap bunga Kaubentuk dengan detail keindahannya sendiri-sendiri. Luar biasa.

Bagaimana menurut teman-teman? Indah bukan? Senang bukan melihatnya? Semoga ya. Biar tulisan ini bisa menyegarkan mata, hati, dan pikiran kita. Buat teman-teman yang sedang penat dengan pekerjaan ataupun masalah, semoga bunga-bunga di atas bisa sedikit menghibur ya… 🙂

Kepada Tuhanku, terimakasih untuk segala anugerahMu. Bunga-bunga yang bermekaran dengan indah, juga banyak anugerah  yang seringkali tak terduga datangnya. Terimakasih untuk segalanya. Semuanya teramat indah.

.

.

#terimakasih juga untuk hari ini.

Pengkodean –> Pertemuan

Hujan merintik sore itu, ketika kurebahkan tubuhku sejenak melepas lelah. Kubuka-buka tulisan kawan di dunia maya, lama tak bermain-main ke sana dan berkomunikasi dengan mereka. Memang hanya sempat kubaca tanpa meninggalkan jejak apa-apa. Sampai juga aku ke halamanmu, ada dua pembaharuan di sana yang belum kubaca. Dan aku tertegun. Dua tulisan itu menyiratkan sebuah kode, yang seolah kaukirimkan untukku: aku sedang berada di kota yang sama denganmu, Mel!

Semenjak malam itu, setelah pembicaraan panjang melalui fasilitas chatting itu, aku memutuskan untuk menutup pintu komunikasi di antara kita, juga menghapusmu dari daftar teman di facebook-ku. Kamu memahami itu dan menerimanya. Tetapi ternyata tak putus sama sekali. Kamu masih sering mengirimkan kode-kode melalui tulisanmu, juga status di YM!-mu, meski kita tak melakukan komunikasi di sana. Dan dua tulisanmu ini, lagi-lagi adalah kode yang kau kirim untukku (ah, mungkin hanya ke-GR-anku saja). Aku pun tersenyum. Sudah 6 tahun kita tak bertemu, kamu berada di belahan dunia mana, dan aku di belahan dunia yang lain. Lalu dua tahun yang lalu kita dipertemukan oleh facebook, dan kita berkomunikasi, berbagi kabar melaluinya. Hingga akhirnya sesuatu menuntun kita untuk membatasi komunikasi demi kebaikan bersama. Dan saat ini, kita sedang sama-sama berada di kota yang sama. Tuhan pasti sedang punya rencana dengan menaruh kita pada titik yang berdekatan di koordinat bumi ini setelah terpisah sekian jauhnya selama bertahun-tahun. Setidaknya rencana untuk mempertemukan kita.

Kuketikkan di kolom pesan facebook, yang meskipun telah tak berteman tetapi kita masih bisa mengirimkan pesan (ah, aku membuka kembali komunikasi denganmu): “Sedang ‘menikmati’ riuhnya Jakarta? Mampirlah.” lalu kukirimkan padamu. Tak lama notifikasi berbunyi di handphoneku, ada pesan masuk di facebook. Darimu. “Bener boleh mampir?“. Kubalas dengan tanda senyum saja, dan kamu paham bahwa itu berarti anggukan.

Kamu masih sama, Gen, sama sekali tak ada yang berubah. Masih kurus, masih sipit, masih sederhana meski telah melanglang buana ke berbagai negara. Dan pertemuan setelah enam tahun tak bersua pun seolah menjadi pemecah kebekuan yang sesaat ada di antara kita setelah malam itu. Kita bercakap, bercanda, tertawa, seperti dulu saat kita masih bersama tetapi dengan kesadaran bahwa kini semuanya telah berbeda. Benar dugaanku, Tuhan punya rencana.

Di tengah kita bercerita, dari dalam terdengar sebuah lagu yang dulu pernah menjadi soundtrack hidup kita. Lalu tiba-tiba kita sama-sama terdiam, saling pandang, dan seolah tau apa yang ada di pikiran masing-masing, kita meledak dalam tawa. Tak terbayangkan jika lagu itu terdengar saat-saat dulu, sudah pasti aku tergugu. Tapi kini, kita bahkan bisa tertawa bersama.

Setelah ini, entah kapan lagi Tuhan akan mempertemukan kita. Semoga pada saat itu, kita bisa dipertemukan dalam keadaan yang ‘lengkap’: kamu bersama istri & si kecilmu dan aku pun begitu. Dan segala yang ‘masih ada’ dari masa lalu kita, semoga telah tiada pada saat itu.

Salamku untuk belahan jiwamu & buah hatimu.