KHITAN

Biarpun judulnya sama dengan postingan Om Nh yang ini, tapi ceritanya beda lho. Hehe…

Sabtu kemarin ponakan saya dikhitan. Mumpung liburan dan memang sudah lama dia ingin dikhitan waktu naik kelas 2 SMP (sudah kegedhean belum si, soalnya di tempat saya rata2 usia segitu baru dikhitan).

Ponakan sy ini dulu tinggal di rumah kakek-neneknya (serumah dengan sy) sejak sebelum TK sampai lulus SD. Baru kemudian masuk SMP di kota orang tuanya, Gombong. Itulah mengapa sy sangat dekat dengan ponakan ini. Dia supel, lucu, menyenangkan. Kreatif pula. Pernah saya tuliskan kisahnya di sini (waktu itu dia masih kelas 3 atau 4 SD).

Dan Sabtu kemarin, saya melaju dari Jogja ke Gombong dengan sahabat saya Jeung Vega Ngatini (alias motor dengan merk yg sama) karna udah kranthil, ketinggalan Bapak yang sudah berangkat ke Gombong duluan bersama kk1. Sampai di sana ponakan sudah mandi dan siap berangkat ke pak mantri. Bertemu dengan sy yang sudah lama tidak ketemu, dia cium tangan dan seperti biasa bercanda-canda ini itu. Sy perhatikan, hmm dia sudah gedhe, suaranya sudah ‘ngagor-agori’. Apalagi sebentar lagi dikhitan. Wah….

Setelah menyalami seluruh keluarga, mbah kakung, budhe, bulik-bulik, om-om, sepupu-sepupu, pukul 17 dia dan ayahnya serta kakak dan om-nya berangkat ke pak mantri. Sementara di rumah menyiapkan untuk kenduri malamnya. Tidak terlalu lama sy pikir, karna sebelum tetangga datang untuk kenduri pkl. 18.30 dia sudah kembali. Senyumnya tersungging. Seperti ada kelegaan dari wajahnya. Selamat ya Ponakan…

Ada haru melihat ponakan beranjak dewasa. Ponakan yang dulu sy anter karnaval TK, ponakan yg terisak-isak saat neneknya ‘pulang’, ponakan yang bikin kipas angin sendiri dari  dinamo radio bekas,  ponakan kecil yang hobby nonton bola, ponakan yang lucu…

Selamat ya Di, semoga tumbuh menjadi laki-laki sholeh, rajin beribadah, dan semakin mendewasa. Amin.

#gk sy kasih foto, karna ponakan ini tidak suka difoto 🙂