Malam-malamku..

Sekarang sudah pukul 20.19 waktu komputer dan aku masih di kantor. Bukan karena aku ada lemburan, atau aku tugas piket malam. Bukan…

Malam ini aku benar-benar tidak ingin pulang. Di kamar yang sempit itu ada daya yang sangat kuat, yang membuat mataku bisa tidak tidur semalaman karena pikiran yang berkelana jauh hingga ke ujung indonesia. Malam ini aku malas masuk ke kamarku. Di kamar itu aku benar-benar tidak bisa membohongi diri sendiri. Saat di kantor aku bisa tertawa-tawa, bisa melampiaskan kekesalan dengan marah atau ngomel2 kemudian tertawa-tawa lagi, bisa dimanja oleh teman-teman, bisa ngobrol bebas dengan teman-teman, bisa melupakan banyak hal…

Malam-malam ini aku memiliki sahabat yang menemaniku hingga larut. Bercerita banyak kisah, yang membuatku merasa bahwa hidup dalam cinta memang indah dan kehilangan kepercayaan adalah hal paling sulit disembuhkan…. Tapi malam-malam belakangan entah ke mana dia menghilang… Mungkin butuh sendiri tanpa pengaruh dari luar untuk proses menuju kesembuhan… Ya…aku mengerti.

Aku tak mau menemui malam. Karna semua yang terlupakan di siang hari, terakumulasi lagi di malam hari… Lelah dan masalah yang sudah kulupakan di siang hari, terungkap lagi semuanya di malam hari…

Pelangi Kasih-Nya

Apa yang kau alami kini

mungkin tak dapat engkau mengerti.

Satu hal tanamkan di hati

indah semua yang Tuhan beri.

Tuhanku tak akan memberi ular beracun

pada yang minta roti.

Cobaan yang engkau alami

tak melebihi kekuatanmu.

 

Tangan Tuhan sedang merenda

suatu karya yang agung mulia.

Saatnya kan tiba nanti

kau lihat pelangi kasih-Nya.

 

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami adalah pencobaan-pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Tuhan setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melebihi kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai, Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13)

Karena Cinta

Pagi ini seperti biasa, Dinda menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Menyiapkan kopi dengan takaran yang tepat seperti selera suaminya. Menyiapkan baju yang hendak dipakai suaminya. Pagi yang seperti biasanya dilakukan Dinda. Sudah bertahun-tahun Dinda melakukan hal yang sama, tapi tak juga Dinda menemukan perasaan nyaman dengan kebiasaan pagi harinya itu. Yang dia lakukan sepertinya hanyalah rutinitas kewajiban seorang istri kepada suaminya. Setiap hari Dinda berusaha melakukan itu dengan baik, dengan sepenuh hati, tapi Dinda tak jua menemukan perasaan bahagia seperti istri-istri lain yang yang melakukan itu dengan sukacita. Dinda bukannya tidak ikhlas, atau tidak tulus mengerjakan banyak pekerjaan untuk suaminya. Dinda bahkan selalu berusaha membuat suaminya senang, tapi mengapa batinnya tak juga bahagia, dia bahkan merasa tersiksa dengan kepura-puraan ini. Padahal Dinda sangat tahu bahwa suaminya itu sangat mencintai dia. Apapun yang Dinda inginkan selalu dipenuhi oleh suaminya. Bahkan yang ia rasakan, dalam hati sang suaminya yang terpenting adalah kebahagiaan Dinda.  Ahh…ada apa ini??

Mungkin sudah menjadi rencana Tuhan bahwa Dinda harus kehilangan suaminya itu untuk selama-lamanya. Sebuah kecelakaan memisahkan dia dari suami yang sangat mencintainya. Dinda sedih, tapi tak berlarut-larut dalam kesedihan. Beberapa tahun kemudian Dinda mengakhiri status jandanya dan menikah dengan kawan lamanya saat SMA. Dinda kembali menjadi seorang istri dengan kewajiban seorang istri yaitu tunduk pada suami dan mengasihi suaminya. Setiap pagi Dinda menyiapkan sarapan, menyediakan kopi dengan takaran yang berbeda dengan suaminya yang dulu, tetapi sesuai dengan selera suaminya kini, menyiapkan baju yang hendak dipakai ke kantor, merapikan baju suami, mengantarkan sampai depan pintu, menerima kecupan di kening, dan melambaikan tangan. Setiap hari setiap pagi selalu begitu, dan Dinda merasakan sukacita. Setiap apa yang dia lakukan tak ada rasa beban sama sekali, semua dia lakukan dengan bahagia dan sukacita. Hey!!! Dinda tertegun. Bukankah apa yang dia lakukan sekarang untuk suaminya hampir sama dengan yang dia lakukan untuk suaminya yang dulu??? Mengapa rasanya sungguh berbeda. Dulu dia merasa pekerjaan pagi hari itu suatu rutinitas yang wajib dia lakukan, tapi sekarang…hey, Dinda bahkan tak pernah mengingat-ingat apa yang harus ia kerjakan pagi ini, semua mengalir begitu saja, tak ada keterpaksaan apalagi kepura-puraan, tak ada perasaan tersiksa ataupun perasaan bersalah karna tak bisa membalas cinta suaminya yang begitu besar..hey…ada apa ini???

Ya….Dinda mengerti. Dulu dia tak mencintai suaminya. Dinda berusaha dan belajar mencintai suaminya tapi tak juga berhasil, padahal dia sangat tahu bahwa suaminya itu sangat mencintainya. Tapi sekarang….sekarang dia mencintai suaminya, bahkan ketika Dinda tahu bahwa cinta suaminya tak lebih besar dari cintanya, Dinda tetap bahagia. Itulah mengapa dia selalu merasakan sukacita dalam setiap hal yang dia lakukan untuk suaminya… Ternyata….karena CINTA….

Indah Pada Waktunya

Desember 2016

“Selamat Natal Tante…” riang kudengar anak-anak mengucapkan selamat hari raya padaku. Bahagianya… Di ujung telepon sana mereka bilang sedang membawa kado untuk tantenya ini. Telepon dipegang mama, anak-anak berteriak di depan telepon dan mengulurkan kado yang mereka bawa, seolah-olah tantenya ini ada di depan mereka, pada telepon yang mamanya bawa. Anak-anak yang lucu. Aku sayang sama mereka mas. Aku bersyukur boleh menjadi bagian hidup mereka, mewarnai masa kecil mereka, bermain-main dengan mereka, dan bahkan boleh menganggap mereka anakku sendiri. Aku memang selalu berharap ini akan terjadi. Mas menikah dengan kekasih yang sangat mas cintai, yang pernah aku lukai karena aku menjadi bagian hidup kalian dan menjadi alat yang Tuhan pakai untuk menguji kesetiaan mas. Aku lebih bersyukur karna mbak Dee orang yang sangat baik, yang memaafkan kita dan bahkan menjadikanku saudara. Hari ini aku sungguh bersyukur menyadari itu semua. Dan aku sudah tenang karna kesalahanku telah kalian maafkan.

Dulu aku berpikir aku tidak akan bisa memafkan diriku sendiri. Aku pun berpikir aku tidak akan sanggup melalui hari-hari ke depan. Perasaan bersalah itu selalu membayangiku. Aku tidak putus meminta maaf pada mbak Dee, berharap mbak Dee mau menerima mas kembali dan melanjutkan rencana-rencana yang telah kalian susun. Tidak mudah membuat mbak Dee percaya bahwa aku hanyalah alat yang Tuhan pakai untuk menguji kesetiaan mas. Bahkan mbak Dee terus meyakinkanku bahwa cinta bisa berubah seiring waktu, juga cinta mas padanya dan padaku. Namun waktu itu aku percaya, jika aku dipakai Tuhan untuk menguji mas, aku juga pasti Tuhan pakai untuk menyatukan kalian kembali. Aku sempat memutuskan pergi jauh dan menghindar dari orang-orang yang mengenalku, terutama kalian. Tapi aku akan menjadi manusia paling egois, yang mengabaikan tugas selanjutnya yang Tuhan berikan padaku. Hari-hariku penuh dengan permohonan maaf. Setiap hari kumohon permohonan yang sama: ‘satukanlah cinta itu ya Tuhan. Dan izinkan aku melihat kebahagiaan mereka, bersama anak-anak mereka’. Bersyukur Tuhan tidak pernah bosan mendengarku.

Aku tidak memungkiri, bahwa rasa kehilangan itu ada, namun itu kalah oleh perasaan bersalahku dan oleh keinginanku melihat mas bahagia. Jika malam tiba dan lamunanku mulai melangkah pada mas, aku selalu alihkan dengan bicara pada Tuhan, meminta maaf dan mengungkapkan permohonanku itu, sampai aku akhirnya tertidur. Aku tidak tahu di luar sana apa yang mas dan mbak Dee rasakan. Aku hanya menitip pesan pada angin: sampaikan pada mereka, aku sayang kalian dan aku ingin melihat kalian bahagia. Angin tidak pernah memberi tahuku, apakah pesanku telah tersampaikan atau belum, karnanya aku selalu mengulangnya setiap hari.

Suatu hari setelah sekian lama aku tidak berkomunikasi dengan kalian, tiba-tiba satu pesan pendek datang. Dari mbak Dee: “Dik, mb sayang sama kamu.” Entahlah, kenapa saat itu aku justru merasa gelisah. Aku khawatir ada apa-apa dengan mbak Dee sehingga mbak Dee mengucapkan kalimat itu. Dengan sedikit takut aku menelepon mas. Sebelum mas sempat mengucapkan salam, aku langsung bertanya “Mbak Dee baik-baik kan mas?”. Tidak kusangka jawaban yang datang adalah dari seorang perempuan. Mbak Dee. Ya Tuhan, serasa mendapat asupan oksigen saat kudengar suara itu, apalagi dari telepon genggam mas. Syukurlah, kalian sudah kembali bersatu. Aku sangat lega menyadari itu….

Setelah hari itu, kita kembali berkomunikasi dengan baik. Mbak Dee sering menelepon atau mengirim pesan pendek, begitu juga mas. Aku serasa memiliki dua orang kakak yang sangat baik dan memperhatikanku. Aku tidak merasakan lagi sakit yang dulu kurasakan atau sedih yang membuatku menangis. Aku hanya merasa bahagia, bersyukur karna kalian telah memaafkanku. Bahkan ketika kalian mengabarkan bahwa kalian akan menikah, aku menjadi orang paling bahagia di dunia. Aku menjadi orang paling sibuk yang ikut menyiapkan ini itu untuk hari besar kalian. Sungguh aku tidak ingat lagi bahwa aku pernah menginginkan hari ini terjadi padaku, dengan mas. Puji Tuhan, Tuhan jawab doaku, menyatukan lagi cinta kalian dan mengizinkanku melihat kalian bahagia. Kulihat cinta yang besar itu telah menemukan pelabuhannya… Aku sangat bahagia…

“Tante, kami nanti ke rumah tante ya, sama mama sama ayah…” si kecil terdengar sangat ceria. Sepertinya dia merindukanku. Akhir-akhir ini aku sibuk dengan kegiatan di gereja dan jarang mengunjungi anak-anak. Aku sudah sangat merindukan mereka…

“Iya tante, nanti tante masakin opor ya tante, kaya mama kalo lebaran…” kakak menyambung.

“Iya sayang, tante kangen sekali sama kalian, makasih ya sayang. Tante tunggu kalian datang, tante dah masakin opor kesukaan kalian. Salam buat mama dan ayah ya…”

Ah, bahagianya aku boleh menikmati ini semua. Tuhan memang baik. Semua kisah yang ditulisnya selalu berakhir indah. Mungkin saat dalam masalah, kita merasa hidup ini jahat, tapi satu hal yang kucatat dari kitab suci yang aku miliki bahwa: Tuhan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya. Dan aku percaya…

Veronica decided to die… *)

Ve memegang botol kecil berisi cairan anti nyamuk di tangan kiri. Di tangan kanannya handphone miliknya. Dikenangnya kisah bersama Jo, kekasihnya (atau yang ia sebut kekasih ), dengan membaca sms-sms yang masih tersimpan. Beberapa waktu lalu Jo telah menghapus semua sms yang dia kirim ke Ve di kotak masuk handphone Ve. Ve tidak bisa mencegah. Hanya sempat berkata: “Jangan mas!”. Untunglah Ve menyimpan sms-sms yang ia kirim untuk Jo. Dibacanya satu per satu. Dari situ dia mengenang kejadian saat sms itu dikirim, perasaan saat itu, dan kedekatan mereka berdua. Ada bahagia, ada sedih, ada marah, ada kecewa, ada gelisah, semuanya pernah ada dalam hidup mereka berdua.

Mata Ve bengkak, dan air matanya masih mengalir. Dengan terisak Ve mengetik SMS untuk Jo, SMS terakhirku, pikir Ve saat itu. Ve ingin berpamitan pada Jo. Ve merasa hidupnya telah lengkap bersama Jo. Tapi saat Jo pergi dan tak ada kesempatan untuk kembali, Ve merasa tak ada lagi yang ia inginkan dalam hidup ini. Maka hidup hanya akan berjalan dengan sangat membosankan. Hari-hari akan selalu sama. Pagi, siang, sore, malam, gelap, lalu pagi lagi, begitu seterusnya. Tidak ada lagi yang Ve harapkan. Apa gunanya hidup jika tak ada lagi keinginan, tak ada lagi harapan??? Harapan Ve adalah membangun keluarga, punya anak-anak yang lucu dan cerdas, menikmati hari tua bersama suami dan anak-anak yang memperhatikan dia di usianya yang renta. Dan semua itu ia harapkan bersama Jo, lelaki yang selama ini selalu ada di sisinya, menemaninya, meskipun ternyata tak pernah mencintainya. Kenyataan itu membuat Ve sakit, sedih, dan tak punya semangat hidup lagi.

Ve ingin menyelesaikan hidupnya saja. Menyelesaikan peran yang Dalang berikan untuk dilakoninya di dunia ini. Ve ingin berhenti di sini, dan sang Dalang pasti punya skenario lain setelah pelaku peran memutuskan untuk keluar dari perannya. Jalan ceritanya mungkin berbeda, tapi pasti tetap dapat berjalan dengan indah. Pemain-pemain lain mungkin akan kehilangan, tapi pasti tidak lama karna jalan ceritanya bisa diatur selama dalam perjalanan… Ve memutuskan ‘berhenti’ hidup. Sang Dalang mungkin akan marah. Tapi Ve sudah sering membuat-Nya marah, dan ini akan jadi kesalahannya yang terakhir yang membuat sang Dalang marah. Ve merasa tenang dan merasa dapat persetujuan dari pemahamannya itu. Ve tinggal menenggak saja cairan di tangan kirinya itu. Mungkin akan sakit sebentar, tapi setelah itu tidak akan terasa apa-apa, hanya gelap, melayang, hilang…

Alasan apa yang akan kuberikan kepada keluargaku, kawan-kawanku, tetangga, dan orang-orang di sekitarku. Ve menghentikan niatnya. Banyak kemungkinan gagal jika sebuah niat diberi kesempatan untuk berpikir ulang. Ve mengambil novel karya Paulo Coelho “Veronica Decided to Die”. Gadis di novel itu namanya sama dengan dirinya. Veronica dalam novel itu mengakhiri hidupnya dengan meminum racun. Alasannya karna dia telah merasakan semua yang bisa dirasakan dalam hidup. Dan dia ingin berhenti hidup jika hidup ini hanya sama dari hari ke hari. Dia telah tau rasanya bahagia, rasanya sedih, gelisah, ditinggalkan, mencintai, dicintai, tidur bersama lelaki, menghabiskan malam sendiri, dan semua yang ia ingin rasakan sudah dirasakannya. Karna itu veronica dalam novel itu memutuskan mati. Tidak ada masalah apapun yang mendasari keputusannya. Hanya bosan, itu saja. Tapi veronica mencari-cari alasan, dan akhirnya ia temukan satu alasan yang sangat tidak masuk akal untuk menjadikannya dasar mengakhiri hidup: menginginkan slovenia, tempatnya hidup tercatat dalam peta. Haih…sungguh tidak bisa diterima akal. Lalu apa alasanku? Ve masih belum menemukan. Sangat tidak prestise mengakhiri hidup karna tidak sanggup ditinggalkan kekasih. Tapi memang bukan itu masalahnya. Ve sudah tidak punya harapan… Itu alasannya….

Handphone berbunyi. Telepon dari Jo. Hanya menegaskan lagi bahwa tidak ada yang bisa kembali. Semua yang sudah terjadi tidak bisa lagi kembali, juga saat ini. Ve sangat lelah. Lelah menangis semalaman. Menerima telepon dari Jo dengan sangat lelah. Ve tidak mendengar lagi kata-kata terakhir Jo. Ve rebah… Tangan kirinya masih memegang botol berisi cairan anti nyamuk yang tinggal berisi sepertiganya, tangan kanannya terlipat dekat telinga dengan handphone tergeletak di dekatnya. Novel Paulo Coelho tertelungkup di perutnya. Ve merasa gelap.. Lalu hilang… Dan bermimpi bertemu Tuhan, sang Dalang kehidupan…..

*) pinjem judulnya ya Om Paulo Coelho… 🙂