Solitaire dan Sendiri

Ketika mendengar kata ‘solitaire’ sebagian besar teman-teman akan teringat pada permainan kartu di komputer. Tetapi bagi saya, ketika mendengar kata itu, ingatan saya langsung pada sosok pribadi yang suka melanglang buana sendirian. Ya, itu yang ada dalam benak saya. Sekian waktu yang lalu seorang teman saya bilang: “Mas X itu solitaire banget, sukanya ke mana-mana sendiri. Wira-wiri ke sana kemari.” Mungkin pernyataannya itu yang akhirnya tertanam dalam hati saya sehingga setiap saya mendengar kata solitaire, sosok seperti mas X-lah yang terlintas. Lalu ketika di sini, bersama dengan teman-teman dari berbagai negara, ketika memperkenalkan diri dan teman-teman menanyakan status (pernikahan), maka untuk memperhalus istilah single, kami menggunakan istilah solitaire. Rekan saya dari Rwanda yang pertama mencetuskan istilah itu. Diambil dari bahasa Perancis yang pernah menjadi bahasa nasional Rwanda. Agak sengau di akhir, jadi kami menangkapnya seperti: solitero. Jadi akhirnya pemahaman saya tentang solitaire menjadi seperti itu: seseorang yang ke mana-mana sendirian dan seseorang yang masih single. Dari dua itu memang bisa ditarik satu benang merah.

SENDIRI. Berbeda dengan apa yang terlintas ketika mendengar kata solitaire, setiap mendengar kata ‘sendiri’ dalam benak saya adalah sebuah ruang kosong, ruang tunggu, pantai, atau halaman luas dan hanya ada seorang saja di sana. Ya, sendiri. Itu yang seketika terlintas dalam ruang imajinasi saya. Mungkin begitu spontanitas berpikir seorang introvert ya. Tetapi ketika saya periksa di KBBI online, ternyata makna sendiri di sana adalah 1. seorang diri; tidak dengan orang lain; 2. tidak dibantu (dipengaruhi) orang lain; 3. tidak dibantu alat lain; 4. kepunyaan yang disebut; 5. diri dari yang bersangkutan. Baiklah, artinya spontanitas pikiran saya dengan KBBI cocok, jadi seharusnya kata penghubungnya tadi bukan ‘tetapi’ melainkan ‘dan’.

Sendiri dan pribadi mandiri. Apa hubungannya? Mari kita cari. Hehe…

Mandiri, menurut KBBI berarti keadaan dapat berdiri sendiri; tidak bergantung pada orang lain. Sedangkan sendiri, menurut makna kedua di KBBI, berarti tidak dibantu (dipengaruhi) orang lain. Jadi, dia melakukan atas inisiatif sendiri dan dilakukan oleh dia sendiri tanpa bantuan orang lain dan tidak bergantung orang lain. Mandiri sekali bukan? Saya tidak berani mengatakan diri saya ini pribadi yang mandiri. Tetapi saya memang pribadi yang sendiri. Maknailah sebagai makna pertama menurut KBBI. Mungkin ini yang dinamakan adaptasi. Dulu saya tidak bisa makan sendiri. Tetapi sekarang, bukan hanya makan, semuanya hampir saya lakukan sendiri. Mungkin kesendirian itu yang akan mengajarkan saya menjadi pribadi yang mandiri. Ketika saya harus menyiapkan segala keperluan saya sendiri, ketika saya harus mengatur keuangan saya sendiri, bahkan ketika saya juga harus bisa bersenang-senang sendiri. Bersenang-senang sendiri? Hehe… Saya suka bersepeda sendiri menuju taman sambil bawa kamera. Jepret sana sini sesuka hati. Dan saya senang. Menyenangkan diri sendiri dan bersenang-senang sendiri. Apakah itu bisa disebut mandiri? Entahlah.

Apakah pribadi yang mandiri tidak butuh bantuan orang lain lagi? Untuk benar-benar tidak membutuhkan bantuan orang, saya rasa tidak mungkin. Semandiri-mandirinya kita, tetap kita masih butuh bantuan orang lain. Karna masing-masing pribadi memiliki perannya masing-masing dalam hidup bermasyarakat. Seorang wanita mandiri yang akan melahirkan, tetap saja dia butuh dokter atau bidan untuk membantunya melahirkan. Itu salah satu contoh mudahnya. Yang lain, silakan cari sendiri. Hehe…#penulis malas #melet.

Saya pernah punya cerita yang membuat saya merasa bodoh dengan ‘kemandirian’ saya. Ceritanya jaman kuliah dulu, saya dan teman-teman mengontrak satu rumah. Berlima kami tinggal bersama. Dan karena rumah kami nyaman, hampir setiap hari ada saja yang mengunjungi kami, termasuk dia yang ehm..ehm..ada di hati. Suatu hari ketika si dia berkunjung dan kami berdua sedang mengobrol di ruang tamu, tiba-tiba teman saya yang sedang mencuci teriak-teriak dari belakang. Rupanya kran di tempat mencuci jebol. Saya langsung lari ke belakang dan dengan sok pahlawan langsung beraksi menyelesaikan masalah kran jebol tersebut. Sementara itu si dia yang juga mendengar teriakan teman saya, menggulung celana panjangnya dan menuju ke belakang. Ketika sampai belakang, saya sudah selesai membetulkan kran yang jebol. Dia tampak kecewa. Lalu bilang: “kamu ini semua bisa sendiri ya, jadi single fighter terus aja…”. Saya patah hati seketika. Rasanya ingin diputar balik waktunya dan berpura-pura tidak sanggup membetulkan kran itu sehingga dia bisa turun tangan dan menyelesaikannya. Dia merasa dibutuhkan dan saya pun bisa berterimakasih padanya atas bantuannya. Lebih romantis kan?

Yah, pesan moralnya adalah: laki-laki senang jika merasa dibutuhkan, jadi hai perempuan, buatlah laki-laki merasa dibutuhkan, asal jangan berlebihan kalau tidak mau dibilang manja. Segala yang berlebihan itu memang tidak baik. Terlalu mandiri juga tidak baik, terlalu bergantung pun tidak baik. Jadi, bersikaplah mandiri tetapi berikan juga ruang bagi pasanganmu, temanmu, keluargamu untuk menjadi ada, merasa dibutuhkan, dan melakukan perannya.

Demikian. 🙂

Tulisan ini diikutkan pada perhelatan GIVEAWAY :  PRIBADI MANDIRI yang diselenggarakan oleh Imelda Coutrier dan Nicamperenique

Satu Tahun…. (sebuah giveaway)

Bulan Februari hampir berakhir, bulan Maret segera datang. Waktu begitu cepat berlalu ya? Apakah teman-teman merasakan hal yang sama? Masih ingat bukan, 1 tahun yang lalu adalah sebuah duka bagi Jepang. 11 Maret 2011, gempa berkekuatan 9SR yang diikuti tsunami mengguncang daerah Tohoku, menyebabkan hilangnya nyawa dan harta benda. Gempa dan tsunami juga menyebabkan bocornya reaktor nuklir Fukushima yang menyebabkan kekhawatiran bagi banyak pihak. Tak terkecuali kekhawatiran bagi keluarga dan rekan-rekan saya. Ya, karena sepuluh hari setelah kejadian itu adalah keberangkatan saya ke Jepang. Dua puluh Maret duaribu sebelas, saya melambaikan tangan pada Bapak dan saudara-saudara saya di bandara.

Bulan depan tanggal 11 adalah 1 tahun bencana Tohoku di Jepang. Bulan depan tanggal 21 adalah 1 tahun saya berada di Jepang. Mengenang kedua hal itu, saya bermaksud mengadakan giveaway kecil-kecilan. Dan ini adalah giveaway pertama saya. Adapun ketentuannya adalah sebagai berikut.

Kategori 1: Mengenang 1 tahun gempa Tohoku (non fiksi)

  1. Tuliskan artikel dengan tema: “mengenang 1 tahun gempa Tohoku”. Sertakan kata-kata motivasi atau semangat bagi saudara-saudara kita yang tertimpa bencana di mana pun mereka berada.
  2. Tulisan tidak terlalu panjang, kira-kira 500 s.d. 1200 kata, menggunakan bahasa Indonesia yang baik, bukan bahasa gaul/4l4y, jika menggunakan bahasa daerah atau bahasa asing harap ditulis miring (italic) dan disertakan terjemahannya.
  3. Akan dipilih tiga orang pemenang yang masing-masing akan mendapatkan buku ‘9 Magnitude’, kumpulan kisah inspiratif pasca bencana Jepang 2011. Salah satu kontributor buku ini adalah rekan kita Inga Fety.

Kategori 2: 1 tahun Tt berada di Jepang (fiksi)

  1. Tuliskan cerita mini/flash fiction dengan tema: “empat musim”.
  2. Panjang tulisan maksimal 600 kata, menggunakan bahasa Indonesia yang baik, bukan bahasa gaul/4l4y, jika menggunakan bahasa daerah atau bahasa asing harap ditulis miring (italic) dan disertakan terjemahannya.
  3. Untuk kategori ini, teman-teman diharap menyertakan ilustrasi foto bertema “langit” hasil jepretan sendiri. Boleh berupa langit biru, awan, senja, fajar, pelangi, bulan, bintang, atau apapun yang penting tentang langit. Boleh diambil menggunakan kamera HP, kamera analog, kamera saku digital, DSLR, punya sendiri maupun pinjeman yang penting hasil jepretan sendiri.
  4. Akan dipilih 3 orang pemenang yang masing-masing mendapatkan buku “Suburban Love”, kumpulan cerpen karya sahabat saya Catastrova Prima.

Ketentuan Umum:

  1. Teman-teman yang ingin mengikuti giveaway ini harus memiliki blog, tulisan adalah hasil karya sendiri dan diunggah di blog sendiri.
  2. Tulisan tidak mengandung SARA dan tidak mengandung ilustrasi berupa wajah orang lain.
  3. Teman-teman boleh mengikuti kedua kategori, masing-masing kategori hanya boleh mengikutkan satu tulisan.
  4. Pada akhir tulisan, cantumkan keterangan “Tulisan ini diikutkan pada Giveaway Satu Tahun dari blog celoteh .:tt:. “. Pada tulisan ‘giveaway satu tahun’ tautkan pada postingan ini, sedangkan pada tulisan ‘celoteh .:tt:.’ tautkan pada blog ini.
  5. Teman-teman di luar Indonesia harus memiliki alamat di Indonesia.
  6. Karya teman-teman didaftarkan pada kolom komentar postingan ini dengan format:
    Nama          :
    URL             : (tautan harus hidup untuk memudahkan pencarian)
    Kategori    :
  7. Waktu pelaksanaan sampai dengan tanggal 20 Maret 2012 31 Maret 2012 pukul 23.59 WIB.
  8. Tanggal pengumuman akan diberitahukan kemudian.
  9. Karena ini merupakan giveaway solitaire dan sendiri, maka jurinya adalah saya sendiri 😀

Jadi begitu teman-teman. Silakan mengikuti giveaway kecil-kecilan ini.

Salam.

Satria dan amerta

Senja mulai surut di cakrawala. Jingga itu, mereka bilang candikala, indah memburat di langit barat. Lelaki masih terpekur di tepi pantai, merenungi takdir yang tak menyatukannya dengan yang tercinta. Tidakkah kau takut Buta Kala menelanmu, wahai Lelaki? Bisikan itu menelusup di hatinya. Lelaki bergeming. Dari arah laut seorang perempuan berkain putih mendekatinya. Lelaki merasakan udara tiba-tiba menjadi sangat dingin. Siapakah perempuan ini?

“Apa yang mendukakanmu, hai Lelaki? Ceritakan padaku luka hatimu. Aku bisa menolongmu.”

“Siapa kamu?” Lelaki merapatkan kain yang membalut tubuhnya, dingin semakin terasa. Tiba-tiba bisikan tadi terdengar lagi. Apakah dia Buta Kala yang mewujud menjadi perempuan cantik?

“Hahaha….mengapa kau berpikir demikian? Tenangkanlah hatimu. Aku tidak akan mencelakaimu. Aku akan menolongmu.”

Lelaki terkejut. Bagaimana perempuan ini bisa tahu apa yang dipikirkannya. Jangan-jangan ia tahu pula apa yang menimpanya, apa yang sesungguhnya terjadi padanya, dan apa yang diharapkannya. Lelaki tidak berani melanjutkan pikiran-pikirannya. Ia takut perempuan itu akan membacanya.

“Jadi kau tidak mau menceritakannya? Baiklah, aku pergi.” Perempuan itu bangkit dan melangkah, tetapi dengan spontan Lelaki meraih tangannya dan mencegahnya pergi.

“Tunggu!!” Bulu kuduk Lelaki meremang. Tangan yang dipegangnya begitu halus, ia seperti sedang menyentuh kain beludru.

“Aku hanya ingin bisa bersatu dengan perempuanku. Tetapi takdir tidak menyatukanku dengannya. Bisakah kau membantuku, menyatukan kami di kehidupan kedua?”

“Minumlah ini, amerta, minuman keabadian para dewa. Kau akan bertemu dengannya di kehidupannya yang kedua. Semoga saat itu takdir menyatukan kalian berdua.”

Lelaki menatap botol kecil di genggamannya. Dia tak pernah tau cairan ini sebelumnya. Cairan keabadian? Akan mempertemukannya dengan kekasihnya di kehidupan kedua? Berbagai pertanyaan berpusar di kepalanya.

“Terimaka…” dan Lelaki kembali terkejut. Perempuan itu sudah lenyap entah ke mana.

***

“Arini, bertahanlah…” Satria menggenggam tangan Arini -istrinya- yang tak bereaksi apa-apa. Selang-selang di tubuhnya, bunyi perekam denyut jantung yang semakin perlahan, semua tampak tak menunjukkan harapan.

“Aku sangat mencintaimu, Arini…”

Aku juga sangat mencintaimu Satria. Sejak pertama bertemu, aku merasa telah lama mengenalmu, dan aku langsung jatuh cinta padamu.

“Mengapa takdir begitu kejam kepadaku? Ratusan tahun aku menunggumu tetapi hanya 3 tahun kita ditakdirkan bertemu dan hidup bersama.”

Apa maksudmu Satria? Apa maksudmu dengan “ratusan tahun”? Aku tidak mengerti.

“Akan kuceritakan sebuah rahasia padamu, Arini. Kita, di kehidupan yang lalu, saling mencintai. Tetapi takdir tak menyatukan kita. Kamu adalah istri kakakku. Lalu di suatu senja aku bertemu dengan seseorang, mungkin dia utusan langit, yang memberiku air suci amerta, air keabadian yang menjadikanku tak pernah mati. Lalu kau datang lagi Arini. Kita akhirnya bisa bersama di kehidupan saat ini. Jadi….tolong jangan pergi Arini…..” suaranya parau bercampur tangis.

Satria….

Air mata mengalir di sudut mata Arini. Tubuhnya tetap tidak bergerak. Denyut jantungnya semakin melemah…melemah….gelap…

***

Ini adalah senja ke-empatpuluh yang Satria habiskan di tepi pantai sejak kematian Arini. Dia menanti perempuan berkain putih itu datang lagi. Tetapi hingga gelap datang, tak pernah didapatinya perempuan bertangan halus itu.

“Wahai dewi, berikanlah padaku penawar amerta-mu. Aku ingin bersama kekasihku di surga. Aku ingin keabadian di sana. Berikanlah penawar amerta-mu!!”

Setiap hari diteriakkannya permohonan itu. Tetapi perempuan itu tak pernah datang. Ia sedang menari bersama Arini di surga. Sesungguhnya ia hanya menolong Arini bertemu lagi dan bersatu dengan kekasihnya. Tetapi bukan menolong lelaki itu.

***
**
*

Cerita di atas hanya sekedar fiksi belaka, ditulis dalam rangka meramaikan Kontes Flashfiction Ambrosia yang diselenggarakan Dunia Pagi dan Lulabi Penghitam Langit.

#FF 519 kata

Berbagi Kasih

Pulang kerja ini, Mama langsung mendapati muka cemberut gadisnya yang beranjak remaja. Dan tak seperti biasanya, hari ini tak ada cerita menghambur dari bibir mungilnya seperti biasa setelah Lala mencium tangan Mama. Hmm..Mama bertanya-tanya.

“Kenapa Sayang? Kok mukanya cemberut gitu?”
“Nggak papa! Udah Mama ganti baju dulu sana aaaah…” aduh, ini Mama malah diusir sama Lala.
“Ya udah kalau nggak mau cerita. Mama ganti baju dulu ya.”

Mama bergerak ke kamar. Tapi tak hanya ganti baju. Di kamar, Mama menyalakan komputer dan mulai blogwalking. Ya, mama memang seorang blogger ( :mrgreen: ). Dan ketika membuka blog seorang kawan, hati Mama menangis. Mama sedih melihat anak-anak di bagian lain Indonesia yang masih kekurangan sarana dan prasarana untuk pendidikan. Tidak seperti Lala yang kecukupan fasilitas belajar. Bahkan satu mata pelajaran, Lala bisa punya dua tiga buku bacaan, ditambah lagi Lala bisa mencari referensi melalui internet.

“Maaaaa….!! Mama lama sekali ganti bajunyaaaa???” Lala berteriak dari luar sana.
“Iya Sayang…sebentar…” buru-buru Mama turun dari kursi dan keluar menghampiri gadisnya.
“Habisnya Mama dicemberutin sih sama Lala.” aih…Mama beralasan.
“Lala sebel Ma. Tadi temen-temen pada kasih coklat ke cowoknya. Lala nggak ngasih apa-apa ke Bagas. Habisnya Mama nggak ngasih waktu Lala minta tambahan uang saku buat beliin Bagas coklat.” gadis kelas 2 SMP ini merajuk ke mamanya.
“Emang hari ini Bagas ulang tahun?” tanya mama lugu.
“Aduh Maaaa……hari ini kan Valentine Maaaaa!!!” makin cemberut deh si Lala. Dan si mama merasa benar-benar sudah tua, lupa lah kalau hari ini valentine dan anak gadisnya sedang dalam masa puber yang pastinya lagi seru-serunya sama teman-temannya merayakan cinta monyet di hari ini. Tapi mama bersikap cool donk.
“Emang Valentine itu apa si Sayang?”
“Valentine itu hari kasih sayang, Ma. Emang jaman muda dulu mama nggak ngerayain Valentine Ma?”
“Ooh..hari kasih sayang? Trus kalau hari kasih sayang gitu, kita harusnya ngapain?” Mama pura-pura nggak tau. Padahal dulu kalau Papa nggak ngasih coklat, mama bakal cemberutin papa satu minggu. Hahaha….
“Ya berbagi kasih Ma. Kasih coklat ke cowok kita gitu…” Gotcha! Mama dapat kata kunci yang keluar dari mulut Lala sendiri : “berbagi kasih”.
“Emang harus ke cowoknya gitu? Nah kalau nggak punya pacar gimana?”
“Ya nggak juga si Ma…..”
“Sini deh Sayang…” Mama membawa Lala ke kamar dan menunjukkan foto adik-adiknya di Maluku yang kekurangan fasilitas belajar.
“Coba liat mereka…”

anak-anak di SD YPPK Manusela, Seram Utara diambil dari blog acacicu.

“Mereka adik-adikmu di Maluku sana. Mereka ingin pintar juga seperti kamu. Tapi untuk membeli buku mereka tidak mampu. Lihat itu, mereka tidak mampu beli pensil, sehingga hanya memakai isi pensil yang tinggal seuprit buat nulis. Itu perpustakaan mereka. Bisa dihitung berapa buku yang tersedia.”
“Hebat ya Ma mereka.. Padahal fasilitasnya sangat minim begitu…” ada iba dalam kalimat Lala, tapi juga kekaguman pada adik-adiknya.
“Katamu hari ini hari Valentine. Dan kamu bilang hari Valentine itu buat berbagi kasih. Kenapa nggak berbagi kasih sama mereka saja?”
“Emang kita mau ke sana Ma?”
“Ya kan nggak harus ke sana.. Kita kirimkan buku-buku buat mereka, supaya mereka juga bisa belajar dengan baik. Atau buku tulis, atau pensil, atau apa saja untuk fasilitas belajar mereka. Itu lebih bermanfaat bukan?”
“Waaah….iya Ma. Lala kan masih punya buku-buku SD di kardus. Masih bagus kok Ma. Nanti Lala pilihin lagi ya Ma. Daripada cuma disimpan di kardus, pasti lebih berguna kalau dikirim ke mereka.” Lala bersemangat, dan Mama tersenyum lega melihat hati anaknya terbuka.
“Ma, kalau Lala minta tambahan uang saku buat beliin mereka pensil, boleh Ma?”
“Boleh..” Mama tersenyum senang.
“Ayo Ma, bantuin Lala pilihin buku-bukunya.” Lala begitu antusias. Dan Mama senang sekali melihat gadisnya ini terbuka pikirannya bahwa Valentine bukan hanya hari berkasih-kasihan dengan pacar, tetapi lebih luas dari itu, mengingatkan kita untuk berbagi kasih kepada mereka yang membutuhkan.

***

Bagi teman-teman yang juga ingin membantu adik-adik kita di SD YPPK Manusela Seram Utara, info lengkapnya bisa dibaca di blog mb Anazkia. Mari berbagi kasih, berbagi cinta, berbagi harapan….

Denting

Denting yang berbunyi
dari dinding kamarku
sadarkan diriku dari
lamunan panjang..
Tak terasa malam
kini semakin larut

kumasih terjaga.

Sayang kau di mana
aku ingin bersama…
Aku butuh semua
untuk tepiskan rindu..
Mungkinkah kau di sana
merasa yang sama

seperti dinginku di malam ini?

Rintik gerimis mengundang kekasih
di malam ini kita menari dalam rindu yang indah..
Sepi kurasa hatiku saat ini, oh Sayangku
jika kau di sini, aku tenang…..

Sayang, kau di mana?? Aku ingin bersama…...

pic

Sup Krim Labu

Pagi tadi seorang teman memberi saya labu. Saya tidak tau bagaimana cara mengolah labu. Dulu Ibu tidak pernah masak labu (kecuali labu siam atau kami menyebutnya jipang) karna Bapak tidak suka labu. Begitulah, karna Bapak ndak suka labu, kami jadi tidak tau bagaimana rasa labu dan bagaimana mengolahnya 😛 #alasan (atau sebenarnya saya pernah makan tapi nggak ngeh ya?). Eh tapi ada yang Bapak ndak suka, tapi Ibu tetap memasaknya, yaitu jengkol. Hihihi…kami selalu tertawa geli setiap Ibu pulang dari pasar bawa jengkol, Bapak akan berujar: ‘wah, egois iki, sik iso maem mung Ibu thok’. Dan akan dijawab Ibu “Kan mung kala-kala to Pak, nggo tamba kepingin”. Hihihi…. Kebetulan memang serumah yang suka jengkol cuma Ibu. Kk1 juga suka ding. Jadi kalau pas kebetulan kk1 datang, Ibu jadi punya teman buat makan jengkol. Eh, kok jadi bahas jengkol. Ayo fokus ke postingan :D.

Sepulang kuliah tadi saya mikir-mikir, ini labu mau diapain ya? Dan seperti biasa, search di internet untuk mencari jawabnya. Dan ketemulah resep sup krim labu kuning di sini. Sepertinya mudah nih. Akhirnya saya pilih resep itu dan bergerak ke dapur. Sewaktu mengupas labu, aduh, ternyata sulit ya, keras. Jadi saya potong dulu kecil-kecil baru saya kupas. Dan ternyata motongnya pun butuh tenaga, keras juga labu itu, kupikir empuk je. Setelah terkupas, saya cuci dan potong kecil-kecil. Tumis bawang putih dan bawang bombay cincang, masukkan labu dan masukkan air kaldu. Aduk-aduk sampai labu empuk. Eh, ternyata labu cepet empuknya ya. Hihi…saya bener-bener baru sekali ini mengolah labu, jadi banyak surprise 😛 . Lalu diblender, dimasak lagi ditambah susu, keju, garam, dan merica bubuk. Taraaa…jadi deh. Mudah bukan untuk membuatnya (ala Sisca Suwitomo).

Dan inilah hasil eksperimen saya dengan buah labu siang tadi. Selamat menikmati 🙂

This slideshow requires JavaScript.

#Ternyata enak lho labu itu. Dan setelah buka postingan mas Alamendah tentang labu, ternyata labu banyak manfaatnya. Kenapa Bapak ndak suka ya? Sepertinya musti kumasakin labu ntar kalau pulang, biar Bapak berubah jadi menyukai labu. Hehe…

Update:

Berdasarkan permintaan Pakdhe Cholik, akhirnya saya tambahkan resep membuat sup krim labu ini secara sistematis, di mana resep ini saya ambil dari sini.

Bahan:
1 sdm margarin
2 sdm minyak goreng
2 siung bawang putih, cincang
50 gr bawang bombai, cincang
550 gr labu kuning, potong-potong
750 ml kaldu sapi
250 ml susu segar (dapat diganti susu yg biasa diminum si kecil)
1/2 sdt garam
1/2 sdt merica bubuk
2 sdm keju cheddar parut

Bahan crouton:
4 lembar roti tawar dioles sedikit mentega, taburi oregano bubuk.
Potong ukuran dadu 1 cm dan panggang sebentar.

Cara membuat:
1. Panaskan margarin dan minyak goreng. Tumis bawang putih dan bawang bombai hingga layu.
2. Masukkan labu kuning dan aduk sebentar. Masukkan air kaldu dan masak dengan api kecil sampai labu kuning lunak. Setelah itu, angkat dan biarkan agak dingin. Blender sampai lembut.
3. Panaskan kembali dan masukkan susu/krim. Tambahkan garam, merica, dan keju. Angkat setelah mendidih.
4. Sajikan hangat-hangat dengan taburan roti panggang/crouton

Untuk: 6 porsi