Krishna-Ganesh

Semalam sy chatt dengan mama’nya Krishna. Sy coba telpon pakai YM dan berhasil. Waktu awal-awal, Krishna gk ada di rumah, jadi sy ngobrol dengan kakak sy aja. Habis Krishna pulang, udah deh…Krishna yang menguasai pembicaraan. Hihihi… Meskipun di belakang sana mama’nya masih menranslate kata-kata Krishna karna tidak semua kata2 Krishna bisa sy mengerti. Hihihi…. Lucu..

Tiap buka internet, d’krish (eh, sekarang udah dipanggil mas ding karna udah punya adik) selalu pengen liat gambar kereta api. Trus dia cerita sama sy kalo dia liat kereta api jatuh, kereta api lewat sungai, kereta api prameks, dan kereta api taksaka. Hahaha….kok ya tau2nya kereta api prameks dan taksaka segala.

“Ni teta apinya jatuh to?” (ini kereta api jatuh to?)

“Teta apinya wat iai.” (kereta apinya lewat sungai)

“Ni teta api Amet.” (Ini kereta api prameks)

“Ni teta api Atata.” (Ini kereta api taksaka)

“Tati aik wat teda di atas ana. Dada sama Tati.” (Mb Tanti naik pesawat terbang di atas sana. Dada sama mb Tanti.)

Sekarang mas Krishna sudah sekolah karna udah punya adik.

 

d'ganesh 4 bulan & m'krishna sekolah

Mas Krishna sayang sama d’Ganesh. Kalo pagi bangun tidur, yg dicari pasti d’Ganesh. Kalo lagi berdua aja di kamar, m’krishna suka ‘ngliling’ d’Ganesh. Lucu. Tapi kadang cemburu juga kalo mama’nya lama-lama sama adiknya..

 

m’krishna sayang d’ganesh

Kalo mama’nya Krishna sama tantenya ini, katanya mirip banget. Krishna kalo liat foto sy di FB sering salah, dikira itu mama’nya. Jadi dia nunjuk tiap foto dan bilang: ni mama, ni tati.. Padahal itu foto sy semua. Hihihi…

 

mama’e krishna & sy: mirip gk?

Mumpung gelaran Maret Ceria-nya mb Lidya belum selesai, postingan ini sy ikutin giveaway ini ah… Hehehe….

Salam teman2 semua… 😀

Surat dari Genta

Untuk Amelia,

Suratmu kuterima di suatu pagi yang cerah, awal musim semi. Pagi itu suratmu kudapati diantara surat-surat lainnya di dalam pigeon hole, begitu kami menyebut kotak pos disini. Aku begitu gembira sekaligus terkejut mendapati suratmu. Tak kusangka engkau benar-benar akan mengirim surat setelah pembicaraan kita waktu itu. Dengan segera kupisahkan suratmu dari surat-surat yang lain. Aku bergegas masuk flat, lalu meletakkan surat-surat lain di meja. Aku duduk di salah satu kursi, dengan segera aku membuka dan membaca surat darimu. Ada yang menelusup di hati ini.

“Surat dari siapa?” tiba-tiba si kaca mata biru (begitu kamu memanggilnya) melongok dari dapur.
“Amelia.” jawabku singkat.
Dia diam saja, lalu masuk ke dapur lagi. Aku memang pernah bercerita tentang kamu kepadanya, beberapa kali rasanya. Selesai membaca, aku lalu masuk ke kamar. Si kecil masih tertidur. Aku melipat suratmu lalu memasukkannya ke dalam tas kerjaku.

Malam ini, beberapa hari setelah aku menerima suratmu, aku duduk sendirian di kantor. Pekerjaan yang memburu beberapa hari ini baru saja selesai. Aku buka lagi suratmu yang kusimpan di dalam tas kerjaku. Aku ambil dengan hati-hati lalu kubaca lagi, baris demi baris. Tiba-tiba ada perasaan aneh yang muncul. Aku seperti bernostalgia, ada keceriaan sekaligus kegamangan di masa lalu tetapi aku juga seperti merasakan setetes embun yang menyejukkan.

Aku gembira kita bisa bertemu lagi, meskipun cuma lewat layar 14 inchi. Aku senang bisa berkomunikasi lagi denganmu, meski seringkali hanya sekedar ‘say hello’.

Beberapa hari sebelum pembicaraan kita tempo hari, kenangan-kenangan akan kebersamaan kita yang singkat itu kembali datang. Kedekatan yang tidak dibuat-buat, kedekatan yang mengalir begitu saja itu begitu membekas di hati. Aku masih ingat bagaimana hatiku selalu berdebar setiap kali ingin menemuimu. Mungkin kau tak pernah tahu bahwa ketika aku ingin bertemu denganmu, aku seringkali melewati kostmu berkali-kali hanya untuk menata hatiku. Pernah juga suatu kali kita hanya makan berdua saja. Aku sangat girang saat itu. Akupun masih ingat ketika engkau menguatkanku ketika sahabat terbaikku meninggalkanku. Tapi semua yang aku rasakan itu hanya kupendam saja, tak pernah aku berani mengungkapkannya. Ada banyak orang di sekitarmu, dan aku tak pernah berani berharap engkau akan memberiku perhatian lebih. Bisa mengenalmu, aku sudah senang.

Kegalauanku selama beberapa hari itu ternyata bisa kau rasakan juga. Ada perasaan aneh yang berkecamuk di hatiku. Ada keinginan untuk selalu menyapamu. Pernah suatu malam aku tidak bisa tidur karena perasaan aneh itu. Saat itu aku takut sekali bahwa rasa di masa lalu itu datang lagi, karena itu tidak diizinkan.

Ada tanya yang mengendap di hatiku, tanya yang kadang-kadang mencuat, tapi tak pernah bisa kuhilangkan. Ada suatu masa dimana tanya itu muncul begitu kuat, membuatku merasa tak berdaya, tak berarti, tapi aku berusaha menerima garisku. Aku seperti berdiri di dua sisi. Tak mampu aku menahannya. Kadang-kadang aku ingin menolak tanya itu, aku ingin memberontak, tetapi yang terjadi justru tanya itu semakin kuat dan ingin rasanya mengakhiri saja garis ini. Tetapi, itupun tak dizjinkan.

Amelia, engkau benar, kita tak pernah bisa mengintip rahasia Tuhan. Sekali lagi engkau benar, cara terbaik untuk melawannya adalah dengan bersyukur selalu. Aku akan terus berusaha bersyukur atas semua anugrahNya. Dia yang sudah memimpinku sampai sekarang, Dia juga yang akan menjagaku sampai akhir.

Hari itu, aku membaca tulisan-tulisanmu lalu aku pun memberanikan diri untuk mengirim pesan itu. Entah mengapa, hari itu aku merasa, kamu pun sedang mengingat masa itu. Aku tak tahu, mengapa hari itu aku begitu ingin mengakui semua rasa yang pernah ada meski aku tahu tak mungkin lagi waktu kembali. Saat itu sebenarnya aku juga takut, takut kamu akan bersikap lain dan tidak mau berkomunikasi lagi denganku. Tetapi ketakutanku tak terbukti. Engkau tetap ceria seperti biasanya. Aahh, engkau memang selalu ceria. Kau begitu tegar.

Setelah obrolan kita itu, aku merasakan ada kelegaan, seperti yang kau tulis juga di suratmu. Tentang pertanyaanku yang tidak kau jawab seputar tulisan itu, biarlah itu tetap menjadi rahasia hatimu.

Aku berterima kasih engkau telah meyakinkanku untuk menapaki jalan yang telah kupilih. Mungkin tanya itu takkan pernah hilang, sehingga aku harus bisa berbaik-baik padanya. Semoga, ketika tanya itu datang lagi, aku akan bisa menjawabnya. Jika tanya itu datang lagi, akan kuingat nasehatmu.

Amelia, aku bersyukur engkau masih menganggapku seorang sahabat. Aku pun ingin persahabatan ini bisa berlangsung seterusnya. Jika aku pulang nanti, aku akan mengenalkan si kaca mata biru dan si kecil kepadamu. Si kecil pasti senang sekali diajari origami. Pada saat itu, aku berdoa semoga engkau telah menemukan seseorang yang bisa melengkapkan hidupmu tanpa perlu kaugantungkan tanya di langit-langit hatimu.

Salam hangat dariku:
Genta

Happy 8th Birthday, Dija…

Happy 8th birthday, Dija sayang… Semoga Dija panjang umur, semakin pintar, makin sayang dan disayang keluarga dan teman-teman. Amin.

Dija sayang, ini ‘birthday letter’ Tante Tt yang kedelapan buat Dija. Pasti sekarang Dija sudah lancar membaca surat Tante ini tanpa bantuan Tante Elsa kan? Tante harap begitu sehingga Tante bisa cerita lebih banyak sama Dija tanpa takut Tante Elsa tau.. Ssstt..biar jadi rahasia Tante Tt dan Dija saja.. :). Tapi kalau Dija mau cerita ke Tante Elsa, boleh kok.. 🙂

Dija, sekarang Dija sudah besar, pasti sudah tau dan sudah bisa merasakan betapa tante Elsa sangat menyayangi Dija. Sejak bayi, tante Elsa merawat Dija, mendoakan Dija, dan selalu mengajak Dija mendoakan Ibu Noni. Seperti ibu Noni di surga yang selalu sayang Dija, tante Elsa demikian juga. Berhenti dulu yuk Sayang, kirim doa buat ibu Noni dulu yuk. Setelah itu, berdoa buat tante Elsa juga ya Sayang..

Dija, selama ini tante Tt mengikuti perkembangan Dija dari waktu ke waktu karna tante Elsa menceritakan pada tante dan juga teman-teman lainnya. Dan setiap kali tante Elsa bercerita, tante Tt merasakan sekali ada cinta yang besar dari tante Elsa buat Dija. Saat Dija baru lahir, tante Elsa menjaga Dija, mendongeng buat Dija meski Dija masih di inkubator, menjenguk Dija tiap hari. Saat Dija diizinkan pulang, tante Elsa membuatkan susu buat Dija, merawat Dija, memandikan Dija. Sayang, tante Elsa sayang sekali sama Dija.

Dija sayang, maaf ya kalau tante Tt bikin Dija sedih baca surat tante. Karna sekarang Dija sudah besar, tante mau bilang sama Dija: Dija, tante Elsa sangat menyayangi Dija. Dija juga sayang sama tante Elsa kan? Tante Elsa selalu ingin membuat Dija bahagia, tumbuh menjadi anak yang sholehah, cerdas, dan membanggakan. Dija juga begitu ya.. Sayangi tante Elsa, menjadi anak sholehah, rajin belajar supaya bisa membuat tante Elsa bangga dan bahagia. Sayang, tante Elsa akan menjaga Dija selamanya. Dija juga boleh panggil tante Elsa: Ibu. Dan menurut tante,  tante Elsa pasti akan sangat bahagia kalau mulai sekarang Dija panggil tante Elsa: Ibu. Gimana? Pasti tante Elsa surprise sekali mendengar panggilan itu dari mulut Dija yang sangat disayanginya. Kalau biasanya tante Elsa yang kasih kado buat Dija di hari ulang tahun Dija, sekarang di ultah Dija yang ke-8, saat Dija sudah besar ini, Dija yang kasih kado buat tante Elsa di hari ulang tahun Dija. Setuju?!

Oke Sayang… Mungkin segini dulu surat dari tante. Selamat ulang tahun ya Sayang. Ceritakan pada tante ya gimana rasanya ultah Dija yang ke-8 ini juga ceritakan pada tante gimana respon tante Elsa waktu Dija panggil Ibu. Oke Sayang?! Tante tunggu ceritanya ya. Sekali lagi selamat ulang tahun. Tuhan memberkati.

yang juga sayang Dija,

~Tante Tt~

 

Bersyukur Selalu

bersyukur selalu bagi kasihMu di dalam hidupku…

dan tak kan ku ragu atas rencanaMu tuk masa depanku….

Tuhan, aku bersyukur untuk segala anugerah yang Engkau limpahkan. Untuk segala mimpi yang Engkau perkenankan untuk menjadi kenyataan. Permintaan-permintaan yang Engkau beri jawaban. Terimakasih Tuhan.

Ketika kecil aku selalu bermimpi dan meminta padaMu supaya bisa bersekolah di sekolah pilihanku. Dan Engkau izinkan.

Ketika SMA aku bermimpi supaya bisa kuliah meskipun sepertinya tidak mungkin. Tapi aku percaya tidak ada yang tidak mungkin bagi Engkau. Aku meminta padaMu dan Engkau izinkan. Engkau beri jalan keluar demi jalan keluar bagi setiap permasalahan keuangan. Terimakasih Tuhan.

Ketika kuliah, aku bermimpi untuk bisa bekerja dekat dengan rumah, supaya bisa merawat ibu yang sakit, juga menemani bapak di usianya yang sudah tua. Aku bermimpi bisa membahagiakan ibu, membelikan cincin buat ibu dengan gaji pertamaku. Aku memintanya padaMu dan Engkau menjawabnya. Meskipun tidak sempat membelikan cincin buat ibu, tapi ibu sudah menangis bahagia mendengar aku mendapat pekerjaan di Jogja. Terimakasih Tuhan. Aku percaya ibu tersenyum di sorga sana.

Terimakasih untuk semua anugerahMu. Terimakasih atas segala berkat yang Kau beri lebih dari yang kuminta. Karna Kau yang lebih mengerti apa yang kuperlu. Kau pula mengetahui waktu terbaikku. Terimakasih Tuhan. Aku bersyukur.

Kini kuminta perlindunganmu untuk Bapak dan keluarga, juga orang2 yang kusayangi. Lindungilah mereka dari kejahatan dan jauhkanlah mereka dari pencobaan. Karuniakanlah kepada mereka kesehatan dan kebahagiaan. Kumohonkan juga perlindungan untukku saat jauh dari mereka. Terimakasih Tuhan. Amin.

pada Tuhan masa depanku

pada Tuhan kuserahkan hidupku

nantikan Tuhan bekerja

indah pada waktunya..

——————————————————————————————————————-

Surat untuk Genta

Untuk: Genta

Gen, sejak pembicaraan kita tempo hari, aku merasa ada kelegaan dalam hati. Entah kenapa, padahal aku sudah melupakannya. Melupakan ‘rasa di masa lalu’ yang dulu pernah ada. Lalu aku mulai membuka lagi kenangan-kenangan masa lalu saat bersamamu. Bukan. Bukan untuk kembali ke masa itu, hanya mengenang. Ya. Bukankah yang sudah berlalu tak bisa berulang dan hanya bisa kita kenang?

Kita memang tidak pernah bisa mengintip rahasia Tuhan tentang perjalanan hidup kita ya. Akan seperti apa masa depan kita, dengan siapa kita akhirnya bersama, menjadi seperti apa kita nantinya, kita hanya bisa berharap, berdoa, dan berusaha. Selebihnya, Tuhanlah yg memiliki ketetapan.

Suatu masa kita pernah bersama. Aku lupa bagaimana awalnya, mungkin kamu pun sama, tak ingat lagi bagaimana mulanya. Yang kuingat, kita sama-sama ada di jalan yang sama, melayani Dia melalui pendidikan, membantu anak-anak belajar. Lalu kedekatan mengalir begitu saja. Mengalir saja tanpa kita buat-buat. Berkirim pesan, berbagi suara, berbagi cerita, beban, masalah, bahagia. Menemanimu, dan kamu pun menemaniku. Ada yang menelusup di relung hatiku saat itu. Tapi aku tak mau menebak isi hatimu, Gen. Tak berani juga aku menggantung harap yang tinggi padamu. Karnanya aku memilih diam dan membiarkan kebersamaan kita tetap berjalan tanpa pernah ada pertanyaan, tanpa pernah ada kesepakatan.

Gen, aku kehilangan satu masa dan kenapa kita sedikit mengalami degradasi kebersamaan. Aku merasa ada yang hilang saat itu. Hilang dengan tanya yang menggantung di langit-langit hatiku. Tapi semua itu akhirnya bisa kulalui, Gen. Aku pun segera melupakannya. Ya. Saat itu aku cukup terbiasa dengan kesendirian. Aku pulang dan kamu pun pergi.

Lalu, suatu hari kita bertemu di pernikahan kakak dan teman kita. Aku pergi bersama teman-teman kita satu pelayanan. Lalu kamu pun datang, bersama dia dengan kacamata birunya (aku tersenyum saat mengetik ini dan mengingat saat itu). Dan ingatkah kamu, saat itu bahkan kita tidak bersalaman meskipun kamu ikut bergabung dengan kami dan duduk di belakangku. Mungkin kamu canggung bertemu denganku sambil membawa seseorang. Ah, mungkin juga tidak, aku saja yang kegeeran. Lalu teman-teman bertanya padaku: ‘bagaimana perasaanmu?’. Kujawab: ‘biasa saja’ sambil tetap tersenyum dan bersikap sewajarnya. Dalam hati aku bilang: ‘akhirnya kamu menemukan seseorang terbaik & itu bukan aku ‘.

Aku tak lagi tau kabarmu, Gen, juga tidak mencari tau. Sampai suatu hari seorang sahabat di kantor kita memberi tahu bahwa kamu telah menikah dengan dia yang berkaca mata biru itu dan kini berada jauh di lain benua. Aku senang sekali mendengarnya. Sungguh. Aku tidak sedang berbohong atau berusaha menutupi rasa cemburu. Tidak. Aku bahagia saat itu. Hanya……aku tidak memiliki alasan yang cukup sehingga kamu tidak mengabariku padahal kamu menikah di kota yang sama denganku. Aku sempat merasa kamu sembunyi dari aku. Tapi segera kutepis semua prasangka2 itu dan memilih ikut bahagia atas pernikahanmu. Kamu telah menemukan seseorang terbaik di waktu terbaik.

Aku tak pernah menyangka kita bisa bertemu lagi meski hanya melalui layar 14 inchi. Kamu sudah memiliki si kecil yang lucuuuuu banget. Tiap melihat fotonya, aku selalu ingin memeluk dan mencium pipinya yg chuby (tp skrg udah agak kurus ya 😦 ). Lalu kita mulai berkomunikasi lagi meski kamu ada di jauh sana. Perasaanku? Aku senang bisa kembali berteman dan bersahabat denganmu. Tentang perasaanku yang dulu, aku sudah menguburnya.

Lalu hari itu kulihat kamu meninggalkan pesan. Kamu membaca tulisanku dan merasa itu adalah tentangmu. Aku pun merasa ada yang lain denganmu akhir-akhir itu. Kamu seolah sedang kembali ke masa dulu. Kamu memanggilku dengan panggilan masa itu. Kamu memperlakukanku seperti saat dulu. Gen, aku takut. Aku takut hatimu kembali bercabang. Dan itu tidak diizinkan. Pagi itu ketika kuterima pesanmu, tiba-tiba kusebut lirih namamu. Dan ternyata, kamu merasakannya.

“akhir-akhir ini aku ingat kebersamaan kita…” katamu siang itu. Tepat seperti dugaanku. Aku hanya membalas dengan senyuman. Diam sejenak.

“kebersamaan yang hanya sebentar dan tanpa kesepakatan itu?” jawabku karna memang begitu kenyataannya.

“iya….” jawabmu menggantung.

“masih bisa kau ingat?”

“iya..karna saat2 itu memberi arti..setidaknya buatku..bagaimana denganmu?”

aku kembali diam menerima pertanyaanmu. Jujur saat-saat itu memang memberi arti juga buatku. Tapi saat ini? Itu adalah rasa di masa lalu.

“iya..sama..”

hening..

Kita sama-sama diam. Ah, kenapa harus ada diam itu ya Gen. Kenapa harus sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Eh, tapi kenapa dulu kita gak pernah bahas ini ya?” kataku mencairkan suasana.

“Iya..ya…dulu aku takut. Aku gk punya keberanian karna teman cowokmu terlalu banyak.. Hahaha…” Huft…leganya..akhirnya kamu tertawa. Artinya kita tidak berada dalam situasi yang melankolis atau romantis.

“Akhirnya kita sama-sama tau perasaan kita masing-masing ya, meskipun terlambat.” katamu.

“Setidaknya kita telah sama-sama tau. Tentang terlambat atau tidak, itu adalah jalan hidup. Dan ingat, rasa yg kita bahas tadi adalah rasa di masa lalu.” kataku sambil meyakinkanmu. Aku sedang meyakinkanmu supaya kamu tidak kembali menemui jalan bercabang itu Gen. Karna dulu kamu telah memilih satu jalan dan kini kamu tengah melalui jalan lurus itu, bersama dia dan si kecilmu yang lucu (eh, sebentar lagi dia ulang tahun kan?).

Oke Gen, mungkin segini dulu suratku. Nampaknya aku sudah menulis terlalu panjang. Aku bersyukur untuk persahabatan ini. Semoga kita bisa terus bersahabat ya. Jangan lupa, ajak istri dan anakmu main ke rumahku ya, aku mau kenalan dengan istrimu dan mau ajari si kecil bermain origami. Pasti dia suka sekali. 🙂

Sampai nanti, Gen…

Dariku: Amelia

 

NB: tentang tulisan itu, jika kamu merasa itu tentangmu, biarlah seperti perkiraanmu, karna itu berarti kamu merasa ada di sana 😉

 

Biarkan Daun Gugur

Bukan suatu ide yang baik menjahit daun yang telah menguning dengan batangnya sebagai usaha agar daun itu tetap menempel di dahannya. Biarkan daun itu gugur ke bumi, karena dengan begitu sempurnalah dharmanya. Demikianlah kehendak Alam Raya.

diambil dr status kawan

foto dipinjam dari album musim gugur milik Kak Imel.

 

gerhanacoklat

aku begitu menginginkanmu

lelaki yang selalu hadir di setiap detik hariku

lelaki yang selalu menyentuh hati dan rasaku

lelaki yang telah begitu lembut menyentuh ragaku

kau mengajarkanku tentang kehangatan hati

mengajarkanku tentang luasnya samudera kehidupan

mengajarkan kasih sayang, cinta, dan kesetiaan

mengajarkan indahnya bertemu Sang Pencipta

sebelum subuh menjemput kita

aku membutuhkanmu selalu dekat di hatiku

membutuhkanmu selalu dekat menyentuh kulitku

aku menjatuhkan cintaku..

tepat di hatimu

 

17 Februari 2009

—————————————————

puisi di atas berjudul Ajari Aku yang merupakan salah satu puisi di buku gerhanacoklat karya k’Julie. Puisi di halaman 37 ini berdampingan dengan puisi berjudul Analisa Cinta Kualitatif. Buku ini berisi 82 puisi karya k’Julie dan penulis tamu yaitu kakak2 k’Julie. Penasaran? Silakan pesan pada k’Julie.. 😀

Hari Senin, sy terima paket buku ini. Ditelpon sama kawan dari satpam: “dapat paket. Besar.” Hihi…ternyata gk besar-besar amat.. :P. Isinya 4 buah buku dan 1 buah mug gerhanacoklat.

4 gerhanacoklat untuk Tt, Ais, Nandini, mb Anna

di masing-masing buku dituliskan untuk siapa…

untuk tt with love and hugz... Julie

Terimakasih k’Julie, kirimannya sudah sampai dan sudah Tt baca (plus sudah  basah juga bukunya, karna aku kepeleset di tempat berair-air pas pegang buku ini 😦 ).

Buat teman-teman yang pengen juga, cepet2 hubungi k’Julie yaaaa… ^^