Galih dan Ratna

Gerimis masih menyisakan irama ritmis. Pembicaraan hati masih berlanjut. Sama sendunya dengan suasana di luar.

“Kenapa kamu tak sabar menantiku, Rat?” tanpa tenaga Galih mengucapkannya.
“Kamu hilang Ga, kamu hilang…!! Tak ada yang bisa kutanya tentang keberadaanmu. Ibumu bahkan menanyakannya padaku dan aku tidak bisa menjawab apa-apa. Semua keluargamu menelepon, datang, dan menanyakan keberadaanmu sementara aku juga kehilanganmu. Kamu hilang Ga…”
“Aku pergi untuk masa depan kita Rat.”
“Tanpa kabar berita bertahun-tahun lamanya?”
“…”
“Tiap hari aku menantimu, Ga. Di setiap doaku kumohon engkau segera kembali. Tiap kali Ibumu menelepon aku hanya bisa berkata ‘sabar ya Bu, Ratna berdoa supaya mas Galih cepat pulang’. Sampai lama-lama Ibumulah yang berbalik menyabarkanku. Kamu tidak tau rasanya kehilanganmu, Ga.”
“…”
“Aku sendiri masih bisa bersabar Ga. Aku masih setia menantimu. Dengan bekal impian-impian kita, aku masih meyakini kita akan meraihnya. Juga cincin di jari manisku, menguatkanku untuk tetap menantimu. Meyakinkanku kamu pasti kembali.”
“…”
“Aku tau saat itu dik Dewi dan dik Bimo sudah ingin melanjutkan hubungan mereka ke pernikahan. Aku tau dik Dewi tak mau melangkahiku dengan menikah duluan. Aku tau kegalauan dik Dewi saat itu, sampai akhirnya dik Dewi memberanikah diri bicara kepadaku.”

“Mbak Ratna, bagaimana perkembangan kabar mas Galih? Sudah ada titik terang?”
“Belum Dik. Masih sama. Buram.”
“Mbak…maaf kalau aku menambah pikiran mbak Ratna. Tapi…”
“Ada apa Dik? Bicara saja..”
“Mas Bimo dapat tugas kerja ke Jepang selama 3 tahun mbak.”
“Wah, selamat ya Dik, selamat juga untuk dik Bimo. Semoga semuanya lancar.”
“Makasih Mbak.. Ibunya mas Bimo ingin kami menikah sebelum mas Bimo berangkat, supaya aku bisa ikut ke sana dan menemani mas Bimo selama di sana.”

“Kamu tau Ga bagaimana perasaanku saat itu? Aku berharap saat itu juga kamu datang dan esok hari kita menikah….. Tapi ternyata tidak kan? Aku mempersilahkan dik Dewi untuk menikah duluan. Tapi dik Dewi tetap bersikukuh untuk tidak melangkahiku. Pun ibuku tidak mengizinkan dik Dewi melangkahiku. Ibu masih dengan kepercayaannya ndak ilok seorang kakak dilangkahi, apalagi sama-sama perempuan.”
“…”
“Ga, maafkan aku kalau akhirnya aku putus asa. Ibu menyarankanku untuk melupakanmu. Sudah dua tahun kamu pergi tanpa kabar.”

“Mbak, Ibu tau perasaanmu. Ibu tau. Tapi cobalah berpikir realistis. Sudah dua tahun Nak Galih pergi tanpa kabar. Bahkan keluarga Nak Galih pun tidak tau di mana Nak Galih sekarang. Cobalah pikirkan masa depanmu, Mbak. Kamu tidak bisa selamanya menunggu tanpa kepastian.”
“…”
“Kamu tau, dik Dewi dan nak Bimo ingin segera menikah karna dik Bimo harus berangkat ke Jepang tahun depan. Ibu sangat senang dengan keputusan mereka. Tapi Ibu tidak mau melanggar adat keluarga kita. Ibu tidak ingin apa yang orang tua bilang terjadi padamu Mbak. Karnanya lupakanlah Nak Galih, dan cobalah untuk memikirkan masa depanmu, juga masa depan adikmu.”

“Hatiku rasanya hancur saat itu. Aku harus bagaimana? Kupandangi cincin di jari manisku. Ada namamu di sana. Haruskah aku melepaskannya lalu melupakanmu?!”
“…”
“Tak ada yang bisa kulakukan selain memohon petunjukNya. Dalam sujudku kumohonkan jalan keluar dari ini semua. Aku menyerah. Aku pasrah. Aku bahkan tidak lagi memohon engkau kembali. Yang aku mohon hanyalah jalan keluar. Sampai suatu hari aku merasa Allah memberikan jawabannya. Aku harus melepaskanmu. Aku tidak boleh egois. Sementara kamu pun tidak jelas ada di mana. Aku harus realistis.”
“…”
“Aku dan Ibu datang ke rumahmu. Ibumu menyambutku dengan gembira sekaligus sedih. Setiap kali melihatku Ibumu selalu sedih karena teringat akanmu. Bapak pun tak kalah sedihnya, hanya saja Bapak masih bisa menahannya. Aku tak kuasa untuk berkata-kata saat mengembalikan cincin pemberianmu……..dan memutuskan pertunangan kita.”

“Maafkan Ratna, Ibu….” kataku sambil terisak.

Ibumu menangis tersedu-sedu. Aku tak kalah sedihnya, lebih sedih dari Ibumu.

“Maafkan Galih ya Nak….”

“Sejak saat itu aku mengizinkan siapa saja mengenalkan seseorang yang baik yang mau menikahiku. Hanya enam bulan waktuku sebelum dik Bimo berangkat ke Jepang. Dan syukur kepada Allah Yang Maha Mengetahui, seorang temanku mengenalkanku dengan sahabatnya yang juga sedang mencari pendamping hidup…. Aku menerima biodata laki-laki itu, kupelajari dan aku rasa dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Akhirnya kami sepakat bertemu dengan temanku itu sebagai perantaranya. Kami dua kali bertemu, kemudian melanjutkan komunikasi lewat handphone, dan akhirnya dia datang ke rumah dan mengenalkan dirinya pada Ibu.”
“…”
“Tak perlu waktu lama, dua minggu kemudian dia datang dengan keluarganya untuk melamarku.”
“Kamu mencintainya, Rat?”
“Aku tidak tau Ga… Saat itu aku tidak memikirkan cinta. Yang aku rasa, dia laki-laki yang baik, mapan, bertanggung-jawab, dan selama berkomunikasi dengannya beberapa waktu, kami nyambung.”
“Saat ini?”
“Aku rasa Tuhan memberikan keadilan Ga… Saat itu dia menjadi penolongku, penolong adikku juga, sehingga akhirnya kami berdua bisa sama-sama menikah di hari yang sama satu minggu sebelum mereka berangkat. Tuhan menumbuhkan rasa itu Ga…”
“Rat….aku mencintaimu….”
“Maafkan aku, Ga…”
“…”
“Aku rasa semua penjelasanku ini cukup bagimu. Aku harus pulang. Aku berharap engkau menemukan seseorang yang lebih setia dariku, namun kuharap kau tidak mengulangi kesalahan itu lagi. Sampaikan salamku untuk Ibu.” Ratna bersiap pulang. Galih mencoba menahannya dan memegang tangan Ratna namun ditepisnya.
“Rat….”
“…”
“Semoga kamu bahagia…”
“Terimakasih Ga. Semoga kamu juga…”

Matahari telah mengintip meski gerimis belum sepenuhnya hilang. Di ujung langit berpendar cahaya putih menjadi selengkung pelangi. Galih dan Ratna, akhir kisah mereka…