Masak sih.. ;)

Saya perempuan yang tidak bisa memasak. Ah, masak sih? Yee…nggak percaya. Saya hanya bisa masak dua jenis masakan, yaitu ‘sop’ dan ‘oseng’ seperti yang pernah saya tulis di sini. Kalau disuruh masak, pasti hasil masakannya merupakan anggota himpunan sop atau oseng :D. Di Jogja banyak sekali warung makan yang menyediakan makanan siap santap, jadi tidak perlu memasak sudah bisa makan 3 kali sehari dengan menu yang diinginkan. Dan karena saya termasuk golongan orang yang pemalas praktis, jadi saya lebih sering makan di luar ketimbang masak sendiri. Saya akan masak kalau sedang ingin masak. Hehe.. Atau kalau pas Ramadhan tiba dan saya ikut puasa, biasanya saya dan anak-anak kost akan masak bersama untuk sahur dan berbuka. Atau kalau pas mudik dan ingin masak, maka saya masak. Selainnya itu, beli jadi. Hehe…

Setelah di sini, saya tidak bisa lagi dengan mudah mendapatkan warung makan murah meriah seperti di Jogja. Hasilnya, saya jadi belajar masak sedikit-sedikit. Tiap hari saya masak minimal untuk makan siang dan makan malam. Sarapan biasanya roti dan susu. Pas awal-awal masak, saya foto ‘hasil karya’ saya itu. Begitu seterusnya sampai sekarang. Kalau masakannya berulang, tidak saya foto lagi. Dan saya pernah ‘tunjukkan’ beberapa hasil karya belajar masak saya di sini. Melihat foto-foto di situ saya merasa begitu lugu. Hihi… Fotonya yang lugu. Sekarang saya belajar masak yang lain-lain lagi selain tumis dan sup. Saya belajar masak masakan Indonesia. Beberapa memang masih menggunakan bumbu instant yang saya beli online dari distributor di sini, seperti bumbu rendang, bumbu gulai, dan bumbu sambal goreng ati. Tapi yang lainnya, saya coba racik sendiri dengan bumbu seadanya. Puji Tuhan hasilnya tidak begitu mengecewakan. Setidaknya terbukti dari berat badan saya yang naik 2.5 kg selama di sini, yang saya simpulkan sebagai: saya banyak makan. Hehe..

Di sini sering diadakan party, dan kami diminta membawa masakan kami masing-masing. Karna itulah saya belajar membuat masakan Indonesia, supaya saat di party bisa bilang ke teman-teman dari negara lain bahwa ini masakan asli Indonesia. Hehe… Di acara welcome party menyambut kedatangan kami (saya di dalamnya), saya belum bisa masak apa-apa, jadi saya cuma bikin timus. Apakah itu masakan asli Indonesia? Semoga iya. Masakan asli Indonesia yang lainnya yang pernah saya bawa ke party adalah ‘sambal terong balado’ dan ‘mie goreng’ 😀 (sayang saya tidak punya foto mie gorengnya).

Timus

Sambal Terong Balado (Balado Eggplant Sambal)

Sekarang saya menikmati aktivitas memasak di dapur. Ternyata menyenangkan sekali. Dan ketika masakan saya matang, saya akan lebih senang ketika saya bisa berbagi dengan teman saya lalu makan bersama (kalau teman yang saya ajak berbagi itu satu asrama, biasanya kami makan bersama di kamar saya, tapi kalau yang saya ajak berbagi itu berbeda asrama biasanya kami akan makan bersama di waktu yang sama, hehe..). Kebahagiaan itu akan berlipat ketika dibagi.

Nah, postingan saya melebar dari masak sampai ke bahagia kan? Hehe… Ya sudah, begitu dulu cerita saya tentang masak-memasak. Saya punya cerita lain tentang persahabatan dan teknologi yang mendekatkan kami, juga cerita tentang mas Krishna yang makin lucu saja. Tapi masih belum sempat nulisnya. Semoga tidak tertunda lama.

Mari memasak kawan. Bagikan kebahagiaan melalui masakan. 🙂

This slideshow requires JavaScript.

 

Salam penuh cinta,

Sajojo..Sajojo..

Jadi begini ceritanya. Kampus mengadakan acara international party sore ini. Nah, di acara ini kesempatan buat kita untuk perform budaya kita masing-masing. Huwaaa….saya pengen donk menampilkan budaya Indonesia di depan kawan-kawan dari berbagai negara. Saya kan dulu pernah belajar nari Jawa, saya mau nari Jawa ah. Mmm…tapi saya tidak bawa kostum untuk tarian Jawa. Mau pinjam di salon, gk ada yang minjamkan baju tradisional and baju tarian Jawa, hehe… Akhirnya bincang-bincang dengan kawan sesama dari Indonesia, lalu kami memutuskan untuk menari poco-poco saja. Kapan latihannya mb, aku nggak begitu bisa poco-poco, kata kawan saya. Habis Selasa ya mb, soalnya Selasa aku presentasi di seminar. OK. Dan ternyata setelah Selasa, saya masih ada tugas presentasi lagi hari Jumat ini, ya tadi. Tumpuk-tumpuk deh. Akhirnya latihan pun tertunda-tunda. Hari Kamis pun tiba.

Besok lho mbak performnya, kataku. Wah, ayo latihan dulu!

Sambil makan malam, saya buka-buka youtube dan buka video sajojo. Eh, ini kok tariannya menarik, lagunya asyik, sukak! Lalu saya mengirim pesan ke kawan dan mengirim link video sajojo: Mbak, sajojo aja gimana? Tapi aku juga belum bisa. Nanti kita belajar sambil lihat video ini. Dan kawan saya pun setuju.

Pukul 10 malam dia mengetuk pintu kamar saya. Berbekal video dari youtube, kami berdua mencoba memahami gerakan kaki di tarian sajojo ini. “Ah, dapat! Gini mbak!” lalu lanjut lagi ke gerakan kedua: gini..gini.. lalu ketiga, keempat, peralihan, setelah peralihan, penutup. Yes, done! Ayo ulangi lagi mbak! Berlatih-berlatih-berlatih sampai hafal. Dan setelah lelah dengan keringat bercucuran (padahal udah nyanding kipas angin selama latihan, tapi karna cuaca memang panas dan sajojo serupa senam, jadi kami pun berkeringat), kami pun membuat ‘kostum’. Heehehe…. Ya. Kami membuat rumbai-rumbai itu lho. Dengan bahan dan peralatan sederhana, rumbai-rumbai dari tali rafia pun jadilah. Daaaaan…..pas lihat jam, o’ow…udah jam 3.30 pagi kawans. Saya belum selesai membuat presentasi untuk hari ini. Wah..wah.. Akhirnya pukul 3.30 pagi kami pun mandi bersama, berbeda kamar mandi tentunya :D. Kawan saya bisa tidur, sementara saya tidak karna saya melanjutkan pekerjaan saya. Hari ini saya kuliah full, jadi tidak ada waktu untuk menyelesaikan pekerjaan saya. Lagipula, setelah mandi saya tidak mengantuk. Doh. Itulah mengapa saya bilang: “saya belum dua-duanya: belum tidur dan belum bangun” 😀

Bagaimana dengan hari ini, tanpa tidur sedikit pun semalam dengan jadwal kuliah full dari pagi sampai sore dan dilanjut International Party 1 jam setelah selesai perkuliahan hari ini? Begini. Saya sarapan pagi dan minum kopi. Di kampus saya minum satu kaleng minuman vitamin C, biar gk tumbang pikir saya. Hehehe… Ngantuk pas kuliah pertama, tapi bisa dikendalikan. Pagi hari saya berdoa semoga Tuhan mengganjal mata saya sepanjang hari ini sehingga tidak ngantuk dan menjaga kesehatan tubuh saya. Semua perkuliahan termasuk presentasi well done. Puji Tuhan. Pulang sebentar buat ganti baju (batik berobi donk 😉 ) dan latihan sekali lagi lalu berangkat ke party. Sampai di sana sudah penuh. Uwow..banyak betul yang hadir. Grogi pun menjalar. Maklum cuma berlatih beberapa jam semalam. Hoho…

Ada berbagai performance. Ada tarian Awa (Awa odori) dari Jepang dan kita audience ikut menari. Wuah..mana bisa saya tidak ikut. Saya pun bergabung dan menari. Senangnya. Rasanya seperti jaman muda nonton konser Ari Lasso di stadion mandala krida. Hahaha… Lalu ada tarian dari Hawai. Permainan flying top (gasing) dari Jepang (tapi mereka mengakui kok kalo gasing aslinya dari Indonesia). Lagu dari Pasific. Lalu..lau..lalu…..ada tari Sajojo dari Indonesia. Hiyaa….. Let’s dance together….

This slideshow requires JavaScript.

Hehehe…saya seneng banget. Apalagi audience-nya seneng dan beberapa ikut menari. Wah..jadi nagih. Jadi pengen nari lagi dan lagi. Hehehe…. Ya, begitulah ceritanya. Dan sekarang sudah pukul 12.11pm waktu setempat. Puji Tuhan saya sehat wal afiat meskipun belum tidur sejak hari Kamin kemarin. Jadi bukan karna insomnia saya tidak tidur, tapi karna sajojo (dan presentasi 😛 ).

Sebelum tidur, saya pengen ceritain dulu, makanya saya posting. Hehehe… Selamat tidur kawan semua. Semoga istirahat dengan tenang dan damai ya.

Terimakasih Tuhan untuk hari ini, untuk kesehatan, kesempatan, kebahagiaan, dan segalanya. Terimakasih. Syukur padaMu.

Salam 🙂

Melangkah Lagi

Pagi ini kau awali harimu dengan kesedihan

yang begitu dalam.

Biar kuusap air matamu.

Ku kan ada di sini, selalu bersamamu.

Angkatlah wajahmu, tebarkan senyummu.

*

Melangkah lagi, jangan berhenti.

Kau kan mengerti

makna terbaik dari semua yang tlah terjadi.

Melangkah lagi, jangan berhenti.

Kau kan sadari

rahasia indah yang tersimpan di hari nanti.

Teruslah melangkah!

Jangan menyerah!

*

Dan biarlah semua yang tlah berlalu,

jangan kau sesali.

Sambutlah hari baru.

Tegakkan wajahmu, tumbuhkan asamu!

*

Melangkah lagi, jangan berhenti.

Kau kan mengerti

makna terbaik dari semua yang tlah terjadi.

Melangkah lagi, jangan berhenti.

Kau kan sadari

rahasia indah yang tersimpan di hari nanti.

Teruslah melangkah!

Jangan menyerah!

*

Teruslah melangkah!

Jangan menyerah!

*

Hayuk nyanyi bareng-bareng! 😀

Seharian ini nyanyi Gita Gutawa terus. Sampai temenku bilang: aku khawatir kamu bakal nyanyi pas presentasi nanti. Haghaghag…. Ada2 aja..

Nyanyi lagi ah…

~

Melangkah lagi..jangan berhenti….

~

Mb Tanti mana?

Wuaa….pertanyaan yang membuat hatiku berdesir. *halah! lebay! xixixi..*

Jumat kemarin mas Krishna dan mama’nya ke Jogja. Biasanya kalau ke Jogja kan artinya ke tempat tantenya inih. Jadi begitu turun dari bis, langsung deh nanya ke mama’nya: ‘mbak Tati ana?’ Sama mama’nya dijawab kalau mb Tanti gk ada di sini. Trus habis urusan selesai, mas Krishna sama mama’nya ke kantor bapak yang juga ada di Jogja. Main-main sama komputer di kantor bapaknya. Wuih, gayanya udah ky programer aja. Hihi… 😀

Sorenya pas pulang, mas Krishna nanya lagi: “Mbak Tati ana?” Mungkin mas Krishna bingung, ini ke Jogja tapi kok gk ke tempat mb Tanti sih???

Sabtu malem mas Krishna telpon tantenya ini pakai skype. Belum muncul gambarnya udah kedengeran teriakan: “Ao”. Hihi…sapaan yang paling menyenangkan. Mas Krishna cerita, tadi mas Krishna nyanyi ‘naik teta api’ di depan pas perpisahan kakak2 playgroup. Trus mas Krishna terima raport. Dibacain hasil raportnya sama mama’nya: mas krishna udah bisa berdoa dengan suara nyaring, mas krishna udah bisa ngembalikan mainan dan nata sepatu sendiri, mas Krishna udah biasa cuci tangan sebelum makan (di rumah juga jadi terbiasa: kalau mau makan harus cuci tangan dulu dengan sabun), udah berani nyanyi di depan kelas, udah bisa ngitung, udah bisa mewarnai meskipun gk selesai (hehehe…mamanya ketawa mbaca bagian ini). Sekarang mas Krishna udah pinter, gk nangis lagi kalo di sekolah, gk nakal lagi sama dik Ganesh (eh, emang dulu nakal ya? Hihi…gk juga, cuma kadang cemburu kalau mama’nya kasih nenen buat adiknya.)

Jadi kangen sama kamu mas..mas… Gemes!

This slideshow requires JavaScript.

aku menulis sajak ini, ketika perasaanku memuncak. saat itu malam telah larut dan embun mulai melayang turun perlahan.

aku rindu padamu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

————-

ini puisinya Om Goen.

Hmm…puisi jaman sekarang judul lebih panjang dari isi ternyata.

Hihi…seru ya… 😛

dan kutulis ulang puisi Om Goen ini pukul 00.37 waktu setempat. Malam telah larut kan Om. Hehe… 😀

Gambarnya lucu kan..itu dikirim sahabat sebelum tidur…

jadi gk ngerti deh sumber gambarnya dari mana..

Postingannya gk jelas ya? Hihi.. Tiba-tiba pengen posting cerita, bukan gambar2, tapi gk ngerti mau cerita apa.

Jadinya malah ky gini deh postingannya.

Buat Om Goen, sorry ya puisinya kukopas tanpa permisi… 😛

Udah ah.. Udah larut.. Embun udah berarak turun. Gantian akunya yang berarak naik..ke peraduan. Haha… 😛

Selamat malam epribadi, God bless you..