Sabar Menunggu

Pengantar:
Nulis. Ya. Nulis adalah pelampiasan mujarab sy dari segala jenuh, sedih, marah, jengkel, juga bahagia, haru, bangga, dan seabreg perasaan lainnya. Tulisan tak melulu berat dengan daftar pustaka berlembar-lembar. Apa saja yang ingin sy tuliskan, tuliskan. Juga tak terpancang pada apakah tulisan sy bermanfaat bagi orang lain atau tidak, karna sy tau tulisan sy PASTI bermanfaat, setidaknya bagi sy sendiri.

Isi:
Apa yg Anda pikir dari judul postingan ini? Ya, apapun yg ada di pikiranmu, silakan sj. Dan yg ada di pikiran sy adl tentang kejadian sore tadi.

Sore tadi sepulang kerja sy melaju ke sebuah tempat. Masuk dan kulihat antrian begitu banyak. Sy menuju tempat pendaftaran dan petugas menerangkan bahwa sy harus menunggu antrian kurang lebih 1 jam. Sy melirik jam di pergelangan, 16.30. Sy pun menyetujui dan menunggu di ruang tunggu.

Menit demi menit berlalu. Tak begitu terasa karna sy bermain-main dengan handphone sy yg sdh hampir habis dayanya. 17.30 tiba, artinya sebentar lagi giliran sy. Sy menunggu. Mungkin 5 menit lagi, pikir sy. Lima menit berlalu, tp blm ada panggilan. Sy masih menunggu. Tunggu 5 menit lagi, batin sy. Jangan kira sy menunggu dgn sabar, sy sdh melayangkan keluhan melalui sms pd sahabat sy di jauh sana. Meski begitu, sy tetap menunggu. 18.00 tiba, artinya sy sdh menunggu 1,5 jam dan sdh ‘terlambat’ setengah jam dr yg dijanjikan. Baterai handphone pun habis lah sudah. Kejenuhan mulai menjalar. Sy hampir menyerah. ‘Ah, sudahlah pulang saja.’ kata sisi tak sabar sy. Tapi kemudian sy mengingat 1 jam 30 menit yg telah sy lewati utk menunggu, di mana 30 menitnya adl nilai kesabaran sy. Bagaimana jika ternyata 5 menit lg tiba giliran sy. Jika sy menyerah sekarang, maka sy telah menyiakan perjuangan 30 menit sy hanya utk berjuang 5 menit lagi. Sy pun memilih menghargai 30 menit kesabaran sy. Sy menunggu lg. 18.15 tiba, artinya sy tdk hanya uji kesabaran 5 menit, tp 15 menit. Panggilan blm jg terdengar. Sisi tak sabar sy kembali menggoda. Namun sisi perhitungan sy kembali menang. ‘Apa artinya 1 jam 45 menit yg sdh sy lewati kalau akhirnya sy menyerah? Bagaimana jika 5 menit lg tiba giliran sy. Sy akan kehilangan 1 jam 45 menit hanya karna sy tdk mau bersabar 5 menit lg’ kata sisi baik sy. Sy tdk mau kehilangan 1 jam 45 menit sy. Jd sy memutuskan menunggu. ‘Mbak Titik Sutanti’. Akhirnya nama sy terdengar. Sy melirik arloji: 18.30. Ya. Sy telah menunggu 1 jam sesuai yg dijanjikan & sy telah ‘bersabar’ 1 jam sampai akhirnya sy sampai pada giliran.

Penutup:
Begitulah pengalaman sy sore tadi. Apakah ada yg bisa berguna untuk Anda? Jika tidak ada, jangan dipaksa.Hmm..apakah sy sdh seperti Samuel Mulya di sebuah kolom di Kompas Minggu? Ah, sepertinya sy mulai mengigau.

Demikian. Sy mau melanjutkan waka waka. Sementara msh 0:0, Paraguay:Jepang. Dan sy dukung ‘saudara tua’ kita: Jepang.

KHITAN

Biarpun judulnya sama dengan postingan Om Nh yang ini, tapi ceritanya beda lho. Hehe…

Sabtu kemarin ponakan saya dikhitan. Mumpung liburan dan memang sudah lama dia ingin dikhitan waktu naik kelas 2 SMP (sudah kegedhean belum si, soalnya di tempat saya rata2 usia segitu baru dikhitan).

Ponakan sy ini dulu tinggal di rumah kakek-neneknya (serumah dengan sy) sejak sebelum TK sampai lulus SD. Baru kemudian masuk SMP di kota orang tuanya, Gombong. Itulah mengapa sy sangat dekat dengan ponakan ini. Dia supel, lucu, menyenangkan. Kreatif pula. Pernah saya tuliskan kisahnya di sini (waktu itu dia masih kelas 3 atau 4 SD).

Dan Sabtu kemarin, saya melaju dari Jogja ke Gombong dengan sahabat saya Jeung Vega Ngatini (alias motor dengan merk yg sama) karna udah kranthil, ketinggalan Bapak yang sudah berangkat ke Gombong duluan bersama kk1. Sampai di sana ponakan sudah mandi dan siap berangkat ke pak mantri. Bertemu dengan sy yang sudah lama tidak ketemu, dia cium tangan dan seperti biasa bercanda-canda ini itu. Sy perhatikan, hmm dia sudah gedhe, suaranya sudah ‘ngagor-agori’. Apalagi sebentar lagi dikhitan. Wah….

Setelah menyalami seluruh keluarga, mbah kakung, budhe, bulik-bulik, om-om, sepupu-sepupu, pukul 17 dia dan ayahnya serta kakak dan om-nya berangkat ke pak mantri. Sementara di rumah menyiapkan untuk kenduri malamnya. Tidak terlalu lama sy pikir, karna sebelum tetangga datang untuk kenduri pkl. 18.30 dia sudah kembali. Senyumnya tersungging. Seperti ada kelegaan dari wajahnya. Selamat ya Ponakan…

Ada haru melihat ponakan beranjak dewasa. Ponakan yang dulu sy anter karnaval TK, ponakan yg terisak-isak saat neneknya ‘pulang’, ponakan yang bikin kipas angin sendiri dari  dinamo radio bekas,  ponakan kecil yang hobby nonton bola, ponakan yang lucu…

Selamat ya Di, semoga tumbuh menjadi laki-laki sholeh, rajin beribadah, dan semakin mendewasa. Amin.

#gk sy kasih foto, karna ponakan ini tidak suka difoto 🙂

bertambah satu usiamu

Bertambah satu usiamu

Oh semoga penuh warna

Semakin indah hatimu

Berikan cinta tuk semua

.

Syukur tuk Yang Kuasa

atas beragam anugrah

Kusertakan doa

panjang umur kasih berlimpah

.

Ikuti hidup yang mengalir

dan reguklah hingga akhir

Karna dunia terus berubah

jangan kau terlena dan goyah

(Tambah Usia, KLA Project)

Jari jemari ini telah menari-nari dan meninggalkan jejaknya di sini selama dua tahun lamanya. Postingan pertama tertanggal 25 Juni 2008, dua tahun yang lalu, biarlah kuperingati sebagai hari kelahirannya. Menemani setiap tawa dalam satu cerita. Ketika gelisah menjadi satu kisah. Celotehan-celotehan tak penting yang kemudian hadir memberi gelak juga air mata. Pelarian kejenuhan yang paling mujarab: menulis. Ketika jemari menari, memberikan irama pada tuts-tuts papan kunci, menerbangkan angan dan imajinasi, terimakasih telah sudi menemani bahkan ketika aku ingin benar-benar sendiri, aku datang padamu dan kutemukan duniaku.

Denganmu pula kutemukan jaringan perkawanan yang luar biasa. Saling berbagi menjadi satu keluarga. Menyimpan kerinduan untuk suatu hari bisa berjumpa. Mendukung dan memberi semangat ketika tulisan tampak surut dalam gairah, tersenyum dan menepuk bahu ikut berbahagia ketika tulisan mengajak mereka berbahagia. Kita adalah keluarga, keluarga yang tak terbatas ruang dan waktu.

Teruslah menari jemariku. Terbangkanlah sayap imajimu. Ceritakanlah kebahagiaanmu. Jangan pula ragu membagi lara, tak perlu kau nikmati lara seorang diri, karna di sini, sahabat-sahabatmu hadir memberi peduli. Bagikanlah segala sesuatu, mungkin bagimu hal biasa, tapi belum tentu bagi yang membaca. Tetaplah jujur dalam tulisanmu. Berikan guna bagi semua.

Selamat ulang tahun celoteh .:tt:. (yang da hulu kuberi nama my footprints) , ikuti hidup yang mengalir dan reguklah hingga akhir. Karna hidup terus berubah, jangan kau terlena dan goyah. Kelak ketika kau baca lagi semua tulisanmu di sini, kau akan ikuti bagaimana hidupmu berubah.

Semua temans yang setia hadir, pernah hadir, dan akan hadir, terimakasih telah menjadi kawan dalam perjalanan. Seribu maaf jika ada tulisan yang kurang berkenan, tak ada sedikit pun maksud untuk melukai, hanya diri ini manusia biasa yang tak luput dari lupa. Semoga jalinan silaturahim ini tetap terjalin, semakin mengindahkan hidup kita, semakin memanjangkan umur kita.

Salam cinta, kasih, dan damai

dari tuts papan kunci di sebuah kantor di kota Jogja.

Saya yang sedang terharu seorang diri

(Yustha) Titik Sutanti

atau yang kalian panggil dengan panggilan sayang: ‘tt’

#titip selamat ultah juga buat Wi jna, yang hari ultahnya sama dengan ultah blogku. Semoga panjang umur dan penuh berkah. Amin.

Laki-laki baik akan mendapatkan perempuan baik..

(begitu juga sebaliknya)

Saya teringat pesan itu ketika beberapa waktu kemarin saya dan dua orang teman saya lembur di kantor, keduanya laki-laki. Seorang teman sudah menikah dan memiliki anak usia 3 tahunan. Yang seorang lagi (mudah2an) segera menikah. Teman saya yang sudah menikah, sebut saja namanya Sabar, orangnya memang sabaaaaaarrrrr banget. Hampir tiap hari dia menghadapi pekerjaan bertumpuk-tumpuk dan kejar tayang semua. Tapi sekalipun saya belum pernah (semoga tidak akan pernah) mendengar dia mengeluh atau bersungut-sungut. Kalaupun mengeluh, pasti dengan bercanda tanpa wajah suram. Padahal tak jarang dia harus pulang tengah malam, bahkan menginap di kantor. Tapi…yup, dia sabar, tekun, dan menjalani pekerjaannya tanpa bersungut-sungut. Mungkin inilah yang disebut bekerja dengan ikhlas.

Waktu dia keluar, saya bilang dengan teman lembur saya yang satu lagi: “Mas Sabar itu orangnya sabar banget ya mas. Kerjaan ky gini dia gk pernah ngeluh..bla..bla..bla…” Tentu saja teman saya mengiyakan dengan mantab, karna kenyataannya memang begitu.

Waktu maghrib, istrinya menelepon. Kupikir istrinya akan menyuruhnya pulang dan melarangnya lembur. Ternyata tidak. Istrinya malah mengabarkan bahwa dia sudah memasakkan masakan yang enak buat suaminya itu. Wow…

Selama dia menerima telepon di ruangan sebelah, saya bilang pada teman saya: “Istri mas Sabar itu juga sabar banget ya mas. Bayangkan, mas Sabar hampir tiap hari lembur. Waktu buat istri dan keluarganya cuma di weekend, itu juga kalau gk disuruh ke kantor karna ada kerjaan ini itu.”

Teman saya menjawab: “Itu namanya pengertian Tik. Ya gitu, yang namanya suami istri harus besar pengertiannya. Pacaran juga ding Tik. Hehe..”

“Memang benar ya mas, laki-laki yang baik akan mendapat istri yang baik juga.”

“Ya iya lah….” jawab teman saya. “Lha kalo ada perempuan baik dapat suami yang jahat gimana Tik?” lanjut teman saya tiba-tiba.

“Berarti mungkin perempuan itu dipakai Tuhan sebagai jalan untuk memperbaiki laki-laki itu.” jawab saya, meskipun saya juga mikir-mikir. Mudah-mudahan jawabannya benar ya teman2… 🙂

#hariinipostingduakali…tumben!

Gerimis

Musim penghujan hadir tanpa pesan
Bawa kenangan lama t’lah menghilang
Saat yang indah dikau di pelukan
Setiap nafasmu adalah milikku
Surya terpancar dari wajah kita
Bagai menghalau mendung hitam tiba

Sekejap badai datang
Mengoyak kedamaian
Segala musnah
Lalu gerimis, langit pun menangis

Kekasih, andai saja kau mengerti
Harusnya kita mampu lewati itu semua

Dan bukan menyerah untuk berpisah …

Sekejap badai datang
Mengoyak kedamaian
Segala musnah
Lalu gerimis, langit pun menangis

Kekasih, andai saja kau mengerti
Harusnya kita mampu lewati itu semua
Kekasih, andai saja kau sadari
Semua hanya satu ujian ‘tuk cinta kita

Dan bukan alasan untuk berpisah …

#buat jeng frozy yang pengen lagu ini 🙂

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

.:Sapardi Djoko Damono:.