Mengenangmu….

Sudah lebih tengah malam tapi tak ada sedikit pun rasa kantuk kurasakan. Secangkir kopi telah berhasil kukuras habis. Tak ada buku yang kubaca, tak ada acara televisi yang kuikuti, tak ada rangkaian pembicaran melaulai sms malam ini, tak ada dering telepon berjam-jam yang membuatku harus tidur larut malam. Tidak ada semuanya itu. Hanya gelisah dan mungkin sedikit kerinduan.

 

Aku mencoba memejamkan mata. Tapi dalam alam pikiran, beterbangan kenangan masa lalu. Meski tubuh ini berbaring, tapi kesibukannya melebihi saat siang hari harus kesana kemari. Berbalik ke kanan, berbalik kiri, terlentang, menutup mata, membuka lagi dan ah…….kuputuskan untuk keluar. Kusambar satu bungkus rokok ringan yang selalu kutaruh dibalik jendela kamar. Tak lupa korek api bentuk pistol hadiah dari seorang kawan. Di luar gerimis belum berhenti. Sendiri dalam malam, menikmati gerimis dan sebatang rokok, kubiarkan pikiranku berkelana bebas. Hujan. Ya, mungkin suasana ini yang membuatku teringat masa lalu. Hujan selalu membuatku merasakan kelembutan hatimu. Entahlah apa daya magis hujan sehingga kita sering sentimentil memaknainya. Yang kuingat saat hujan adalah berlindung dalam satu mantel jubah sehingga membuat pak polisi tak tau kalau akulah perempuan yang kaubonceng. Atau saat aku terjebak di rumahmu dan tak kau izinkan aku pulang meski waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. ”Tunggu sampai hujan reda, nanti kamu sakit.” begitu alasanmu. Lalu ditemani secangkir kopi kita akan membicarakan banyak hal, termasuk masa depan….masa depan kita masing-masing, masa depanmu dan masa depanku, bukan masa depan kita. Kita akan berangan-angan menikah di usia berapa, punya anak berapa, model rumah seperti apa, dan lain-lain. Terkadang apa yang kauimpikan serupa dengan impianku, tapi aku tak mau menyamaimu, aku selalu ingin berbeda darimu karna aku terlalu gengsi mengakui satu ide dan satu mimpi denganmu. Kamu selalu penuh pendapat tentang masa depanmu, dan aku lebih banyak menyetujui. Gurat puas dalam wajahmu membuat hatiku sungguh bahagia. Ah….

 

Kuhisap dalam-dalam rokokku, seperti saat seseorang menghela nafas untuk menghilangkan penat. Namun kuhembuskan perlahan….sambil kembali mengenangmu. Kamu paling tidak suka aku merokok. ”Tidak pantas perempuan merokok.” itu pendapatmu. Padahal aku hanya merokok di saat-saat tertentu. Saat penat dengan pekerjaan kantor dan butuh sedikit istirahat untuk kemudian melanjutkan lemburan, atau saat ada masalah berat dan aku hampir menyerah, atau saat gelisah seperti sekarang ini. ”Lebih baik olahraga daripada merokok. Olahraga cukup menghilangkan stress.” katamu sambil menyeretku ke lapangan tennis padahal aku sama sekali tak bisa pegang raket tennis, apalagi main tennis. Seperti kamu tahu, aku tidak suka olahraga dan lebih suka merokok untuk mengatasi kejenuhan atau kepenatan. Atau sering kaubeli buah-buahan supaya aku mengganti rokok dengan buah-buahan. Kulakukan juga saranmu meski takcukup menghentikan kebiasaanku.

 

Ah….sebenarnya kamu cukup memperhatikanku. Pun denganku padamu. Tapi ego kita sama-sama menolak mengakuinya. Kita lebih berpegang pada idealisme kita untuk tidak merusak persahabatan dengan cinta. ”Kalo aku ngelamar kamu, kamu bakal terima aku nggak?” candamu waktu itu. Maksudku aku tak tau, entah bercanda entah sungguhan, hanya saja kamu tanpa ekspresi saat menanyakannya. Dan aku menanggapinya dengan tertawa: ”Gila aja nerima kamu, ntar anakku mau jadi apa punya ayah gila kaya kamu.” Dan tawa kita pecah bersamaan dengan pukulan telak di bahuku dan respon spontanmu: ”sialan”.

 

Meskipun kita tak mau mengakui perasaan kita, kita telah pernah berjanji untuk tidak pernah meninggalkan. ”Jangan pernah ucapin selamat tinggal ya bro.” Ah, dengan aku pun kau tetap memanggil ’bro’, kau samakan aku dengan teman-teman bergaulmu. Ya, kita berjanji untuk tetap bersahabat dan tak pernah ada kata berpisah. Mungkin karna itulah kamu tak ijinkan aku tau bahwa kamu harus pergi meninggalkan aku. Kamu menungguku mendapat tugas ke luar kota dan pergi tanpa permisi, tanpa izin dariku. Tapi itulah jalanmu. Jalan yang telah dipilihkan untukmu. Mungkin kamu pun masih belum ingin berpisah dariku, apalagi aku. Tapi demi bahagiamu, aku pun melepasmu. ”Sampai jumpa sahabatku, kekasihku.” itu yang kuucapkan untukmu, bukan ”selamat tinggal” karena kita telah berjanji untuk tidak mengucapkannya.

 

Sudah habis tiga batang rokok. Kamu sudah marah besar seandainya kamu tau dalam sekali duduk aku sudah menghabiskan tiga batang rokok. Mungkinkah kamu sedang merindukanku sehingga kamu membuatku mengenang akan kebersamaan kita? Mungkinkah kamu pun sedang teringat masa lalu kita? Apapun itu, esok hari aku akan menjengukmu sayang, membawakan mawar putih kesukaanmu, seperti sering kaubawakan untukku dulu meski tanpa keromantisan sedikitpun saat memberikannya, kuletakkan di atas pusaramu sambil kupanjatkan doa semoga kau bahagia selalu……….. Esok kita akan berjumpa sayang………..

 

 

 

.: tt :.

5 April 2009

01.58 a.m. (malam bolong neeh…)

Dalam keinginan yang menggebu untuk segera tidur…..  :p