Selamat Ulang Tahun…

Ini adalah postingan rutin setiap tanggal 4 Februari. Postingan tentang Bapak di hari ulang tahun Bapak. 🙂

Selamat ulang tahun ke-78, Bapak..
Semoga sehat selalu, dikarunia umur panjang, dan bahagia..

Tentang Bapak sering kutulis di blog, salah satunya adalah postingan ini. Bapak memang pribadi yang sangat menginspirasi, bagi saya terutama. Sosok yang sangat sangat sabar, rendah hati, sederhana, dan tidak neka-neka.

Bapak dulu pernah menjadi guru dan pernah menjabat kepala sekolah. Tetapi karna sesuatu hal, Bapak berhenti diberhentikan sebagai guru dengan tanpa uang pensiun. Saya yakin beberapa teman bisa menebak apa penyebabnya :). Tetapi Bapak memang benar-benar pribadi yang kuat dan sabar. Terlebih lagi, Bapak dianugerahi istri yang sangat sangat setia yaitu Ibu. Maka setelah tidak menjadi guru, Bapak dan Ibu mengawali hidup dari nol. Bapak dan Ibu berjualan jenang jagung, menumbuk jagung di malam hari, lalu dijual pagi harinya. Sampai akhirnya ada yang menawarkan pada Bapak untuk menjadi kuli bangunan. Bapak mengambil kesempatan itu. Sudah, tidak perlu bicara gengsi, yang penting bisa hidup dan menghidupi keluarga. Dari memegang bolpen dan kapur, menjadi memegang cangkul dan mengaduk semen. Berat? Tentu saja. Tetapi itulah Bapak, yang tetap bertanggung jawab terhadap keluarga bagaimanapun beratnya. Dari kepala menjadi kaki, Bapak pernah mengalaminya.

Sejak menjadi kuli bangunan, kehidupan lumayan membaik. Ibu juga bekerja menjadi penjahit di pecinan. Setidaknya setiap Sabtu, Bapak bisa membelikan susu kental manis bendera untuk kakak-kakak saya (ya, waktu itu saya belum dibentuk 🙂 ). ‘Jabatan’ Bapak pun meningkat, dari kuli bangunan menjadi tukang. Tau apa bedanya kuli bangunan dan tukang? Kuli bangunan itu yang mengaduk semen, mengangkut bata, melayani tukang. Tukang itu yang membangun, mengukur, memasang bata, dll. Dan puji Tuhan pekerjaan Bapak bagus sehingga banyak mendapat tawaran pekerjaan.

Bapak pensiun menjadi tukang setelah simbah dari Ibu meninggal dan Bapak harus mengurus sawah. Bapak menjadi petani meski tidak begitu menguasai dunia pertanian. Simbah dari Bapak bukan seorang petani, tetapi bekerja sebagai sekretaris di perusahaan rokok, dan sebagai seorang tabib (banyak orang sakit datang ke simbah, saya tidak tau persis, tetapi sepertinya Simbah mendapat karunia menyembuhkan melalui doa). Bapak belajar dari Ibu yang memang anak petani. Dan Bapak memang tekun dalam mengerjakan sesuatu. Maka Bapak pun cepat menguasai hal-hal yang berkaitan dengan dunia pertanian. Bapak juga ditunjuk menjadi ketua kelompok pertanian di desa. Kadang-kadang ada insinyur pertanian yang datang menawarkan kerjasama, maksudnya meminjam lahan Bapak untuk melakukan uji coba produknya, Bapak sekalian belajar dari insinyur tersebut. Tidak heran, dulu Bapak sempat ingin saya menjadi insinyur pertanian (kalau sekarang menyebutnya Sarjana Teknik Pertanian).

Dengan semua yang dilakukan Bapak dan sumbangsih Bapak bagi desa, tidak heran jika Bapak Lurah waktu itu rela dimutasi demi membantu kakak saya lulus sebagai pegawai negeri. Bukan, ini bukan KKN, tetapi ini atas nama keadilan. Kakak saya berulang kali lulus ujian CPNS, tetapi ketika tes kedua (saya lupa namanya kalau tidak salah ‘litsus’ singkatan dati penelitian khusus), kakak saya selalu tidak diluluskan hanya karna status Bapak dulu ketika diberhentikan dari guru, bukan karna kurangnya kompetensi dia. Kalau ada yang menyebut pelanggaran hak asasi manusia, maka inilah contohnya :). Maka Bapak Lurah pun akhirnya bertindak, berani menjamin bahwa Bapak adalah orang yang ikut ‘membangun’ desa melalui pertanian, bahwa Bapak memiliki peran dan sumbangsih bagi kemajuan desa,  maka embel-embel ET di belakang nomor KTP Bapak pun sudah seharusnya dicoret dan tidak penting. Dan dengan tindakan Pak Lurah itu, kakak akhirnya lulus menjadi PNS, yaitu menjadi guru SD dan sekarang sudah menjadi kepala sekolah. Keluarga kami sangat berterimakasih pada Pak Lurah tersebut. Peraturan tes kedua itu dihapus pada saat kementrian dalam negeri dipegang Bapak Rudini. Maka kakak saya pas dan saya bisa lulus pegawai negeri tanpa melalui tes itu (yang jika masih ada mungkin butuh jaminan Pak Lurah lagi).

Kini semua anak-anak Bapak sudah bekerja dengan pekerjaan yang layak. Harapan Bapak dikabulkan Tuhan, bahwa apa yang tidak bisa diterimanya, bisa diterima oleh anak-anak. Bapak tidak ingin anak-anak menjadi petani karna pekerjaan sebagai petani itu berat. Karnanya Bapak tidak meminta kami membantu Bapak di sawah, tetapi meminta kami untuk belajar dan belajar supaya kami bisa memperoleh kehidupan yang lebih baik dari Bapak & Ibu. Kini tidak ada lagi yang mencibir atau menghina Bapak, yang ada mereka salut kepada Bapak, dengan perjuangan yang berat Bapak bisa mengantarkan anak-anak menjadi seperti sekarang. “Semua itu karna anugerah Tuhan, bukan karna usaha Bapak” begitu Bapak seringkali menjawab jika ada yang menyampaikan kesalutannya kepada Bapak.

Usia Bapak sekarang 78 tahun. Memang sudah tidak lagi muda. Bapak sudah sering sakit, terutama setelah Ibu meninggal, Bapak jadi mudah sakit. Memang suami istri itu benar-benar belahan jiwa ya. Setelah Ibu meninggal, Bapak jadi punya hipertensi, padahal sebelumnya justru darah rendah. Bapak jadi harus mengonsumsi obat setiap hari (meskipun Bapak bandel, hanya pas tensi tinggi saja Bapak baru minum obat). Rasanya sedih kalau Bapak sedang sakit. Waktu saya di Jogja, tiap akhir minggu saya pulang untuk menemani Bapak, tetapi kalau Bapak sakit, saya bakal pp Purworejo-Jogja dengan motor. Dan Bapak tidak izinkan saya bolak/ik pakai motor. Karnanya Bapak selalu bilang: bapak udah sembuh, kamu nggak usah pulang nanti sore. Begitulah Bapak, tidak mau saya capek. Sekarang saat saya di Jepang, Bapak tidak mau bilang kalau sedang sakit. Nanti setelah sembuh, baru Bapak cerita kalau kemarin habis sakit. Bapak tidak mau saya bingung di sini kalau tau Bapak sakit (eh, mbrebes mili saya menuliskan ini :P). Ya, begitulah Bapak, terlalu baik :). Sekarang, kakak sudah tinggal di depan rumah Bapak. Bapak tidak lagi kesepian, tiap hari ada cucu yang membuat hari-harinya ceria. Juga dekat dengan kakak yang seorang perawat sehingga membuat Bapak tenang sewaktu-waktu tekanan darahnya naik. Dan puji Tuhan, Bapak dikarunia kesehatan waktu-waktu ini. Tensinya selalu normal (normal untuk ukuran Bapak) berkisar 140-150. Tiap kutelepon juga selalu terdengar bahagia. Puji Tuhan.

Tuhan, aku mohon, karuniakanlah selalu kebahagiaan dan ketenangan hati untuk Bapak. Kesehatan dan usia yang panjang bagi Bapak, sehingga Bapak bisa menangi semuanya, termasuk menangi cucu dari anak bungsunya. Terimakasih untuk kekuatan dan perlindungan yang Engkau berikan bagi Bapak selama ini. Engkaulah kekuatannya, Engkaulah sumber bahagianya, Syukur kepada-Mu ya Allah.

Bapak, Ibu (ketika masih sugeng), dan anak-anak tahun 2004 waktu pernikahan kk3. Ibu sudah sakit waktu itu. Dan setiap ada saudara yg datang, Ibu menangis. Lihat, tangan kiri Ibu memegang sapu tangan & wajah Ibu pun terlihat habis menangis.

Bapak, lebaran kemarin (belum punya foto terbaru)