maafkan saya

*dalam suasana sedih*

Hari ini saya melakukan kesalahan. Ya, itu yang membuat saya bersedih. Satu kalimat yang terdiri atas 5 kata telah membuat seseorang tersinggung dan sedikit marah. Apalagi sewaktu dia menjelaskan, saya tidak langsung menerima dan sempat ngeyel, meskipun akhirnya setelah saya berdiam saya menyesal setengah mampus telah ‘menjawab’ kata-katanya.

Saya menyesal. Saya menyesal telah mengatakan itu. Awalnya saya tidak menyangka hal itu akan melukai perasaannya. Tapi setelah saya telaah lagi, saya menyadari, wajar kalau dia marah mengingat apa yang selama ini sudah dia lakukan. Dan saya menyesali.

Maafkan saya ya… Maafkan atas kesalahan pagi ini..  Saya akan berusaha memperbaiki diri, supaya tidak terjadi kesalahan yang sama lagi…

Sampai siang ini saya masih merasa sedih. Masih merasa menyesal. Mungkin itu sudah tidak diperlukan lagi, apalagi sudah berlalu sekian jam yang lalu. Pun sudah meminta maaf pada yang bersangkutan. Humm 😦

**jangan menyesal terlalu lama, nak. Kamu sudah minta maaf, kewajibanmu sudah selesai. Tinggal dia mau memaafkanmu atau tidak.**

kenapa harus aku?

*ini pengingat buat diri sendiri*

“Kenapa harus aku??” begitu yang sering terucap di mulut kita di sela tangis yang mengharu biru ataupun terjeritkan di hati kita saat kita mengalami permasalahan yang berat ataupun kesulitan hidup. “Kenapa harus aku yang mengalami ini, kenapa bukan yang lain?” Dan coba kita tengok kembali, kepada siapakah kita bertanya? Kepada Dia yang mengatur hidup kita?

Kehidupan manusia tentu tak selalu mulus-mulus saja. Kadang Tuhan pun izinkan pencobaan terjadi dalam hidup kita, entah itu untuk menguji kita, entah itu untuk mengingatkan kita. Kadang pula kita merasa pencobaan yang kita alami terlalu berat sehingga kita tak sanggup menanggungnya. Karna itulah kita bertanya: “kenapa harus aku?”

Namun ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah memberi pencobaan yang melampaui kekuatan kita. Ingatlah selalu janji Tuhan itu. Bila kita mendapatkan pencobaan, Dia tau kemampuan kita, Dia tau kapasitas kita menghadapi pencobaan itu. Dia Maha Tahu, dan Dia tidak pernah salah mengukur kemampuan kita.

Pencobaan yang datang akan meningkatkan derajat kita jika kita mampu melewatinya dengan sabar. Naik kelas, begitulah istilah yang sering digunakan. Seperti seorang anak yang akan mendapat ujian sebelum naik ke kelas selanjutnya, begitupun kita dalam sekolah kehidupan. Jika kita tak mampu menyelesaikan, maka kita akan menyadari bahwa manusia kecil dan tak berdaya sehingga hanya Tuhan sajalah yang menjadi pengharapan kita dan pertolongan kita. Dengan pencobaan kita kembali diingatkan akan ketidakberdayaan kita. Dengan pencobaan kita menjadi kuat karna kita bergantung dan berpegang pada Yang Kuasa. Jangan berharap pada kekuatan sendiri, namun berharaplah hanya pada kekuatan-Nya.

Jika kau rasa lelah dan tak berdaya menjalani pencobaan hidup, ingatlah kembali bahwa pencobaan yang kau alami adalah pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Seperti renda yang tampak rumit di belakangnya, padahal sesungguhnya ada karya luar biasa yang sedang dibuat untuk hidup kita. Percayalah bahwa kasih Allah ada di setiap pencobaan yang menimpa kita. Jadi jika kau bertanya: “kenapa harus aku?”, maka jawabnya adalah “karna kamu mampu, dan Tuhan mengasihimu untuk menjadikanmu meningkat derajat hidupmu”.

Semoga kita semua dapat menjalani setiap pencobaan yang hadir dalam hidup kita dengan sabar dan meyakini bahwa ada hal indah di balik semua yang terjadi. Amin.

—-sudah diketik mulai tadi pagi, lalu terendap lama tidak dilanjutkan, akhirnya selepas magrib dilanjut lagi.—-

empat tahun yang lalu…

30 Maret 2006, empat tahun yang lalu

bunda pergi meninggalkan kami, menuju bahagia abadi

kemarin bapak melihat kalender, lalu berkata: “sudah empat tahun hidup tanpa ibu.”

empat tahun dalam kesendirian tanpa seorang pendamping hidup, semoga bapak terus kuat. anak-anak menyayangimu Pak..

Ibu….kami selalu merindukanmu. Ketika kami meraih sesuatu, kami sedih karna ibu tidak ikut bersama kami merasakannya. Tapi akhirnya kami sadari, ibu melihat kebahagiaan kami di atas sana.

Sudah empat tahun ibu pulang, tapi cinta dan kerinduan kami padamu tak kan pernah hilang…

merenda

Manusia memang punya naluri penasaran juga punya naluri berontak. Tersebutlah seorang manusia yang hidupnya kurang bersyukur. Dia merasa kehidupannya sangat sengsara dan menderita. Suatu hari manusia ingin sekali melihat bagaimana gambaran kehidupannya. Manusia memohon-mohon pada malaikat supaya meminjamkan gambar kehidupannya. Lalu dengan berbagai pertimbangan akhirnya manusia bisa meminjam gambar kehidupannya.

Wajah yang tadinya berseri-seri setelah memperoleh izin, lambat laun memudar. Bibir yang tadinya melengkung membentuk grafik fungsi kuadrat dengan a>0 berubah menjadi grafik fungsi kuadrat dengan a<0. Apa pasal? Manusia mendapati gambaran kehidupannya begitu rumit, penuh saling silang di sana-sini, ada hambatan di sana-sini, lalu berubah warna. Ah, rumit sekali kelihatannya. Manusia lalu mengembalikan pada malaikat selembar gambar kehidupannya.

Kemudian manusia kembali menjalani kehidupannya. Dan benar saja, kehidupannya penuh hambatan, penuh derita, ada benturan di sana sini, ada keruwetan dan kerumitan. Manusia makin menggertutu. Makin tak pernah bersyukur dan selalu memandang sesuatu dari sisi negatif. “Kenapa Kau gambar kehidupanku seperti itu? Hasilnya aku harus merasakan keruwetan ini.” begitu gerutunya setiap hari.

Suatu hari manusia memohon lagi untuk melihat gambar kehidupannya. Dia pikir barangkali sudah berubah. Tapi ternyata sama saja. Masih penuh keruwetan dan kerumitan di sana-sini. Huff….manusia bersedih hati. Dia menjalani kehidupannya dengan sedih, menggerutu, kadang-kadang menyalahkan Sang Pelukis. Yah…..begitulah manusia.

Melihat manusia yang bersedih, hidupnya penuh keluhan, minim rasa syukur dalam kehidupannya, malaikat pun prihatin. Dia bertanya: “mengapa hidupmu tak pernah bersyukur manusia?”, “mengapa kau selalu menggerutu dan bersungut-sungut?” Manusia pun menjawab dengan sedikit kesal: “bukankah memang begitu gambaran kehidupanku? Penuh kesulitan, kerumitan, dan derita?” Malaikat sedikit terkejut. “Lho, bukannya kamu sudah melihat sendiri gambar kehidupanmu?” tanya malaikat. “Iya, begitu gambarannya!” jawab manusia.

Malaikat lalu mengambilkan selembar gambaran kehidupan manusia. Dia menunjukkan kepada manusia dan betapa terkejutnya manusia melihat gambaran kehidupannya yang begitu indah. Indah sekali. Manusia sampai terkagum-kagum dibuatnya. Warna-warnanya berpadu indah, ada tekstur di sana, lembut, indah. Manusia lalu terheran-heran: “Lalu, gambaran kehidupan siapa yang kulihat kemarin?”. Malaikat yakin tak salah memberikan gambaran kehidupannya. Ketika malaikat membalikkan gambarnya untuk melihat dan memastikan bahwa yang dia berikan pada manusia adalah benar, manusia terkejut. “Itu Tuan, itu yang saya lihat kemarin.”

Tenyata manusia melihat dari sisi sebaliknya. Terbalik!

**apa yang kamu dapat dari cerita ini? tidak akan kusimpulkan di sini, biar masing-masing kita memiliki maknanya sendiri-sendiri**

[Magelang, 27 Maret 2010]

Selamat tinggal senja

Senja melenggang tanpa sepatah kata
Tak sisakan jingga berhias kilau sedikit saja
Lalu tanggallah lelah itu di sudut dengan setitik perih
Biar merata dengan fatamorgana, tepisku

Senja melenggang semakin jauh
Merentang jarak tak kasat mata dan sia-sia
Lalu tanggallah segenggam asa yang tertanam
Biar layu sebelum menuai sekotak narasi

Senja itu ada di sudut mataku
Senja itu ada di tiap inci kulitku
Senja adalah nafas yang pernah kamu tiup
Segenggam butiran kopi
Sejumput keinginan untuk berkata
Senja adalah rasa
Senja adalah kamu
Senja adalah aku
Senja adalah kita

Selamat tinggal senja..

Pati, 21 Maret 2010
Untuk: Yustha TT ‘maap inspirasinya kurang liar, T.. spontan soalnya.. but just for you, beib’

——————————————————————-
very big thanks for my lovely friend Catastrova Prima, yang udah mempersembahkan puisi cantik ini buat dirikuwh…. Aje gile betul anak ini, puisi-puisinya bernyawa euy….

Rotasi…

Tidak ada rahasia besar dalam hidup ini. Apapun tujuan Anda, Anda dapat meraihnya asal Anda mau bekerja keras. (Oprah Winfrew)

Kerja keras. Ya..kerja keras kata kunci dari quote di atas. Jadi, bukan di mana kita bekerja maka keberhasilan akan datang pada kita, tapi bagaimana kita bekerja (wuee….tt udah bisa bikin quote 😛 ).

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya 19 Februari 2010, ada pengumuman rotasi pegawai di kantorku. Desas desus memang sudah berhembus sebelumnya. Menduga-duga juga siapa kira-kira yang bakal kena rotasi. Ada sedikit praduga juga bahwa aku akan ikut dirotasi, tapi cuma sedikit, bahkan sedikit sekali :D. Lalu hari jumat tanggal 19 Februari, melalui speaker dipanggillah personil-personil yang dirotasi untuk mendapat informasi terkait rotasi di aula. Dan…deng..deng….disebutlah namaku di antara beberapa nama yang dipanggil. Ya..saya ikut kena rotasi…

Selama 4 tahun bekerja, saya sudah mengalami perpindahan ruang dengan tupoksi yang berbeda selama 2 kali. Awal masuk tahun 2006 saya ditempatkan di Seksi Program di mana tupoksi lebih banyak pada penyusunan program lembaga, penjadwalan kegiatan, persiapan kegiatan, dan lain-lain. Kemudian tahun 2008 ada rotasi besar-besaran dan saya ditempatkan di Seksi Penyelenggaraan di mana tupoksinya adalah penyelenggaraan kegiatan fasilitasi peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan seperti diklat, seminar, workshop, penyusunan modul, paket fasilitasi, dan sebagainya.

Dua tahun di seksi penyelenggaraan, tentu saja sudah menyatu dengan teman-teman satu ruangan. Karnanya ada kesedihan juga ketika harus meninggalkan teman-teman yang sudah kompak. Sampai-sampai saya membuat sajak perpisahan karna saya pun harus menguatkan diri sendiri maupun teman yang ditinggalkan karna bagaimana pun rotasi pegawai ini telah melalui banyak pertimbangan dan pasti demi kebaikan lembaga maupun pegawai itu sendiri. Saya dirotasi dari Seksi Penyelenggaraan ke Unit Riset dan Pengembangan.

Meski pengumuman rotasi telah dilaksanakan tanggal 19 Februari, tapi saya tidak langsung ‘boyongan’ ke ruangan yang baru karena hari Selasanya saya berangkat dinas luar selama 2 minggu (yang jg bikin sy gk blogwalking berhari-hari). Baru hari Senin, 8 Maret saya beberes barang-barang di ruangan lama dan hari Selasanya saya menata ruangan baru saya. Kemarin, Selasa 9 Maret 2010 adalah hari pertama saya menghuni ruangan baru dengan suasana baru dan teman-teman (lama tapi) baru. Semoga saja saya bisa segera menyesuaikan dengan pekerjaan yang baru. Yang jelas tetap semangat, tetap berkomitmen, dan ikhlas dalam bekerja. Sekali lagi: Bukan di mana kita bekerja sehingga kita berhasil, tapi bagaimana kita bekerja. 🙂

**hari ini saya menghabiskan hari di Lab..hihi…ruangan kutinggal lagi :P**