Langkahmu…

Sayang…

Aku memang tak selalu mengikuti kemana kakimu melangkah.

Kadang kita sejalan, namun kadang kamu sudah berbelok dan aku masih memilih lurus…

kadang bertemu lagi pada suatu titik, dan kita melangkah bersama lagi…

namun kadang kamu menghilang, dan aku berusaha mencari-cari…

Sayang…

terkadang kita telah merancang banyak keinginan..

merancang waktu ke depan dengan banyak angan-angan

namun kita tahu, jalan hidup tak selamanya sesuai harapan

sekali waktu kita dapati kita harus improvisasi

atau bahkan mengubah rancangan2 kita sama sekali

ya, kita tahu, kita hanya bisa berencana dan berusaha

selanjutnya ada kuasa yang menjawabnya…

merasa kecewa, ah..kita tau kecewa hanyalah sebuah perasaan

saat kita tak bisa menerima bahwa kenyataan tak sesuai dengan harapan

dan bahagia, ya…itu karna kita menerima kenyataan dan berterimakasih atasnya

Sayang…

sekali waktu kau ijinkan aku mengikuti langkahmu

meski bagiku itu teramat penting untuk kutahu

tapi taukah kau, jalan hidup seseorang kadang bisa menjadi pelajaran buatku

juga jalan hidupmu…

aku banyak belajar darimu

dari caramu menghadapi waktu

dari caramu menghadapi kecewa

dari caramu menyikapi bahagia

dari caramu berserah untuk suatu keputusan hidup…

Sayang…

kini kutahu langkahmu telah kaupilih

dengan ikhlas dan berserah

selalu ada yang berubah dalam hidup

juga dari setiap langkah yang kita pilih

berjalanlah dengak langkah pasti sayang…

aku selalu berdoa untukmu

Berita dari sahabat…

Sahabat, waktu-waktu yang kita lalui dulu, 4 tahun yang lalu, telah cukup menyatukan hati kita. Tiga bulan yang kita lalui bersama, mengurus anak-anak yang bandel-bandel, tapi lucu dan bersahabat. Kamu ingat, ada satu anak yang membuatmu rajin datang ke sekolah. Perempuan yang masih sangat kecil untuk kita waktu itu. Gadis dengan gigi gingsul, katamu yang seperti dia yang menarik hatimu. Lalu anak laki-laki tinggi kurus yang membawakan jambu air untuk kita. Anak-anak yang mengenang kita dengan lukisan mural di lapangan basket. Mereka sekarang pasti sudah dewasa, mungkin sudah seusia kita waktu kita ada di sekolah mereka.

Kita menjadi teman satu tim yang sangat solid. Kamu ingat, kita mencari baju putih untuk kado ulang tahun teman kita. Kamu selalu mengingat itu tiap kali mengucakan selamat ulang tahun untukku. “Sorry, nggak bisa patungan untuk beliin baju putih..” Aku pasti tersenyum dan kembali pada cerita kita dulu. Kamu juga pasti ingat, kita sering berkumpul di kost, ngobrol dan cerita-cerita. Lalu ada yang mau pinjamkan pundaknya karna ada yang berlinang air mata, tapi si dianya malah mau lihat cicak aja, biar air matanya nggak jatuh. Dan kisah itu pun masih sering kita ungkap di sela-sela obrolan kita sekarang. Yah…banyak cerita di antara kita. Juga tentang ‘matahari’. Dan kita mengejar matahari kita waktu itu. Hey, sudahkah kamu menangkapnya???

Sahabat, empat tahun sudah aku mengenalmu. Rasanya baru kemarin aku mendahuluimu meninggalkan kampus. Ternyata sudah dua tahun berlalu. Tapi kita tetap dekat meskipun kita tak lagi satu kampus. Kita masih sering saling menemani. Kamu menemaniku mencari kado untuk seseorang, dan begitu pula aku, aku menemanimu ke mana kamu ingin kutemani. Dan aku seperti tidak punya beban saat minta tolong padamu, begitu pula kamu. Kita juga saling bercerita, sampai-sampai kamu seperti diary hidup buat aku. Dan kamu pun tak sungkan bercerita masalah-masalahmu padaku. Kadang saat larut malam kamu berkirim pesan pendek: “Sudah tidur? Aku masih lembur nih?” Dan jika aku belum tidur, kamu pun akan melanjutkan mengerjakan pekerjaanmu dengan ditemani sms-smsku. Begitu pula aku, aku akan mengingatmu saat aku butuh teman lembur di malam hari. Kamu biasanya tidur larut, dan kita akan saling menemani, meskipun hanya lewat pesan-pesan sms. Kamu memang sahabat yang setia.

Hari-hari terakhir kamu sedang berjuang menyelesaikan sesuatu. Masa depanmu. Aku berusaha menyemangatimu dan membuatmu yakin bahwa kamu pasti bisa menyelesaikannya. Kadang kumarahi juga kalau kamu mulai mengabaikannya, padahal kamu tahu waktumu sempit. Seperti seorang kakak pada adiknya. Yah, begitulah sahabat, kadang menjadi teman, kadang menjadi adik, kadang juga menjadi kakak. Kamu terus memberiku kabar tentang perkembangan perjuanganmu. Dan aku serasa ikut berjuang. Setiap tahap kamu beritakan, dan setiap tahap itu selalu membuatku bahagia.

Hari ini kamu pun memberi kabar bahagia terbaru. Dan dengan kabar darimu, hari ini bisa kulalui dengan semangat. Seolah tidak ingin merusak kebahagiaanmu. Selamat ya sahabat, akhirnya kamu berhasil menyelesaikan perjuanganmu yang sempat tertunda. Lanjutkan perjuanganmu, karena ada tugas lain yang menunggu. Aku selalu mendukungmu, meskipun hanya dengan sms atau telpon, bukan dengan sesuatu yang besar. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran.”