dipanggil: Ibu

Postingan ini adalah sebuah uneg-uneg sekaligus ajang bagi saya untuk menyalurkan kenarsisan yang lama terpendam *holoh*.

Jadi begini. Saya adalah bungsu di kantor (meskipun sekarang sudah tidak lagi), sehingga teman-teman memanggil saya dengan sebutan ‘dik Tt’, ‘mbak Tt’, dan kalau sudah akrab langsung aja manggil ‘Titik’. Jarang (bahkan mungkin tidak ada) yang manggil saya dengan sebutan ‘Bu Titik’. Nah, akan tetapi, namun, walau begitu, peserta pelatihan atau pengunjung yang adalah bapak-ibu guru selalu memanggil saya dengan panggilan ‘Ibu’ (meskipun pengunjung mahasiswa tetap memanggil saya dengan panggilan ‘mbak’).  Padahal saya bukan pengajar lho. Kalau sy pengajar, oke lah dipanggil ‘Ibu’ sebagai penghormatan. Tapi ini…

Pernah juga suatu kali saya makan bareng teman-teman saya. Oleh penjualnya teman saya dipanggil dengan sebutan ‘mas’ & ‘mbak’, giliran saya dipanggil penjualnya dengan sebutan “Bu’. Doh. Sakit hati saya, sementara teman-teman saya ngakak.

Sudah seperti ibu-ibu kah wajahku dan penampilanku? *waktunya narsis*

*coba tebak berapa umur saya?

Apakah memang sudah pantes dipanggil: Ibu?*