Archive

Archive for the ‘Tuhan’ Category

SAKIT

November 8, 2009 yustha tt 3 comments

 

Hari ini status facebook teman-teman banyak yang menuliskan tentang sakit-penyakit. Seorang teman menuliskan bahwa anaknya panas, deman, tidak mau makan, badannya lemas. Lalu ada pula status yang berupa doa, mohon kepada TUHAN untuk memberi kesembuhan dari penyakitnya karena masih banyak hal yang ingin dia lakukan. Ada lagi yang mengeluh demam karena baru saja di Jakarta dia berhujan-hujan, kini di jogja panas tak terkira. Dan seterusnya. Dan dari semuanya itu, aku pun ikut menundukkan kepala bagi saudara-saudaraku ini, supaya TUHAN menjamah mereka dan menyembuhkan mereka dari sakit-penyakitnya.

Weekend ini, aku membagi waktuku untuk menjenguk ponakanku yang sakit di hari sabtu dan mengantar bapak pijat di hari minggu. Ponakan beberapa waktu yang lalu sakit. Demam. Kakak berulang kali mengabarkan keadaan anaknya. Namun saya sedang ada dinas di luar kota sehingga tidak bisa datang menjenguk. Namun tak lupa kubawa si kecil kepada TUHAN dalam doa malamku. Tante percaya nak, doa itu besar kuasanya.

Kemarin kujenguk ponakan. Dia sudah cukup sehat meskipun masih minum obat. Dan bersyukur meski masih 10 bulan, dia tidak sulit minum obat. Ketika saya datang, dia masih bermain dengan ibunya. Syukurlah nak, tante seneng melihatmu ceria lagi. Tante sempat khawatir waktu ibumu mengabarkan keadaanmu. Tapi meski tante tidak menjengukmu, tante percaya TUHAN sendiri yang datang untukmu dan menyembuhkanmu.

Hari minggunya saya pulang. Dan seperti janji saya pada bapak, saya mengantar beliau ke tempat kakak ketiga untuk pijat dengan alat pijat getar yang dimiliki kakak. Bapak bahkan membawa alat itu pulang dan mengulangi pemijatan di rumah.

Sorenya kami ke gereja. Tak lupa saya memohonkan kesehatan untuk beliau juga untuk teman-teman & saudara-saudara yang sedang sakit. Di akhir doa saya tetap berpasrah: jadilah kehendak-MU ya Allah.

Sepulang dari gereja kami bersiap nonton MotoGP. Tapi tiba-tiba bapak mengeluh kepalanya sedikit pusing. Saya coba periksa tekanan darahnya dengan alat tensi yang kami punya. Ya Tuhan, ternyata tekanan darahnya tinggi: 190/100 (menurut hasil pemeriksaan saya). Saya segera mencari persediaan obat bapak. Ternyata habis, tinggal obat dosis rendah yang sudah tidak mempan untuk bapak. Lalu dengan tenang (bapak tidak boleh liat saya panik, karna beliau pasti akan ikut panik lalu stress lalu tensinya akan semakin tinggi), saya ajak bapak untuk periksa ke dokter spesialis penyakit dalam yang biasa memeriksa bapak. Bapak bersedia dan kami pun berangkat. Ternyata hari minggu tutup. Duh. Kami kembali pulang. Berbekal salinan resep dari dokter saya kembali pergi mencarikan obat untuk bapak. Berkeliling kota purworejo, ternyata apotek2 sudah tutup. Akhirnya saya ke RS Panti Waluyo, rumah sakit yang sudah seperti rumah buat saya karena dulu kakak kerja di sana selama 8 tahun, ibu saya juga dirawat di sana setiap kali sakit, bapak juga sering saya bawa ke sana kalau sakit. Sampai di sana saya langsung bertemu dengan perawat yang kebetulan juga sudah saya kenal. Maksud hati ingin menebus obat, tapi ternyata obat yang dimaksud di resep tidak ada. Saya menunduk lemas. Numpang nangis sebentar lalu pulang. Ya Tuhan…

Sesampai di rumah, bapak masih bermain-main dengan alat tensi. Beliau memang bisa mengukur tekanan darahnya sendiri. Tadi saya berbohong pada beliau bahwa tekanan darah beliau 170/100 bukan 190/100 supaya beliau tidak stress. Ternyata waktu saya tinggal nyari obat, beliau memeriksa sendiri dan tahu berapa sebenarnya tekanan darahnya. Saya lalu ajak beliau untuk periksa ke rumah sakit saja. Dan untungnya beliau bersedia (maklum orang tua kadang tidak mau diajak periksa kalau bukan dengan dokter yang biasanya). Saya kembali datang ke RS Panti Waluyo untuk kedua kalinya dalam satu malam. Sudah pukul 21 lebih, sudah ganti shift. Ditemui perawat yang saya tidak kenal, bapak diperiksa. Ternyata hasil pemeriksaan di RS, tensi beliau 180/110. Lalu dipanggilkan dokter. Dan lagi-lagi saya bersyukur karna dokter yang memeriksa malam ini adalah teman kakak yang sudah bapak kenal. Ini cukup mengurangi tingkat stress bapak. Apalagi dokter ini suka bercanda. Kami diberi obat, dokter langung menelepon kakak saya dan memberi ‘instruksi2’ langsung pada dia tentang kesehatan bapak, dengan bahasa kedokteran yang saya nggak maksud. Puji Tuhan bapak cukup minum obat dan rawat jalan. Kamipun pulang.

Sekarang, saat saya mengetik ini, beliau sudah tidur. Saya berdoa supaya TUHAN memberikannya kesehatan, pemulihan, dan kebahagiaan di usianya yang sudah tua. Masih banyak keinginannya yang belum terwujud dan masih ada satu ‘tanggungjawab’ yang masih membebani beliau. Aku paham betul Pak. Tetaplah sehat Bapak. Berbahagialah di hari tuamu. Lihatlah kami anak2mu yang sudah kau antarkan menuju kemandirian. Engkau adalah gambaran keberhasilan yang menginspirasi banyak orang. Tidak ada satu pun anakmu yang kau izinkan bekerja menggunakan alat cangkul sepertimu, tapi dengan alat pena & komputer. Tidak bekerja di bawah terik matahari sepertimu, tapi di dalam ruangan yang teduh. Dan seperti cita-citamu, mengantarkan anak-anak untuk bekerja yang memberi guna bagi orang lain, dan TUHAN pun memberikannya: pendidikan & kesehatan. Berbahagialah Bapak dengan semuanya itu. TUHAN, tolonglah bapak, sembuhkanlah dia, pertolonganMU menyembuhkan ya Allah…

Ya TUHAN, ku tidak pantas Kau datang padaku

namun  bersabdalah saja maka aku akan sembuh…

tangan TUHAN tak kurang panjang untuk menolong

telinga TUHAN tak kurang tajam untuk mendengar

dan kini TUHAN ampuni sgala dosaku

dan kutahu KAU sanggup tolongku…

Kami serahkan hidup kami kepadaMU ya ALLAH….sakit penyakit kami semua: bapak, teman, saudara, semuanya… Amin.

 

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.

1 Petrus 1:16

bapak

bapak 75th

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

::Purworejo, 8 November 2009, 23.34 WIB::

Categories: Tuhan, hati, keluarga, teman Tags: , ,

Menguatkan & Dikuatkan

October 27, 2009 yustha tt 8 comments

Pernahkah kamu harus menyemangati orang lain padahal kamu sendiri sedang butuh disemangati? Pernahkah kamu justru menjadi kuat dengan menguatkan orang lain? Saya pernah, bahkan boleh dikata sering. Seringkali saat saya sedang melemah semangatnya, tiba-tiba ada teman yang curhat tentang sesuatu dan dengan niat baik saya berusaha menyemangatinya. Dan terkadang justru saya mendapatkan semangat dari apa yang saya katakana padanya, kadang berupa kutipan ayat, kadang juga muncul sendiri –mungkin dari pengalaman–, yang jelas mengembalikan pada TUHAN adalah langkah pertama yang harus dilakukan ketika kita jatuh.

Suatu hari teman mengeluh tentang cobaan yang bertubi-tubi dialaminya. Dari ditinggal kekasih, kemudian menemukan pengganti, namun gagal lagi, menemukan pengganti lagi, ternyata ada masalah lagi, dan…..ya….dia merasa cobaan yang ditanggungnya terlalu berat.

“Aku nggak kuat mbak…..” katanya waktu itu.

“Hey, bukankan TUHAN tidak memberikan cobaan yang melampaui kekuatan manusia? Kalau kamu merasa itu berat, TUHAN tau kapasitasmu sehingga DIA mengizinkan pencobaan itu terjadi padamu.”

Suatu hari lagi ada yang mengeluhkan masalahnya yang tidak kunjung usai dengan pacarnya.

“Sabar ya Ndut. Lo butuh sabar dan ikhlas menjalani ini semua. Ikhlas memang sulit Ndut, tapi lo pasti bisa. Minta sama DIA, dan DIA akan memberikannya kepadamu. Jangan berharap pada manusia, berharaplah hanya kepada ALLAH.”

Ada lagi yang melihat hidupku. Dia bilang hidupku juga penuh cobaan.

“Ah, lo juga banyak cobaan gitu. Lo bilang TUHAN sayang ma lu, tapi lu juga masih mengalami banyak cobaan gitu.”

“Pencobaan yang datang itu buat nguji gw. Gw berusaha ngerjain, tapi wajar kan kalo gw kadang lupa, namanya juga manusia. Makanya TUHAN kasih remedial buat gw supaya gw bisa lulus ujian yang satu itu. Kalo gw udah lulus, bukan berarti gw bakal selesai ngejalanin ujian. Setelah melewati pelajaran hidup selanjutnya, akan ada ujian lagi. Begitu seterusnya. Kalo kita berhasil lulus dari satu ujian, kita akan naik tingkat ke derajat yang lebih tinggi. Lu tau, kalo TUHAN kasih cobaan itu justru karena TUHAN sayang sama kita.”

Dan banyak lagi yang akhirnya justru kembali pada diri saya sendiri. Justru menguatkan diri saya sendiri, atau justru mengingatkan saya saat saya jatuh. Benar bahwa lidah itu bagai pedang bermata dua. Apa yang kita ucapkan tidak hanya berlaku bagi mereka yang mendengar, tapi juga bagi kita yang mengucapkan.

Aku memang bukan pribadi yang sepenuhnya kuat. Seringkali lemah dan rapuh. Tapi TUHAN selalu punya cara untuk menguatkan umatNya. Kadang justru saat kita lemah, TUHAN pakai kita untuk menjadi kuat dengan menguatkan saudara-saudara di sekitar kita. Puji nama TUHAN yang menjadi kekuatan kita. Maukah kita dipakai TUHAN menjadi alatNya?

.:tt:

Kamar kost, Mijil 35, 27.10.2009:23.13

Categories: Tuhan, hikmah

Masih ada orang baik di dunia ini…

September 10, 2009 yustha tt 14 comments

Judulnya panjang ya. Biarlah. Memang dalam satu kalimat itu inti dari tulisan saya kali ini. Ya. Saya mau bilang bahwa: Masih ada orang baik di dunia ini.

Cerita saya ini mungkin sederhana. Tapi karena rasa syukur saya sehingga saya ingin bagikan buat teman2. Ceritanya sore tadi saya ada acara buka puasa bersama di kantor pkl.16.00. Saya pulang dari kantor pkl.15.00, berniat mandi lalu berangkat ke kantor lagi. Tapi ternyata ada sedikit masalah di kost sehingga saya harus selesaikan masalah itu terlebih dahulu. Selesai itu saya bergegas mandi & berangkat. Saya hanya membawa 1 dompet berupa tempat handphone yang saya gantung di gantungan sepeda motor. Saya memacu sepeda motor dengan lebih cepat. Setelah hampir sampai kantor, saya melirik ke gantungan motor dan ya TUHAN!! Dompetku gk ada di gantungan!!! Ya Allah.. Semua-muanya ada di sana: hanphone 2 biji, sim, stnk, atm, uang, uang ‘organisasi’, beberapa kuitansi. Ya Allah……….

Saya memutar motor balik. Memeriksa sepanjang perjalanan yang saya lalui, berharap ada kantong kotak berwarna coklat tergeletak di jalan. Sepanjang jalan saya tak henti menyebut namaNYA, sambil gemeteran tentu saja. Saya teliti pelan2, terutama di polisi tidur & jalan berlubang. Sampai tiba kembali di kost, tak jua saya temukan. Saya ambil kunci kamar & tangan saya kesulitan memasukkan anak kunci ke lubangnya karna tangan terserang tremor hebat. Begitu berhasil, saya sapu setiap sudut kamar dengan pandangan, meski saya yakin betul bahwa dompet saya sudah tergantung di motor dan bukan tertinggal di kamar. Tentu saja saya tak menemukan yang saya cari. Ya Allah……

Dengan hati pasrah untuk kehilangan (lagi), saya berangkat lagi ke kantor. Puasa cukup mengingatkan saya untuk sabar. Ah,syukur padaMU ya Allah.. Pelan2 saya menuju ke kantor. Saya tanyai orang2 yang ada di pinggir jalan apakah melihat dompet terjatuh atau tidak. Tidak ada yang melihat. Sampai di polisi tidur berikutnya hendak saya bertanya di sebuah warung, bapak di warung tersebut mendahului bertanya: “mbak kehilangan sesuatu ya?”. Sedetik itu juga saya merasakan kelegaan dan melihat harapan. “Iya Pak,saya kehilangan dompet berisi hp, bla bla bla.” Bapak, Ibu, dan seorang pemuda yang ada di warung tersebut sangat mengerti kegelisahan saya. Beliau segera menyerahkan dompet saya dan meminta saya memeriksa kembali isinya. Puji Tuhan, alhamdulillah, syukur kepada Allah. Ucapan syukur meluncur dari mulut saya. “Terimakasih Pak, Bu, Mas.” tak henti2 saya ucapkan.

Ah,sungguh bersyukur saya kepada Tuhan bahwa Dia memiliki umat yang berhati baik, tulus, dan ikhlas membantu. Beliau bahkan sudah berniat mengembalikan dompet saya pada alamat yang ada pada dompet saya. Sungguh mulia niat beliau di zaman seperti ini. Semoga TUHAN melimpahkan berkat yang berlipat ganda pada Bapak sekeluarga. Semoga rahmat TUHAN senantiasa tercurah,terlebih di bulan ini, bulan yang penuh berkah.

Terimakasih TUHAN karna masih izinkan saya ‘merawat’ barang2 saya ini. Terimakasih terus ingatkan saya akan sebuah titipan yang setiap saat bisa diambil. Terimakasih terus ajarkan pada saya tentang kesabaran & keikhlasan. Terimakasih..

Masih ada orang baik di dunia ini. Dah hari ini saya telah buktikan…

.:tt:.
8.9.9

Rapuh..

August 27, 2009 yustha tt 11 comments

macro-1

detik waktu terus berjalan
berhias gelap & terang
suka dan duka, tangis dan tawa
tergores bagai lukisan

seribu mimpi, berjuta sepi
hadir bagai teman sejati
di antara lelahnya jiwa
dalam resah dan air mata
kupersembahkan kepadaMU yang terindah dalam hidupku

meski kurapuh dalam langkah
kadang tak setia kepadaMU
namun cinta dalam jiwa hanyalah padaMU
maafkanlah bila hati tak sempurna mencintaiMU
dalam dada kuharap hanya diriMU yang bertahta

detik waktu terus berlalu
semua berakhir padaMU

~opick: Rapuh~

Categories: Tuhan, hati Tags: ,

Dan W.S. Rendra pun sampai..

August 6, 2009 yustha tt 13 comments

6 Agustus 2009. 23:11

Saya tiba-tiba tersentak membaca status facebook seorang teman yang mengatakan bahwa seniman dan sastrawan Indonesia W.S. Rendra telah berpulang ke sisi TUHAN. Dua hari setelah sahabatnya, Mbah Surip, berpulang, dia pun menyusulnya.

Hidup itu misteri dan kematian datang seperti pencuri. Tak disangka dan tak ditunggu. Datang tiba-tiba tanpa kita tau kapan waktunya.

Kita semua ‘dulu’ adalah ’satu’. Lalu ledakan mencipta ruang, dan waktu mulai merayap. Sekarang kita sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah kita yang satu itu (Joan JT). Seperti antrian menuju ‘pintu rumah Tuhan’, kita semua sedang berdiri mengantri. Suatu saat semua kita akan sampai pada giliran. Hanya saja kita tak pernah tau pada antrian nomor berapa kita sekarang dan pula tak pernah tau kapan tiba giliran kita tiba di depan pintu, menerima panggilan untuk masuk rumah Tuhan.

Dan… Jika kita tau kita pasti sampai di ‘rumah kita dulu’ sementara kita tak pernah tau kapan tiba waktunya, maka hidup adalah bersiap, jika sewaktu-waktu kita menerima giliran masuk rumah Tuhan, sorga yang baka… Amin.

.:tt:.

Categories: Tuhan, hikmah Tags: , ,