Membiasakan Terimakasih

Entah, ini kebiasaan baik atau buruk, yang jelas saya susah mengubahnya.

Akibat dari punya banyak kakak adalah sy jadi punya banyak ponakan dan silih berganti. Satu beranjak gedhe, lahir lagi yang kecil, begitu seterusnya, sy tidak pernah tidak punya ponakan balita :D. Membelajarkan sopan-santun pun menjadi kebiasaan yang berlanjut. Membelajarkan bagaimana meminta dengan sopan, bagaimana mengucapkan terimakasih setelah menerima sesuatu, dan seterusnya dan seterusnya. Akhirnya seringkali cara-cara itu terbawa dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat bertemu anak-anak jalanan.

Setiap kali bertemu dengan anak-anak jalanan, yang menadahkan tangan meminta sedikit rejeki kita, hati sy sering kali gamang. Jika diberi uang, maka kita sama artinya melanggengkan praktek mengemis, dan mempekerjakan anak-anak tapi jika tidak diberi kasihan juga mereka :(. Seringkali yang sy lakukan adalah memberi makanan, bukan uang. Jika kebetulan sy tidak membawa makanan, dengan berat hati sy minta maaf. 😦 sedih rasanya. Kalau menurut teman-teman, gimana si baiknya?

Nah, kebiasaan sy jika bertemu dengan anak-anak jalanan itu adalah bertanya: “kamu sekolah ndak?“. Kebanyakan mereka akan menjawab iya. Lalu setelah memberikan makanan pada mereka, mereka akan mengucapkan “Terimakasih” dan sy tersenyum sambil bilang: “sekolahnya yang rajin ya” lalu dia pergi. Entah kenapa sy selalu mengucapkan itu, udah ky template aja. Sy rasa mereka berhak mengenyam pendidikan meskipun mereka ‘harus/terpaksa’ bekerja. Dan kebiasaan sy yang lain (yang entah baik entah buruk) adalah ketika sy memberi sesuatu kepada anak2 itu dan mereka ‘lupa’ bilang terimakasih, maka sy akan bertanya: “matur pripun?“/”bilang apa?” (sambil senyum tentunya) dan mereka akan menjawab maturnuwun atau terimakasih. Sy bukan gila hormat atau butuh dihargai dengan bertanya seperti itu. Hal itu semata-mata karna kebiasaan membelajarkan mengucapkan terimakasih pada ponakan2 sy.

Semoga anak2 itu tidak menganggap sy sombong ya…. 😦