saya tidak bisa menulis

Ow..ow..ow…kenapa judulnya memelas pucat pasi begitu? Lha selama ini kamu punya blog itu trus diapain kalo gk ditulisin?

Ah, sy tidak bisa menulis kok. Tidak bisa menulis bagus.

Sepuluh hari yang lalu saya bikin account di kompasiana. Gara-garanya saya mau komen di tulisan teman saya, e ternyata harus login. Jadilah saya bikin account di kompasiana. Lalu? Lalu saya tidak tau mau saya apakan account di sana karna saya tidak bisa nulis, ya saya tidak bisa nulis seperti kompasianer lainnya yang tulisannya bagus-bagus. Minder euy…

Pun akhir-akhir ini saya juga tidak punya ide menulis fiksi. Note di fb juga berhenti. Tidak ada ide, tidak ada inspirasi. Wew, fenomena apakah ini? (jiah..!). Di blog pun cuma sekedar cerita-cerita kejadian sehari-hari. Oh my…sungguh tidak produktif!

Ya sudah lah.. dicoba saja menulis lagi. Mbaca2 lagi tulisan yang keren2, siapa tau jadi dapat inspirasi. Kata cepe, menulislah setiap hari dan kamu akan dapati tulisanmu bermetamorfosa. Serta lima tips menulis lainnya yang cepe ajarkan pada saya dan teman2nya di facebook (tidak saya tuliskan di sini tips dari cepe, takut dikira plagiat 😀 ). Cepe, kau harus tuliskan tips menulismu itu di blog juga, biar semua pengunjungmu tau kenapa tulisan2mu bernyawa. Oke cin?! Kau sudah dilirik om Reza Gunawan lho Cin, siapa tau ntar jadi penulis tamu di kumpulan cerpennya Dee :D… Wogh…saya jadi promosiin cepe ni.. Hehe..

Baiklah. Lagi2 saya menulis dengan kategori curhat. Aih,,tak apalah. Yang penting menulis. Hahahaha…..

Bu, besok Sabtu mbah uti ulang tahun lho…

Begitu cara ponakan ‘mengingatkan’ ibu’nya bahwa dia mau ulang tahun. Ya, dia tidak langsung bilang bahwa hari minggu dia ulang tahun, tapi lewat ultah almarhum mbah uti-nya, karna ultahnya sehari setelah ultah almarhum mbah uti-nya (alias ibu saya). Di Gombong sana ibu’nya senyum-senyum membaca sms anaknya. Hihi…ada-ada saja…

Saya jadi inget alm ibu waktu ultah dulu. Saya menghadiahinya sebuah baju yang saya beli di pasar beringharjo. Tentu harganya tak mahal. Tapi menerima itu ibu malah nangis: “walah tik, sangumu saja kurang-kurang kok malah mbelikan ibu baju”, kata ibu waktu itu. Iya, waktu itu saya masih kuliah, dan uang saku saya memang hanya cukup untuk makan, fotokopi, dan ongkos pulang. Tapi sy kan nyambi ngajar les, jadi syukurlah ada pemasukan tambahan.  Saya bilang pada ibu kalo saya sedang dapat rejeki. Jadi senyum deh ibu :).

10 April –> Selamat ulang tahun Bu. Damai di sisi Tuhan ya Bu..

11 April –> Selamat ulang tahun ponakanku Pita. Terus rajin belajar ya.. Dan latihan badmintonnya juga biar bisa terus jadi juara.. Maria Kristin nunggu kamu nerusin perjuangannya 🙂

=====

menangis

apa yang ingin kautunjukkan?
ketegaran menipu kerapuhan?
senyum mengelabuhi kesedihan?
atau sebuah kejujuran?

menangis dalam hati lebih jahat
daripada membiarkan air mata mengalir..
meski esok pagi kaudapati matamu sembab
tapi itu lebih baik daripada nafasmu sesak dalam pedih

menangislah bila harus menangis
karna kita semua: manusia..
manusia bisa terluka
manusia pasti menangis
dan manusia pun bisa mengambil hikmah…

Dewa pun setuju kamu menangis…

[kamar kost, 8 April 2010, 20:33]

===
sore2, hujan2, sepi, sendirian, denger lagu ini mengalun. Wue…jadi melo deh ah.. 😀 Xixixi….begitu dipost di note FB, langsung deh ada yang kesindir.. Hihihi…..sorry ya jeng…cuma respon dari lagunya Dewa19: Air Mata aja kok.. 😛

cita-citaku jadi chef… :-o

“Jadi chef”

Begitu jawab ponakan ketika kutanya: “cita-citamu jadi apa Gas?” Kontan saja saya menegaskan pertanyaan sy tadi: “Wueh, mb itu nanya serius je.” dan langsung pula dijawab dengan gemes sama ponakan: “Bagas juga seriuuuuuussss mbaaaakkkk.”

Wogh 😮

Saya mau kenalin dulu ponakan saya ini. Dia laki-laki, masih duduk di kelas VIII atau 2 SMP. Sejak SD termasuk anak yang cerdas di kelasnya. Selalu dapet ranking atau masuk 10 besar. Anak ke-3 dari 5 bersaudara. Ibunya memang pintar memasak, masakan yang dimasak ibunya selalu enak (menurut lidah saya 😀 ). Ponakan saya ini suka ikut membantu ibunya di dapur. Atau karna ini ya dia jadi suka memasak dan pengen jadi chef???

Pertanyaan saya tadi saya lontarkan lantaran kakaknya usai bercerita tentang ujian masuk perguruan tinggi yang dia ikuti. Pilihan-pilihan jurusan apa saja yang dipilihnya. Lalu muncullah pertanyaan pada adiknya yang waktu itu ikut dalam obrolan kami. Mendengar jawaban ponakan tadi, hampiiiirrr saja saya menganggap cita-citanya aneh. Untunglah malaikat baik segera menggiring pikiran saya menuju pikiran yang baik-baik. Tidak ingin saya membuat dia kecewa. Saya mencoba menyemangatinya untuk mewujudkan cita-citanya. “Kalo gitu nanti nerusin di SMK Boga aja ya Gas, terus kuliahnya di perhotelan. Kamu kan anak pinter, nanti bisa jadi chef sukses kaya Bara Pattiradjawane apa Rudi Khoirudin. Ntar kalo di tivi acaranya apa Gas? Dapur Bagas Triatmoko!!”, “Wah, jelek mbak, namaku jadi Bagas Moko aja biar bagus kalo di tivi” begitu jawabnya.

Hmm….saya jadi ingat ponakan bunda Tuti yang juga ingin jadi chef. Saya rasa profesi chef saat ini sudah jadi profesi favorit. Terbukti banyak yang ingin jadi chef. Menjadi chef bukan karena kebetulan kuliah di jurusan Boga, namun karena keinginan dan minat pada dunia itu.

Ayo Gas, kejar cita-citamu! Ibumu mendukung cita-citamu. Terbukti dia sediakan bahan-bahan kalau kamu ingin masak-masak di rumah. Tantemu ini juga mendukung, apalagi itu sudah jadi minatmu. Semoga berhasil ya Gas. Karna keberhasilan bukan pada apa pekerjaanmu, tapi pada bagaimana kamu mengerjakan pekerjaan itu. Jika kamu melakukannya dengan cinta, seluruh alam raya pasti mendukungmu. *ups, merampok kata2 om paulo coelho tanpa izin 😀 *

—jadi, apakah pekerjaanmu sesuai dengan cita-citamu??—

kenapa bukan aku?

Setelah kemarin kutulis posting berjudul “kenapa harus aku?”, sekarang kutulis kebalikannya: “kenapa bukan aku?”

Pernahkah kita mengucapkan itu ketika seseorang yang kita cintai mendapatkan masalah yang berat atau sakit yang parah, lalu kita berdoa atau memohon kepada Tuhan: “kenapa bukan aku yang menanggungnya Tuhan? Kalau boleh, biar aku saja yang menanggung beban itu”. Sebuah cinta yang tertinggi, ketika kita rela menanggung penderitaan orang yang kita cintai menjadi penderitaan kita.

[Kamis, 1 April 2010]

-happy long weekend-