….

tiba-tiba gelap
…..
…..
…..
…..
lelap
…..
…..
…..
…..
selesai
…..
…..
…..
…..
…..
sunyi
…..
…..
…..
…..
…..
mati
………….
.
.
.
.: tt :.
20052009
2335
@5010
…..

dejavu

Sore ini aku keluar kelas setelah bunyi adzan magrib terdengar dari laptop teman yang kebetulan punya program reminder waktu sholat. Ah, akhirnya ‘diskusi yang seru’ atau kalo boleh dibilang nyaris mendekati debat ini berakhir. Kelas diakhiri dan malam nanti kami boleh beristirahat tentu dengan membawa ‘tugas mandiri’. 😦

Saat mengemasi ‘perlengkapan belajar’ku, sayup kudengar di luar aula sebuah instrumen musik klasik. Dari bunyinya aku yakin musik yang lembut ini bukan keluar dari player atau televisi, tapi ‘live’.  Dan benar saja. Saat aku keluar dari aula di mana aku belajar, satu mini orkestra sedang memainkan satu part lagu. Hmm…aku tersihir seketika. Sudah lama sekali aku tidak mendengar atau menyaksikan pementasan orkestra, live. Hampir 3 tahun mungkin. Aku duduk di lobi menikmati alunan nada yang teratur dalam melodi. Senyumku tersungging. Dia yang bermain biola itu, menggesek biolanya dengan mata terpejam, begitu menikmati permainannya sendiri yang berpadu apik dengan piano, cello, saxophone, dan teman2 violin maupun viola lainnya. Keren… Lalu aku bertepuk tangan sendiri begitu mereka selesai memainkan satu part lagu itu. Hey,pemain biola itu menoleh ke arahku dan tersenyum sambil mengangguk. Hmm….rasanya dulu pernah ada yang melakukan itu. Menoleh ke arahku setiap satu lagu selesai dan tersenyum seolah ingin melihat aku mengacungkan ibu jariku sambil berkata tanpa suara: “bagus!”. Lalu dia akan membalik partitur lagunya dan melanjutkan memainkan instrumen selanjutnya. Aku tersenyum. Seperti pernah mengalami kejadian ini.

Di mana dia sekarang? Laki2 pendiam yang kutemani di ruang latihan musik saat dia berlatih dengan kelompok mini orkestranya? Laki2 gondrong yang begitu fasih memainkan biola. Laki2 berkulit putih yang juga pantai memetik gitar, memainkan piano, dan mengiringiku menyanyikan lagu “Satu Bintang di Langit Kelam” saat menunggu pelatih paduan suara datang. Laki2 yang memainkan ensamble guitar bersama tiga teman yang lain dengan alunan “Tears in Heaven” yang membuatku menitikkan air mata. Lelaki yang memainkan petikan gitar “Romance Diamor” dengan begitu romantisnya saat aku sedang terlihat muram. Laki2 yang mengajariku ‘memegang’ biola dengan benar tapi sampai berpuluh kali dia mengajariku tak juga aku bisa sempurna memegang biola. Laki-laki yang fotonya pernah kupasang di dinding kamarku. Hey….di mana dia???

Instrumen itu… Mini orkestra itu…. Senyuman pemain biola itu…..

Aku tau lelaki itu kini baik2 saja, meski tak pernah kudengar kabarnya. Terakhir yang kutahu dia mengajar musik di sebuah sekolah di jakarta. Kira2 dia masih gondrong nggak ya? Kira2 dia masih pendiam gk ya…..

Hmm….aku tersenyum….mengingat dia… 🙂

Sampaikan salamku buat guru musik yang wajahnya mirip Gabriel Batistuta….. (barangkali ada yang diajar dia..hehe)

kembali

detik berarak pergi

perlahan tapi pasti dengan langkah yang tetap

angin pun berlalu membawa pergi semua mimpi

dan semua yang pernah tertulis telah terhapus

bersama bayang yang terbang

namun……

siapa gerangan telah menabur benih yang sama

sehingga semua yang hilang kembali datang

adakah kamu?

ataukah……..dia?

.: tt :.

16 Mei 2009

21.00 WIB waktu duduk di sudut kantor

bintang

Glitter Words
[Glitterfy.com – *Glitter Words*]

Lihat ke langit luas
Dan semua musim terus berganti
Tetap bermain awan
Merangkai mimpi dengan khayalku
Selalu bermimpi dengan hariku
 
Pernah kau lihat bintang
Bersinar putih penuh harapan
Tangan halusnya terbuka
Coba temani, dekati aku
Selalu terangi gelap malamku
 
Dan rasakan semua bintang
Memanggil tawamu terbang ke atas
Tinggalkan semua, hanya kita dan bintang
Yang terindah meski terlupakan
Dan selalu terangi dunia
Mereka-reka, hanya aku dan bintang
(peterpan: Aku dan Bintang)

Betapa senangnya aku dengan ciptaan Tuhan yang satu ini...
Indah banget.
Apalagi saat bertaburan di langit cerah dan ada sebulat bulan bersamanya.
Dia yang kecil bersinar dalam langit yang gelap...hitam.
Wow...indah banget....
Aku menyukai bintang.... Aku sangat menyukai bintang.....
Ada hembusan kedamaian saat kupandangi kilaunya di malam hari.
Ada ketenangan saat aku melepaskan kepenatan dengan memandangi bintang
dan mengagumi keindahannya.
Aku bisa melompat-lompat kegirangan karna aku telah bebas dari beban.
Ada kelepasan saat berpuluh2 kilometer kuhabiskan di bawah taburan bintang,
meski aku berjalan sendirian.
Serasa aku berjalan bersama ribuan teman.
Bintang....
Aku memang mengagumimu,
tapi terlebih lagi aku mengagumi DIA yang telah membentukmu 
dengan begitu sempurna....

.: tt :.

tak meninggalkan…

kita tidak tahu akan masa depan..

bahkan sedetik ke depan tak ada yang tahu hidup kita…

kira tak bisa mereka-reka…hanya bisa berharap…

hari ini seorang tercinta berpulang

bukan untuk meninggalkan

hanya pergi ke lain tempat

tapi masih akan tetap mengingat

kamu…..adalah hadiah terindah baginya….

bahkan di surga, dia tetap terjaga……

untukmu…

*dedicated for my best sista….. mb isma…*

yang sabar ya mb…..mm bahagia di surga…

Tiba-tiba……

Aku sedang merenung di teras rumah mayaku. Di sini, tempatku menuangkan isi hati. Tempatku berbagi hati lewat puisi, atau lewatdari-bu-kulkas cerita-cerita yang kurangkai sendiri. Sore ini aku merasakan semilir angin berdesir. Tiba2 kudengar suara seperti suara yang kukenal dulu….suara Gio… Wah, sudah lama sekali aku tak mendengar suara itu. Siapakah yang datang menghampiriku? Hwaah….seorang teman dari tetangga seberang. Seorang yang gemar dengan salju dan beku. Dia datang dengan riang.  Di atas Gio-nya dia berteriak dan melambaikan sebuah hadiah. Aku terkejut dibuatnya. Hai…siapa aku sampai kau berikan hadiah ini padaku? Dia bilang dia menyukai rumahku, suka berkunjung dan mendengarkan celotehanku. Dia menyukai rumahku. Wah, bahagianya aku. bu-kulkas-sukaLalu dia turun dari vespanya dan menyapaku dengan lembutnya. Aih, ternyata dia cantik sekali. Tubuhnya semampai dan tampak sangat anggun dengan menggandeng anjing pudel yang lucu itu, yang tadi tenang duduk di boncengannya. Sepertinya binatang ini sangat memahami tuannya, manambah wibawa dan keanggunan sang perempuan. dari-bu-kulkas-jugaDia menebarkan pesona yang luar biasa. Hatiku terasa sejuk dibuatnya. Ah…perempuan yang membawa kesejukan bagi setiap orang yang memandangnya. Lalu dia menyapaku: “selamat sore yustha”. Wah…aku menggigil dibuatnya. Suaranya pun memberi kesejukan. Aku terpana dan hanya bisa meresponnya dengan senyuman.

Dia masih dengan tenangnya, tak peduli aku terpana. Dibukanya tas kecil itu. Dan dari sana dia keluarkankan dua keping medali.

“ini untukmu”ini-dari-bu-kulkasdari-bu-kulkas-lagi1

 Lagi-lagi aku terpana. What? Dua medali ini??? Untukku?? 

Namun seolah tidak peduli dengan keterkejutanku, dia malah menarik tanganku. Mengajakku berdansa.

“hei…tidak ada musik nona…”

aku mencoba menolak dengan halus ajakannya. Tapi dengan tenang dia berkata.

“tak perlu musik untuk berdansa. Berkawan denganmu telah menjadi melodi bagi hidupku.”

dan ternyata dia benar. Tanpa musik kita bergerak….menari….hanyut dalam kebersamaan yang disebut persahabatan.

bu-kulkas

 Tanpa kusadari bulan telah mengintip di langit kelam. Nona salju ini pun telah ingin kembali ke rumah esnya. Dia berpamitan, tapi terlebih dahulu dia memasuki rumahku dan memasang sebuah kenang-kenangan di dinding rumahku. bu-kulkas-juga

“jagalah….dan tetaplah berkarya!”

itu pesan yang dia tinggalkan untukku.

Aku menatap kepergiannya….

Drum rum rum rum rum……suara vespanya melaju. Dilambaikannya tangannya. Masih tetap penuh pesona…. Dan si anjing pudel lucu itu pun tak lupa memberi salam perpisahan. Sebuah gonggongan genit dari aning kecil yang manis.

Masih terdiam aku di teras rumah mayaku. Merenungi anugerah yang baru saja aku terima. Tidak pernah terpikirkan olehku akan mendapatkan semuanya ini. Aku masih membangun rumah ini. Lama aku tinggalkan dan aku mulai membangunnya lagi. Tapi baru sedikit yang kubenahi, ternyata teman-teman memberi semangat yang luar biasa kepadaku. Mereka pun ingin aku terus membangun rumahku dan diam dengan tenang di sana, membagikan kisah-kisah kepada dunia.

Aku menutup lamunanku. Berbalik dan memasuki rumahku…. Namun belum sempat aku menginjakkan kakiku di lantai rumahku, tiba-tiba seorang perempuan yang dari hidungnya sudah kelihatan kalau dia orang Batak, berteriak memanggil namaku.

“yusthaaaaaaa…….”

Dia turun dari bis kota di jalan seberang rumahku. Memaksa sang sopir menunggunya sebentar dan berlari ke arahku.

“ini, aku punya kado untukmu. dijaga baik2 ya! terus berkarya!”

Terengah-engah dia menyerahkan bungkusan kecil itu. Lalu tanpa menungguku mengucapkan terimakasih dia berbalik ke bis kota dan berlalu meninggalkanku. Kubuka bungkusan kecil itu… mb-eka

Senyumku mengembang….. Terkrjut dan bahagia berbaur menjadi satu…

Inikah rasanya dicintai???

tak selamanya

genggamlah tanganku, sayang..
karna tak selamanya kau kan nikmati jemariku..

`
peluklah tubuhku, sayang..
tak selamanya raga ini luluh dalam hangatnya rengkuhmu..

`
kecuplah keningku, sayang..
karna kepala ini tak selamanya mampu memikirkanmu..

`
ciumlah bibirku, sayang..
karna tak selamanya kau pagut bahagiamu dalam mesraku..

`
jagalah hatiku,sayang..
karna cinta tak selamanya menyala tanpa kita jaga..

.: tt :.

4 Mei 2009

di kamarku, nyoba pake m.wordpress.com

diedit di kantor… 😛