Kuterima pinangannya sebelum aku mencintainya

Sebenarnya saya sedang pusing nyari ide buat tugas kuliah. Tapi berhubung belum nemu juga, jadilah saya istirahat dulu dan main ke dunia blog. Waktu baca lagi cerita Galih dan Ratna, saya jadi ingat cerpen lama saya (belum lama-lama banget sih) yang saya upload di facebook. Saya baca lagi, eh..kok rasanya nyambung sama cerpen yang kemarin, bisa jadi sekuelnya nih. Hihi…sekuelnya malah udah ditulis duluan :P. Ya udah, saya post di sini juga ya. Meskipun nggak nyambung-nyambung banget, tapi disambung-sambungin ya. Hehe…maksa… 😀

——————————————

Kuterima pinangannya sebelum aku mencintainya

“Ibu, aku mau menikah dengan Ayah.”
“Kenapa nak? Kamu tidak  boleh menikah dengan Ayah, dia suami Ibu. (senyum)”
“Kalau Ibu sudah selesai menikahi Ayah, bolehkah aku menikahi Ayah?”
“Hihi.. Ibu tidak akan pernah selesai, Nak. Kau harus menikah dengan orang lain.”
“Boleh aku mengenakan kebaya putih panjang itu Bu?
“Tentu saja.”
“Dimana kami akan hidup bahagia selamanya.”
“Jika kau menikah dengan orang yang sangat mencintaimu.”
“Seperti Ayah.”
“Ya, seperti Ayah.”

Kupeluk gadis kecilku erat. Kubelai rambutnya supaya dia segera tidur. Sementara pikiranku bermain-main ke masa lalu. Masa 8 tahun yang lalu ketika kuputuskan mengakhiri penantian panjangku dengan menerima pinangan seseorang yang tak pernah kucintai sebelumnya. Seseorang yang datang tanpa bunga, tanpa coklat, tanpa puisi cinta. Memang aku sudah mengenal dia sebelumnya. Dia hanya datang tiga kali: pertama menawarkan masa depan bersamaku dengan cinta sederhana, kedua: menanyakan jawabanku, ketiga: melamarku ke orang tuaku. Kami menikah. Dia mendasari pernikahan kami dengan niat tulus, membangun keluarga, meraih surga dalam keluarga. Dengan cinta sederhana, dengan pengertian, dengan tanggung jawab. Bukan cinta yang menggebu, bukan cinta yang penuh cemburu, bukan cinta yang mengharuskan kamu menjadi seperti yang kumau. Aku menerimanya karna ketulusannya, karna tanggung jawabnya, dan karna niatnya membangun keluarga sebagai ibadah kepada-Nya. Dia mencinta-Nya, menghidupkan hidupnya demi mencintai-Nya. Aku menerimanya bukan karna aku telah mencintainya. Bukan. Saat itu aku hanya ingin segera beranjak dari penantian panjang tanpa kepastian. Penantianku, penantian adikku, penantian kami. Sesungguhnya kami tak tau kapan penantian itu akan beraakhir. Dan aku memilih mengawalinya. Aku memilih masa depan yang lebih pasti, bersama dia yang berani menawarkannya.

Saat itu aku berpikir lebih baik aku mengalah. Ya, aku menempatkan diriku dalam posisi ‘kalah’ ketika aku memutuskan melepaskan harapan yang telah kugantung bertahun-tahun lamanya. Tapi ternyata aku keliru. Aku bukan menjadi yang kalah, tapi aku justru menang, menang melawan cinta yang menepikan logika, menang melawan keegoisanku, menang melawan hawa nafsuku, menang melawan ketakutanku akan masa depan tanpa seseorang itu. Meski aku hanya manusia biasa yang tak mudah mengikhlaskan apa yang dicintainya. Namun bersama dia, aku mampu belajar mengikhlaskan masa lalu, dan mulai belajar mencintainya. Tak sekali dua kali aku menangis ketika mengingat masa lalu. Namun dia dengan segala pengertiannya mampu menghapus air mataku, menenangkanku, mengajakku berdoa. Dia bahkan tidak marah ketika tahu bahwa ingatan akan masa lalu-lah yang mengalirkan air mataku. Dan waktu mendewasakan semuanya. Mengikhlaskan masa lalu, juga mengikhlaskan diri menjalani hidup mengikuti kehendakNya, bukan kehendakku.

Belajar mencintai memang tak semudah membalikkan tangan. Belajar setiap hari, sampai aku lelah dan memilih membiarkan semuanya mengalir seperti air. Aku memegang komitmen yang telah kuucap di depan Tuhan dan jemaat, untuk menerimanya menjadi suamiku, mencintainya dalam susah dan senang, dalam untung dan malang, dalam sehat dan sakit, menghormatinya dan patuh kepadanya. Dan aku pun mengingat janji yang juga dia ucap, bahwa dia menerimaku sebagai istrinya, mencintaiku dalam susah dan senang, dalam untung dan malang, dalam sehat dan sakit, melindungiku, dan bertanggung jawab atasku. Perjanjian itulah yang meneguhkan pernikahan kami, mengikat kami dalam kesucian pernikahan. Berpegang pada janji itu membuat kehidupan pernikahanku kujalani dengan ringan dan bahagia. Aku tak memaksakan diri untuk mencintainya. Namun ternyata, cinta itu telah tumbuh dengan sendirinya. Cinta yang dewasa. Bukan cinta membara yang mudah mati ketika badai masalah menerpa.

Tuhan mengajar melalui masalah dan pengalaman. Kehidupan pernikahanku mengajarkanku bahwa cinta bukanlah segala-galanya. Apalagi jika yang disebut cinta itu adalah ketika kamu tak bisa tidur karna merindukannya, ketika kamu marah ketika dia lupa membalas pesanmu, ketika kamu cemburu ketika dia izin makan malam dengan koleganya. Ah, cinta menggebu itu mudah mati, sangat mudah mati, jika kita tidak menumbuhkannya menjadi cinta yang dewasa. Cinta yang mengedepankan saling pengertian, cinta yang menempatkan percaya dan setia, cinta yang mengingat komitmen yang telah diucapkan bersama-sama dan cinta yang bertanggung jawab untuk mempertahankan komitmen itu. Aku pun mulai belajar untuk lebih mengerti suamiku, setia kepadanya, bertanggung jawab atas apa yang telah kuikrarkan. Menutup buku masa lalu, dan membuka buku baru yang sama sekali baru. Kami berdua memegang pena kami masing-masing dan menuliskan kisah hidup kita di buku yang sama. Karna hidup kami sekarang telah menjadi satu meski dalam dua raga, dua pena.

Puji nama Tuhan yang telah memilihkan suami yang begitu mengasihiku. Suami yang tetap mengasihiku sejak aku belum mencintainya. Suami yang bersamanya mampu kuhapus masa lalu, menjadikannya hanya kenangan semata. Jika kamu ingin bahagia dengan masa depanmu, tutuplah masa lalumu. Percayalah, ketika kamu kehilangan sesuatu, Tuhan telah menyediakan yang baru jika kamu mengikhlaskan kepergiaannya. Bahkan Tuhan akan memberimu lebih. Aku telah belajar dari itu semua. Tuhan tak hanya memberiku suami yang mencintaiku, tapi juga putri kecil kami, Langit, tempat ditaburnya segala keindahan.

Ah…suara motor suamiku terdengar. Dia sudah pulang dari lembur di kantornya. Putri kecilku sudah lelap di pelukku. Kulepas pelan pelukannya dan kubukakan pintu untuk suamiku.

“Capek Yah?”
“Sedikit. Tapi melihatmu, capek Ayah hilang.”
“Aih..Ayah merayu. Sudah, mandi dulu sana, biar capeknya bener-bener hilang.”

Suamiku menurut saja apa kataku. Dia mandi sementara kusiapkan makan malam untuknya..juga untukku. Aku memang menunggunya pulang untuk makan malam bersama. Selesai mandi, kami duduk berdua di meja makan, bercerita banyak hal di meja makan, biasanya tentang pekerjaannya dan obrolan seputar keluarga. Kami melanjutkan obrolan di sofa depan tv. Kuceritakan padanya tentang putri kecil kami.

“Ayah, tadi ada yang minta izin sama Ibu untuk menikahi Ayah.” kupasang ekspresi datar. Dia terkejut.
“Ibu, jangan bercanda ah. Ayah tidak pernah punya pemikiran untuk menikah lagi. Siapa dia Bu?”
“Lala, Yah. Lala ingin menikahi Ayah. Katanya kalau Ibu sudah selesai menikahi Ayah, dia mau menikah dengan Ayah.”
“Hahaha..Lala ada-ada saja..lalu Ibu bilang apa?”
“Tentu saja Ibu tidak izinkan. Ayah kan suami Ibu, Ibu tidak akan pernah berhenti menikahi Ayah. Kamu harus menikah dengan orang lain yang mencintaimu, seperti Ayah, tapi bukan Ayah.”
“Hihihi…Ibu yang hebat.” lalu ciuman pun mendarat di pipiku dan cumbuan demi cumbuan mengikutinya.

Ah, maaf ya, harus kuakhiri tulisan ini sampai di sini. Aku tidak ingin kalian tau apa yang selanjutnya terjadi.. ^_^

——————————————————————————————

Galih dan Ratna

Gerimis masih menyisakan irama ritmis. Pembicaraan hati masih berlanjut. Sama sendunya dengan suasana di luar.

“Kenapa kamu tak sabar menantiku, Rat?” tanpa tenaga Galih mengucapkannya.
“Kamu hilang Ga, kamu hilang…!! Tak ada yang bisa kutanya tentang keberadaanmu. Ibumu bahkan menanyakannya padaku dan aku tidak bisa menjawab apa-apa. Semua keluargamu menelepon, datang, dan menanyakan keberadaanmu sementara aku juga kehilanganmu. Kamu hilang Ga…”
“Aku pergi untuk masa depan kita Rat.”
“Tanpa kabar berita bertahun-tahun lamanya?”
“…”
“Tiap hari aku menantimu, Ga. Di setiap doaku kumohon engkau segera kembali. Tiap kali Ibumu menelepon aku hanya bisa berkata ‘sabar ya Bu, Ratna berdoa supaya mas Galih cepat pulang’. Sampai lama-lama Ibumulah yang berbalik menyabarkanku. Kamu tidak tau rasanya kehilanganmu, Ga.”
“…”
“Aku sendiri masih bisa bersabar Ga. Aku masih setia menantimu. Dengan bekal impian-impian kita, aku masih meyakini kita akan meraihnya. Juga cincin di jari manisku, menguatkanku untuk tetap menantimu. Meyakinkanku kamu pasti kembali.”
“…”
“Aku tau saat itu dik Dewi dan dik Bimo sudah ingin melanjutkan hubungan mereka ke pernikahan. Aku tau dik Dewi tak mau melangkahiku dengan menikah duluan. Aku tau kegalauan dik Dewi saat itu, sampai akhirnya dik Dewi memberanikah diri bicara kepadaku.”

“Mbak Ratna, bagaimana perkembangan kabar mas Galih? Sudah ada titik terang?”
“Belum Dik. Masih sama. Buram.”
“Mbak…maaf kalau aku menambah pikiran mbak Ratna. Tapi…”
“Ada apa Dik? Bicara saja..”
“Mas Bimo dapat tugas kerja ke Jepang selama 3 tahun mbak.”
“Wah, selamat ya Dik, selamat juga untuk dik Bimo. Semoga semuanya lancar.”
“Makasih Mbak.. Ibunya mas Bimo ingin kami menikah sebelum mas Bimo berangkat, supaya aku bisa ikut ke sana dan menemani mas Bimo selama di sana.”

“Kamu tau Ga bagaimana perasaanku saat itu? Aku berharap saat itu juga kamu datang dan esok hari kita menikah….. Tapi ternyata tidak kan? Aku mempersilahkan dik Dewi untuk menikah duluan. Tapi dik Dewi tetap bersikukuh untuk tidak melangkahiku. Pun ibuku tidak mengizinkan dik Dewi melangkahiku. Ibu masih dengan kepercayaannya ndak ilok seorang kakak dilangkahi, apalagi sama-sama perempuan.”
“…”
“Ga, maafkan aku kalau akhirnya aku putus asa. Ibu menyarankanku untuk melupakanmu. Sudah dua tahun kamu pergi tanpa kabar.”

“Mbak, Ibu tau perasaanmu. Ibu tau. Tapi cobalah berpikir realistis. Sudah dua tahun Nak Galih pergi tanpa kabar. Bahkan keluarga Nak Galih pun tidak tau di mana Nak Galih sekarang. Cobalah pikirkan masa depanmu, Mbak. Kamu tidak bisa selamanya menunggu tanpa kepastian.”
“…”
“Kamu tau, dik Dewi dan nak Bimo ingin segera menikah karna dik Bimo harus berangkat ke Jepang tahun depan. Ibu sangat senang dengan keputusan mereka. Tapi Ibu tidak mau melanggar adat keluarga kita. Ibu tidak ingin apa yang orang tua bilang terjadi padamu Mbak. Karnanya lupakanlah Nak Galih, dan cobalah untuk memikirkan masa depanmu, juga masa depan adikmu.”

“Hatiku rasanya hancur saat itu. Aku harus bagaimana? Kupandangi cincin di jari manisku. Ada namamu di sana. Haruskah aku melepaskannya lalu melupakanmu?!”
“…”
“Tak ada yang bisa kulakukan selain memohon petunjukNya. Dalam sujudku kumohonkan jalan keluar dari ini semua. Aku menyerah. Aku pasrah. Aku bahkan tidak lagi memohon engkau kembali. Yang aku mohon hanyalah jalan keluar. Sampai suatu hari aku merasa Allah memberikan jawabannya. Aku harus melepaskanmu. Aku tidak boleh egois. Sementara kamu pun tidak jelas ada di mana. Aku harus realistis.”
“…”
“Aku dan Ibu datang ke rumahmu. Ibumu menyambutku dengan gembira sekaligus sedih. Setiap kali melihatku Ibumu selalu sedih karena teringat akanmu. Bapak pun tak kalah sedihnya, hanya saja Bapak masih bisa menahannya. Aku tak kuasa untuk berkata-kata saat mengembalikan cincin pemberianmu……..dan memutuskan pertunangan kita.”

“Maafkan Ratna, Ibu….” kataku sambil terisak.

Ibumu menangis tersedu-sedu. Aku tak kalah sedihnya, lebih sedih dari Ibumu.

“Maafkan Galih ya Nak….”

“Sejak saat itu aku mengizinkan siapa saja mengenalkan seseorang yang baik yang mau menikahiku. Hanya enam bulan waktuku sebelum dik Bimo berangkat ke Jepang. Dan syukur kepada Allah Yang Maha Mengetahui, seorang temanku mengenalkanku dengan sahabatnya yang juga sedang mencari pendamping hidup…. Aku menerima biodata laki-laki itu, kupelajari dan aku rasa dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Akhirnya kami sepakat bertemu dengan temanku itu sebagai perantaranya. Kami dua kali bertemu, kemudian melanjutkan komunikasi lewat handphone, dan akhirnya dia datang ke rumah dan mengenalkan dirinya pada Ibu.”
“…”
“Tak perlu waktu lama, dua minggu kemudian dia datang dengan keluarganya untuk melamarku.”
“Kamu mencintainya, Rat?”
“Aku tidak tau Ga… Saat itu aku tidak memikirkan cinta. Yang aku rasa, dia laki-laki yang baik, mapan, bertanggung-jawab, dan selama berkomunikasi dengannya beberapa waktu, kami nyambung.”
“Saat ini?”
“Aku rasa Tuhan memberikan keadilan Ga… Saat itu dia menjadi penolongku, penolong adikku juga, sehingga akhirnya kami berdua bisa sama-sama menikah di hari yang sama satu minggu sebelum mereka berangkat. Tuhan menumbuhkan rasa itu Ga…”
“Rat….aku mencintaimu….”
“Maafkan aku, Ga…”
“…”
“Aku rasa semua penjelasanku ini cukup bagimu. Aku harus pulang. Aku berharap engkau menemukan seseorang yang lebih setia dariku, namun kuharap kau tidak mengulangi kesalahan itu lagi. Sampaikan salamku untuk Ibu.” Ratna bersiap pulang. Galih mencoba menahannya dan memegang tangan Ratna namun ditepisnya.
“Rat….”
“…”
“Semoga kamu bahagia…”
“Terimakasih Ga. Semoga kamu juga…”

Matahari telah mengintip meski gerimis belum sepenuhnya hilang. Di ujung langit berpendar cahaya putih menjadi selengkung pelangi. Galih dan Ratna, akhir kisah mereka…

Mystery Guest

Terimakasih tak terhingga kepada Blogger Cool n Smart kita, Om Nanang Hernanto aka Om Nh atas ide cerdasnya mengundang siapa saja untuk menjadi penulis tamu di blog beliau. Dan sy dapat kesempatan menjadi mystery guest kedua di sana :D. Perasaan saya? Wah…… Saya deskripsikan lewat point-point saja ya 😀

  1. Senang sekali
    Ini nampaknya standar ya? Tapi memang perasaan sy senang ketika tulisan saya muncul di blog beliau. Tampil di blog Om Nh gitu loh… 😉
  2. Gelisah
    Hihihi…. Iya, sy merasa gelisah seharian. Rasanya pengen ngintip terus ke blog si Om. Penasaran, ada yang tau gk ya kalau itu tulisan sy, soalnya sy nulisnya fiksi dan sy sudah lama sekali tidak menulis fiksi di blog. Eh, ternyata ada lho yang mengenali tulisan sy. Bahagiaaaa rasanya. ^_^
  3. Salah tingkah
    Hahaha…lebay!! Jadi ceritanya sy tu pengeeen banget balas komen-komen di sana. Ngikik sendiri melihat komentar teman2. Pas mau balas, udah kuketik tuh, tapi akhirnya ku-copy dan ku-refresh lagi halaman si Om. Eeeh…Pakdhe Mars muncul dengan tulisan: “yang nulis biasanya menyembunyikan diri, kalaupun nongol pasti setelah komentar saya ini”. Buwahahahaha…..sy langsung ngakak begitu mbaca itu. Wuaaah..keduluan Pakdhe Mars ni… Lha terus nasib komenku gimana? Haha… Sy simpan dulu. Hihi..akhirnya sy postkan setelah ada beberapa komen. Dan sy sisipkan juga sedikit ‘jebakan’, hihi..curang 😛
  4. Bangga
    Sy senang sekali tulisan sy disandingkan dengan tulisan teh Orin, mb Zuhana Prit, juga sist Choco. Bagaimana tidak bangga, lha wong mereka itu karya fiksinya keren banget, sedangkan sy masih ngayal yg gk sampai, ee..lah kok ditebak kalau itu tulisan mereka. Hihihi…. Bangga donk sy 😉

Nah, dengan menjadi mystery guest di sana, sy jadi tau, bagaimana teman-teman mengenali tulisan sy. Ada beberapa klu yg teman-teman tulis.

  1. Senja
    Huwaaa…sy jingkrak-jingkrak waktu Bunda Monda, Omietha, kak EM, Putri Usagi, n sist Choco menebak itu tulisan sy dengan kata kunci senja. Sy gk menyangka lho. Sungguh. Waktu menuliskan senja di akhir tulisan itu, itu bukan karna kesengajaan untuk memberikan klu, mengalir saja, dan ternyata malah itu yang jadi kata kuncinya. Ah…Tt & senja ternyata sudah menyatu, gk salah kalau dijuluki Gadis Senja. (Sapa yg njuluki Tik? Sy sendiri :mrgreen: )
  2. Menyingkat ‘saya’ dengan ‘sy’
    Bundo aka eMak yakin betul kalau yang nulis adalah sy hanya dengan satu biji ‘sy’ di akhir tulisan. Ho…ternyata itu ciri khas sy to? Sy jadi penasaran, apa gk ada teman lain yg juga menyingkat ‘saya’ menjadi ‘sy’ ya? Hihi…
  3. ‘Semakin mirip’ dan ‘baiklah’
    Nah, dua kata kunci ini hanya Omietha yg menebak. Ya, karna Omietha sahabat di kantor sy dan kami sering ngobrol berdua baik topik umum maupun khusus, jadi dia hafal sekali bahasa sy. Kalau tentang ‘baiklah’, sy memang sering bilang begitu untuk mengakhiri sesuatu. Nah kalau tentang ‘semakin mirip’, sy perlu tanya lagi sm Omietha, kok bisa itu jadi klu. Ternyata, kata Omietha, sy sering bilang kalau suami istri itu akan semakin mirip satu sama lain. Saya sendiri tidak menyadari hal itu, malah Omietha yg menyadari. Ternyata memang begitu ya, kita sering tidak mengetahui apa yang ada di diri kita, tetapi orang di luar kita yg bisa melihat itu. (Jadi takut, jgn2 ada keburukan di diri sy yg sy tdk ketahui tapi org lain tau… Uuuu….mudah2an jangan ya.. Kalaupun ada, tolong bilang ke sy ya… )
  4. Yakin aja
    Hyah…yg ini tidak memberikan penjelasan kenapa menebak itu tulisan sy. Mb Pu tidak memberi alasan, tetapi ‘mungkin’ mb Pu menebak itu sy karna sy memberi komen di postingan Karya Siapa Ini, milik Om Nh (merujuk komentar mb Pu di postingan mb Yuni -eh, emang sudah dibuka siapa penulis Karsini#3? Pede betul. Hihihi…). Trus, Uda Vizon juga. Tapi alasan Uda karna Orin nebak itu sy. Hihihi…..  

Begitulah teman-teman serba-serbi menjadi mystery guest di blog Om Nh. Seru bener, juga jadi instropeksi buat sy. Saya banyak menemukan ‘ternyata’ melalui ini semua. Terimakasih Om Nh, terimakasih teman-teman semua. Sungguh, berteman dengan teman-teman membuat hidup semakin berwarna (ngepek punya Pakdhe Cholik). And yes, this is the beauty of blogging (kalau yg ini ngepek punya….halah, udah tau semua to? 😉 )

Salam saya…. 🙂

Cinderella kehilangan sepatunya

Alkisah seorang Cinderella sedang merantau ke negeri Sakura. Si Cinderella ini memang berasal dari kampung, jadi kadang tabiat ndeso-nya masih belum bisa hilang betul. Suatu hari di musim panas, kota tempat Cinderella tinggal menggelar festival tari. Festival itu tidak dilewatkan oleh Cinderella dan kawan-kawannya yang berasal dari negeri yang sama untuk ikut berpartisipasi. Mereka sepakat mengenakan pakaian adat negeri mereka dan menari di festival tersebut. Para pria mengenakan baju lurik dan blangkon, sedang para wanitanya mengenakan kebaya.

Festival tersebut dimulai sore hari sekitar pukul 5 dan berakhir malam hari sekitar pukul 10. Cinderella datang tepat waktu, mengenakan kebaya dan rok batik, juga sandal jinjit aka highheels-nya. Festival pun dimulai dan Cinderella bersama teman-temannya menari berkeliling sesuai rute yang sudah ditentukan panitia. Ternyata lumayan jauh, Saudara-Saudara. Cinderella yang orang kampung itu mulai kelelahan dengan high heels-nya. Setelah sampai di ujung rute, grup Cinderella beristirahat. Cinderella pun segera melepas high heels-nya. Fiuuh…lega… Eeeh…baru beberapa menit istirahat, dipanggillah rombongan untuk berfoto bersama. Mereka pun segera berarak menuju tempat pemotretan. Cinderella meninggalkan high heels-nya di tempat istirahat karna ada salah satu teman yg sedang menggendong bayinya sehingga tetap duduk di situ dan tidak ikut foto. Selesai foto, kembalilah mereka ke tempat istirahat tadi, dan….. “Eh?? Mbak temenku ke mana?? High heels-ku ke mana??” Cinderella meraung. Segera ditelponlah si Mbak.

“Mbak, kau ke mana? Bawa sendal jinjitku kah?”
“Aku ke mobil dik, lha iki si Raia ngelak, dadi takmimiki di mobil. Iyho takgowo, lha rame banget je tadi itu.”

Cinderella pun pasrah. Ini artinya dia harus jalan ke parkir mobil NYEKER alias tanpa alas kaki. Dan lebih parah lagi, karena kepadatan lokasi festival, Cinderella mengalami disorientasi arah, tak taulah mana utara mana timur, mana tempat parkir mobil. Yang dia tahu cuma jalan kembali ke posko dekat lokasi start tadi. Akhirnya disepakati, Cinderella dan si Mbak yang ‘menyelamatkan’ high heels-nya ketemu di posko. Cinderella pun berjalan tanpa alas kaki sambil nyincing rok panjangnya yang sedikit ribet. Oh…gadis cantik dengan kebaya yang cantik, tapi nyeker!!

Tidak sedikit orang yang tanya “Sugoi… Daijoobu?” (Luar biasa..ndak papa itu?). Cinderella cengar-cengir sambil jawab: “Daijoobu desu“. Pun teman-teman satu grupnya bilang: “Wis…gk ragu lagi nek kowe seko nJowo. Ndeso!!” Hahaha… Ada lagi yang bilang: “Bar pertunjukan tari, saiki pertunjukan debus”. Wkwkwk…

Sampailah akhirnya ke posko. Si Mbak segera mengembalikan high heels Cinderella. Cinderella menerima dengan senang hati, meski ada sedikit kecewa: kenapa yang mengembalikan Mbak, bukan sang pangeran??? Saya kan jadi tidak tinggal di istana!!! :((

“Yustha Tt berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng SoesJeng DewiJeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng AnggieDesa BonekaKios108

——-

#Libas habis semua kategori. Kalau gk da yang nyantol satu pun, aduhai kasihannya… 😀
#Itu maaf kalau kebayanya terlalu seksi ya.. Udah kadung! 😀
#O iya, Cinderella itu nama tengah saya… Hahaha…. 😆

Tragedi jagong manten :D

Hihihihi… Lho? Apa ini, datang-datang langsung ngikik? Hehehe…sy lagi chatting sama sahabat sy. Sahabat sy ini ingatannya tentang masa lalu top markotop. Jadi kadang kalau lagi cerita apa, dia nyebutin kisah di masa lalu yang bikin saya ngekek. Seperti barusan ini.. Hihi..

Namanya Han, dia temen KKN sy dulu. Kita dulu sering saling menemani jagong (kondangan penganten) karna sama-sama gk punya pendamping jagong, haha… Pernah suatu hari kita berdua jagong ke tempat teman KKN kita di Bantul. Kita boncengan pakai motor sy. Motor sy itu kunci kontaknya sudah lojek alias mudah lepas, jadi gantungan kuncinya harus dicantol di spion atau di stang supaya kalo lepas dari kontaknya, si kunci masih tergantung di motor. Nah, berhubung yang di depan si Han, sy lupa kasih tau dia dan dia pun gk menyantolkan gantungan kuncinya. Inilah awal mala petaka itu. Hahaha…. Lho, mala petaka kok malah ketawa. Lha habisnya lucu.

Yup, seperti dugaan teman2 semua: kunci motor sy HILANG. Inilah tragedi satu. Kami baru menyadari hilangnya kunci motor kami setelah sampai di lokasi kawinan. Pas mau matikan motor, barulah kami sadar, hah..kunci motornya gk ada. Lhaa….gimana ini matikannya?? Akhirnya kita pinjem kunci motor siapa saja buat matikan motor dan berhasil. Lega.. Kita pun melenggang ke tempat kawinan.

Pas sampai sana, ternyata pestanya masih ala piring terbang, bukan yang prasmanan gitu.. Jadi ada banyak peladen/sinoman yang melayani para tamu. Biasanya para sinoman ini adalah pemuda desa atau karang taruna. Biasanya mereka sudah punya seragam batik karang taruna untuk keperluan laden seperti ini. Atau bisa juga dibuatkan seragam oleh yang punya hajat. Di sinilah tragedi dua terjadi. Ternyata seragamnya para peladen dan batik yang dipakai si Han SAMA. Hahahahaha…. Kita berdua langsung thingak-thinguk satu sama lain dan ketawa ngakak. Hahaha….. Udah sana Han, kamu bantuin laden dulu…. Wkwkwk… Pas foto sama penganten juga dibilang sama tukang fotonya: lho, ini mas sinom kok ndisik’i? Wkwkwk…padahal kita tamu undangaaan…bukan sinoman… Haha…si Han cuma cengar-cengir aja..lalu ngajak pulang… 😀

Masalah muncul lagi setelah kita sampai parkiran. Tadi memang bisa matiin motor dengan sembarang kunci. Tapi buat nyalain?? Ow..ow..masalah ini.. Tentu saja gk bisa dengan sembarang kunci. Akhirnya kita jalan dorong motor nyari bengkel. Karna sudah capek, kadang si Han lari dorong motornya lalu dia lompat dan duduk di motor sementara motor jalan. Nah, pas ngelakuin itu, ada ibu-ibu naik sepeda yang ngomelin si Han: “eeeehhh….reka-reka!!” (neka-neka/aneh-aneh/ada2 saja). Hahaha….lagi capek-capek dorong motor nyari bengkel gk nemu-nemu, kena marah pula. Nasib…nasib….

Setelah jalan jauh, pakai salah bengkel karna yang kita tanyain pas nemu semacam bengkel, ternyata tempat servis kulkas dan bukan bengkel motor :mrgreen:, akhirnya kita menemukan bengkel motor kecil-kecilan. Sambil numpang istirahat, kita laporan kalau kunci motor sy hilang dan tolonglah dengan cara apapun, nyalakan motor kami. Si bapak bengkel membuka thothok depan, lalu menyambung kabel itu dengan kabel itu, dan taraaa….nyala, saudara-saudara!! Hah? Secepat itu? Iya!! Dan kami menyesal kenapa si Han gk tau tentang itu. Hahaha…nyalahin si Han, padahal sendirinya mana tau hal begituan. :mrgreen:

Setelah mengucapkan terimakasih berkali-kali pada bapak bengkel (beliau gk mau dibayar apa-apa, meski kita paksa), akhirnya kita bisa mengendarai motor kita, sambil thingak-thinguk lagi. Kali ini hunting tukang kunci. Beberapa lama melaju, bukan tukang kunci yang kita temui, malah sepasang muda-mudi yang pacaran di pinggir jalan. Saya langsung tepuk-tepuk pundak si Han dan bilang:
“Idiih…ada yang pacaran di pinggir jalan Han…”
Dan apa jawab si Han??
“Ya betul itu pacaran di pinggir jalan…kalo di tengah jalan, ganggu lalu lintas…”
Hiyaaaaaaaaaa…….

“Yustha Tt berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng SoesJeng DewiJeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng AnggieDesa BonekaKios108

——-

Trus? Ketemu tukang kuncinya gk? Ketemu dan berhasil bikin kunci kontak yang baru. Hihihi….kisah ini masih saja bikin sy tertawa sampai saat ini. Han…Han…reka-reka!!

(puisi) cinta ini tak biasa

Tak Biasa

ini bukan kali pertama
namun kali ini
kurasa ia terjatuh
tepat di hatimu…
sedang yang kupunya hanya satu..
namun enggan kuterima kembali dari hatimu

bawalah…
aku tau, cinta ini memang
tak biasa…

Hiyahahahahaha….. Lucuuuu….
Puisinya geje… Pengen nyobain kode html dari Pak Mars ^_^ 
Diimrpovisasi dikit ya Pak…
Ih, jadi pengen nyoba berlatar belakang senja…
Coba ah….
#kenapa jadi semangat geneeh?? :mrgreen:

“Ungkapan Anti Biasa, Ungkapan Dengan HTML“.

Ekspresi ‘surprise party’

Pernah dapat surprise party waktu ulang tahun kan? Gimana rasanya? Seneng? Kaget? (kan surprise) Atau sebel? Aih…kalaupun sebel pasti sebel-sebel seneng kan? 😉 Saya pernah dikerjain anak-anak kost pas ultah sy 2 thn lalu. Jadi ceritanya kost saya itu kan isinya berempat, tapi yang satu jarang bergaul dengan kita, jadi cuma bertiga itu yang sering bareng. Nah, pas sy ultah mereka sedang sibuk dengan urusan kampus mereka. Jadi saat sy pulang kantor dan mereka gk ada di kost, sy merasa wajar saja, mungkin lagi ke kampus. Malamnya, pas mereka udah di kost, kuajakin makan, yaa ceritanya traktir ulang tahunan lah. Ternyata mereka bilang udah makan dan lagi ngerjakan tugas. Hee?? Tumben traktiran makan ditolak sama duo mahasiswi ini. Ah…ya sudah lah. Saya balik kamar dengan kecewa. Mana mereka juga gk ngucapin selamat ulang tahun buat saya pula, padahal kan mereka tau, wong mereka mainan facebook dan liat teman2 sy pada ngucapin di facebook. Agak bete sebenernya, tapi masa ulang tahun bete. Jadi daripada bete lebih baik tidur! Baru dua jam sy tidur, tiba-tiba pintu kamar saya digedor-gedor seperti ada maling. Saya yang baru tidur terbangun dengan gugup dan buka pintu…

Huft…melihat dua anak-anak saya di depan pintu membawa kue dengan lilin di atasnya dan bernyanyi happy birthday to you, hati saya berkecamuk rasanya. Saya lega (ternyata bukan maling 😀), haru (ternyata mereka merencanakan sesuatu buat saya), juga menyesal (tadi kenapa saya sempat sebel sama mereka). Tapi setelah semuanya itu, satu perasaan saya: bahagia.

wajah bangun tidur menerima kue ultah

Terimakasih ya anak-anakku untuk surprise party buat eMakmu ini. 🙂

Lain lagi dengan surprise party yang dilakukan teman-teman international student di sini waktu ulang tahun saya bulan Oktober kemarin, ulang tahun pertama sy di Jepang.

Hari itu kebetulan ada farewell party untuk rombongan pendidik dari Jawa Barat yang berkunjung ke kampus saya. Lalu oleh sensei, sy ditunjuk jadi MC di acara tersebut. Selesai party, rombongan kembali ke hotel. Tapi entah kenapa para sensei dan teman-teman international student masih tinggal di ruangan. Saya pikir untuk membersihkan ruangan bersama-sama. Ternyata, saat saya masih bersih-bersih, lampu dimatikan dan…

teman saya masuk membawa kue diikuti lagu happy birthday to you dari sensei dan teman-teman. Kali ini saya sungguh terharu. Tidak menyangka teman-teman dari berbagai negara ini menyiapkan surprise party untuk saya yang bahkan belum genap 1 tahun mereka kenal. Di saat saya jauh dari keluarga, di sini saya memiliki mereka sebagai keluarga sy, yang mengasihi sy seperti layaknya keluarga.

muka sy lagi terharu jelek amat ya...

Ah…mengingat itu saya jadi berkaca-kaca lagi nih 😥 . Syukur kepada Allah, di manapun saya berada, Dia selalu kirimkan sahabat-sahabat yang menjadi saluran kasihNya, yang mengasihi saya dengan tulus. Puji nama Tuhan.

kue-kue surprise party...26 & 28

makeawish

blow the candles

potong kue... disisipi potong kue pas menjadi 27 😀

Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Ekspresi Seru dBlogger.

Ekspresi