kenapa bukan aku?

Setelah kemarin kutulis posting berjudul “kenapa harus aku?”, sekarang kutulis kebalikannya: “kenapa bukan aku?”

Pernahkah kita mengucapkan itu ketika seseorang yang kita cintai mendapatkan masalah yang berat atau sakit yang parah, lalu kita berdoa atau memohon kepada Tuhan: “kenapa bukan aku yang menanggungnya Tuhan? Kalau boleh, biar aku saja yang menanggung beban itu”. Sebuah cinta yang tertinggi, ketika kita rela menanggung penderitaan orang yang kita cintai menjadi penderitaan kita.

[Kamis, 1 April 2010]

-happy long weekend-